Warung Bebas
Tampilkan postingan dengan label literary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label literary. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Maret 2012

bumi subur, laut kaya, otak padang pasir...

kita berdiri di bumi subur, dan laut kaya, tapi otak kita di padang pasir... beberapa kali, gerson poyk menyebutkan kalimat itu. apa artinya? kita terasing di negeri sendiri!

kenalkah anda dengan nama itu? coba tanyakan pada putera-puteri, teman anda atau diri anda sendiri. barangkali ada yang mengetahuinya. atau, jangan-jangan lebih banyak yang tidak mengenalnya. tidaklah heran bila demikian adanya. sekarang memang bukan eranya gerson poyk mirip nama ceko atau swedia?:D dulu sayapun berpikir beliau adalah penulis bule lagi. boleh jadi di mancanegara nama gerson poyk lebih berkibar.

siapakah gerson poyk yang merupakan salah satu pencetus 'manikebu'? ia dilahirkan di pulau rote, nusa tenggara timur, 16 Juni 1931, tidak jauh dari mercusuar kecil dekat pelabuhan. pernah mengabdi sebagai guru kemudian ia beralih menjadi wartawan sinar harapan 1963-1970. selepas menjalani karir sebagai wartawan, poyk menjadi penulis full time hingga kini. sampai sekarang? ya, sampai sekarang, buku terakhirnya adalah 'keliling indonesia, dari era bung karno sampai sby'. selain itu, poyk adalah peserta angkatan pertama dari Indonesia pada international writing program di iowa university, amerika serikat. hadiah adinegoro didapatnya dua kali pada 1985 dan 1986, dan sea write award diperoleh 1989.

sabtu kemarin, di tengah siraman hujan gerimis yang berangsur mengecil dan membesar lagi, saya beserta istri berkesempatan bertemu dengan gerson. sejatinya rumahnya mudah ditemukan tapi karena catatan alamat ketinggalan, jadilah kami bagaikan orang asing di tanah depok. jalan rumah gerson yang seharusnya bernama haji miun, kami tanyakan jadi haji muin. ada yang memberitahukan, alhamdulillah, dan semakin mendekati lokasi. bahkan, rumahnya sempat kami lewati. ketika kami bertanya dengan seorang bapak: oh pak gerson, itu rumahnya udah kelewatan.

sederhana. inilah kesan pertama ketika melihat rumah penerima penghargaan 'life time award' dari kompas. di sudut kanan halaman (bagai tak terurus) terserak bambu kuning yang baru ditebang. "saya tebang karena tumbuhnya merusak tembok tetangga," ujar gerson. sebuah meja dari akar pohon menjadi penghias utama yang ditemani kursi tamu a la kadarnya.

ruang tamunya juga sangat sederhana. sofa yang sudah lama belum berganti baju serta meja kayu menemani kami berbincang-bincang. "maaf ya saya sambil merokok," katanya mengawali pembicaraan sambil menyalakan rokok kreteknya. opa berusia 81 tahun ini kelihatannya perokok berat. habis satu batang, jeda sebentar disambung lagi dengan batang rokok yang baru. meski, kelihatannya, pendengarannya agak terganggu pembicaraan kami berjalan dengan lancar.

apa kegiatan gerson sehari-hari? "saya baru menulis tiga cerita pendek untuk mengasapi dapur," katanya sambil tersenyum. sampai sekarang ia memang masih selalu menulis dengan laptop. ia juga sedang merampungkan sebuah esei mengenai terorisme. selain menulis, gerson juga aktif berkebun. penyakit asam urat tidak mengurangi kegiatan berkebunnya. biasanya ia bersepeda menuju kebunnya yang disebutkan dekat sebuah situ di daerah raden saleh, depok. sayang karena hujan kami tak sempat bertandang ke kebunnya. "sekarang sedang panen pepaya california," ujarnya lagi. tak terasa hampir dua jam kami habiskan waktu untuk berbincang-bincang dengan penulis yang kondang di jamannya ini. oh, ya, gerson poyk kini juga mengelola yayasan trimedia yang menyelenggarakan sanggar creative writing dan jurnalistik serta menerbitkan karya-karya sastra.

adakah yang berminat menimba ilmu dari gerson? jangan ragu, kelihatan ia tak pelit untuk berbagi ilmu. mau menulis cerpen atau membuat puisi 'yang lahir dari hati', mengapa tidak berguru kepada sastrawan yang seangkatan dengan satyagraha hoerip ini.

Jumat, 27 April 2007

bertemu sang pemimpi...

nandandreaawalnya adalah mencari buku untuk persiapan nanda ujian es-de tahun depan. hasilnya bukan cuma buku latihan yang didapat tapi juga dua novel andrea hirata yaitu 'laskar pelangi' dan 'sang pemimpi'. kebetulan sekali novel-novel itu berlatar belakang pulau bangka dimana ibunya nanda sempat menghuninya sejak kecil hingga menjelang es-em-a. jadi 'nyambung'lah ceritanya bagai kilas balik masa kecil.

nah, rabu kemarin nanda diajak ibunya untuk mengikuti apresiasi reboan di fakultas ilmu pengetahuan budaya universitas indonesia. iseng-iseng saya bilang sama nanda: 'mas bikin ceritanya tuh nanti ayah masukin di blog'. eh, kemarin di meja ruang tamu ada tulisannya. silakan menikmati laporan pandangan mata nanda di peristiwa itu: tulisan
Suatu saat di hari senin, ibuku memanggilku. Ibu sedang baca koran. Rupanya ibuku melihat berita tentang jumpa penulis Andrea Hirata. Andrea Hirata sudah menulis novel laskar pelangi dan sang pemimpi.begitu aku dengan beritanya, aku sih nggak ‘surprised’ malah ibuku yang ngajak-ngajak. Acaranya hari rabu. Awalnya aku males dan ga’ tertarik, tapi akhirnya aku ikut saja.

Next, begitu hari rabu aku dan ibuku langsung pergi kesana. Tempatnya di FIB UI. Entah kenapa di sana kok ada foto yang gambarnya calon Presiden siswa. Akhirnya kita putuskan ke kantin FIB dulu. Di sana aku cuma makan z(2)(dua) suap. Haaabisss… kantinnya “kacau” dan… ah sudahlah ga usah dibahas.

Akhirnya acara dimulai juga. Andrea Hirata yang katanya “si ikal” sekarang tidak terlalu ikal. Pembicaraan dimulai oleh Pak Ibnu Wahyudi yang bicara ttg sang pemimpi dan laskar pelangi. Lalu juga ada omongan ttg spongebob square pants. Lalu Pak M. Yoesoef (yusuf) juga ngomong. Lalu akhirnya ada sesi tanya jawab. Yg pertama nanya Pak mamat (temen ayahku), mahasiswi, orang yang mau “ngebantai”. Yang terakhir nanya adalah ibuku. Andrea “ikal” Hirata bisa menjawab semua pertanyaan dgn baik. Wha! Good luck ikal!!
catatan dari ayahnya nanda: tulisan di atas tidak disunting, hanya diketik ulang dari tulisan tangannya (sebagian saya pindai seperti di sini).
 

Ganator Blog's Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger