Warung Bebas

Selasa, 18 September 2007

malu gak sih...

malumenurut kamus besar bahasa indonesia, yang dimiliki kantor tempat saya bekerja, salah satu arti kata malu adalah:
merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah, dsb) karena berbuat sesuatu yang kurang baik (kurang benar, berbeda dengan kebiasaan, mempunyai cacat atau kekurangan, dan sebagainya.
sementara ada pepatah lama yang sudah diplesetin mengatakan: malu bertanya sesat di jalan. banyak bertanya malu-maluin.

saya jadi ingat sebuah kejadian yang sudah berbilang tahun terjadi. kejadiannya di bulan ramadhan:
adalah bapak fulan yang jelas-jelas mengakui kalau ia tidak puasa. dan, kami pun menghargai pilihannya itu. tiba jam makan siang, pak fulan pun keluar mencari makan. tak lama ia keluar, ada telepon yang mencari dia. diberitahukan kepada si penelepon bahwa pak fulan sedang makan siang.

sekembalinya pak fulan dari makan siang, ia pun diberitahukan kalau ada yang meneleponnya. si penerima telepon mengatakan kalau pak fulan sedang makan siang. pak fulan serta merta senyum kecut. apa pasal? ternyata si penelepon adalah istrinya dan dari rumah ia mengatakan berpuasa. ah, pak fulan.
puasa di bulan ramadhan adalah wajib hukumnya, kecuali untuk hal-hal tertentu yang jelas-jelas diatur dibolehkan tidak puasa. lantas, malu gak sih sampai-sampai dibikinkan kain rentang seperti itu? atau rasa malu itu sudah tak ada lagi?

Senin, 17 September 2007

kalau datang semua malah...

bapak-bapak, remaja dan muslimin taman depok permai dan sekitarnya, dimohon kehadirannya di masjid al mujahidin untuk pengecoran terakhir menara masjid...
sejatinya pada malam ke dua sholat tarawih, ketua dewan kemakmuran masjid sudah mengumumkan kegiatan ini. halo-halo dari pengeras suara sore kemaren hanyalah pengingat agar para bapak yang tidak berhalangan berkenan hadir di masjid.

alhamdulillah, sinar mentari di pukul enam belas tidaklah terlalu terik. beberapa orang bapak sudah mulai mengolah bahan cor-an. ada yang mengaduk-aduk. ada yang menuangkan batu split. ada yang menuangkan pasir. ada juga yang bengong :d (yang ini mungkin pernah menjadi
mandor kontraktor). sementara pak ahmad, tukang insinyur asyik mengocok-ngocok botol bekas air mineral yang berisikan bahan untuk membuat cor-an lebih cepat mengering.

ketika tukang insinyur melihat adonan sudah khalis, maka ember-ember mulai beredar. dari tangan ke tangan dan akhirnya sampai di puncak menara yang menurut proposal tingginya 20 meter. oh, ya, para peserta kerja bakti ini sekitar duapuluhan orang saja. dan, ini merupakan penutup dari acara cor-mengecor yang telah dilakukan sebelumnya.

sementara soal biaya merupakan urunan dari warga kompleks. mau menyumbang berapapun pasti diterima. berupa uang ya syukur. kalaupun berbentuk material tidak menjadi masalah. ada cerita menarik soal dana ini. bukan bocoran. bukan pula gosip. katakan pak 'fulan satu' menyumbang sekian puluh juta. tapi tak mau disebutkan namanya. panitia keberatan kalau anonim karena jumlahnya cukup besar. akhirnya pak 'fulan satu' setuju namanya ditulis di daftar donatur.

kali lain, pak 'fulan dua' mendatangi panitia dan menanyakan dana yang sudah terkumpul. panitia menyerahkan daftarnya. dan, pak 'fulan dua' yang sudah menyumbang lebih dahulu, agaknya, tergerak hatinya demi melihat sumbangan pak 'fulan satu'. akhirnya, pak 'fulan dua' menyamakan jumlah sumbangan sebesar sumbangan pak 'fulan satu'. saya tahu pak 'fulan dua' bukanlah ingin sok-sok-an dan pamer manakala berbuat itu. ini lebih karena ia merasa 'malu' karena mampu tapi menyumbang tidak sesuai kemampuan.

kembali ke cor-cor-an. apa yang membuat pekerjaan ini terasa ringan (secara kami sedang menjalankan ibadah puasa), barangkali, adalah celetukan-celetukan segar dari bapak-bapak yang sudah tidak muda lagi itu. saling mengejek. atau siram-siraman air pakai selang (persis anak kecil main air :d). atau kaki yang ditimbun batu split. sementara ada juga bagian 'kompor' yang mengumumkan waktu berbuka yang katanya tinggal dua puluh menit, padahal magrib masih jauh.


semua tertawa. semua gembira. tak ada rasa lelah (padahal lumayan pegal juga sih :d). alhasil jam lima pekerjaan rampung. wajah-wajah cerah-ceria menghiasi sore yang semakin tua. tak semua warga memang yang datang. bahkan boleh dikatakan yang hadir adalah wajah yang itu-itu mulu. memakai istilah warga 'orang-orang masjid'. tak ada paksaan. tak ada keharusan. bukan pula kewajiban. siapa suka silakan datang. dan, kalau saja yang datang orang satu kompleks yang tiga ratus kepala keluarga itu, wah, malah rusuh kali ya.

Jumat, 14 September 2007

kelompok delapan atau titipin aja...

insya allah hari ini genap tiga hari nanda sholat tarawih di masjid. tahun kemarin nanda belum wajib ikut. tahun ini, karena pindah sekolah, nanda wajib mengikuti tarawih. dan, peraturannya bukan hanya harus tarawih di masjid tapi juga harus mendapatkan tanda tangan penceramah atau uztad yang memberikan siraman rohani. jadi ia harus membawa buku catatan (semacam log book) yang tinggal diisi dan ditandatangani pak uztad. di sekolah yang lama sebenarnya buku semacam ini ada. namun, tarawih dapat dilakukan di rumah dan orang tua yang menandatangani buku itu.

akhirnya (karena tanda tangan) ini menjadi sebuah keharusan. ia menjadi 'wajib'. mau tak mau harus dijalani. "iya dong, tarawih meskipun sholat sunnah tapi kan sangat dianjurkan," kata tetangga sebelah. "hitung-hitung latihan buat nanda," kata tetangga lain. latihan oke lah. tapi, kebiasaan di masjid komplek rakaat tarawihnya banyak. minimal duapuluh tiga termasuk witir. ditambah ceramah di awal tarawih, tidak kurang dari jam sembilan barulah usai. alhasil, sampai di rumah, nanda (dan anak-anak sebaya yang lain) sudah kelelahan.

sebenarnya ada cara 'kelompok delapan'. apa ini? tak lain dan tak bukan, sampai hitungan rakaat ke delapan keluar atau sudahi tarawihnya, dan witir tiga (atau terserah seberapa kuat) dilaksanakan di rumah. tapi cara ini jelas tidak mungkin diikuti nanda karena ia harus mendapatkan tanda tangan itu yang berarti harus mengikuti sampai selesai.

atau ada juga cara lain yang lebih heboh. tinggalkan saja buku itu di masjid. titipkan dengan marbot dan pak marbot akan dengan senang hati mengisikan buku itu. atau kalau kenal dengan ketua dkm atau kebetulan ortu anggota dkm kayaknya urusan tanda-menangani ini akan lebih mudah ya.

astagfirulllah. dimana berkahnya? tentu bukan begini cara mengajarkan agama kepada anak-anak. apa iya tanda tangan adalah bukti anak tersebut lebih oke urusan agamanya? apa tidak ada cara lain lagi? wallahu alam bi'shawab.

Kamis, 13 September 2007

bandung dan ta'jil...

"mas, jangan lupa kamis, 13 september kita ke bandung. berangkat dari kantor jam delapan," kata teman dari bina usaha. hah, kamis? itu kan hari pertama puasa. omg. tapi puasa ramadhan tentu tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak mengerjakan tugas. apapun yang terjadi 'the show must go on' beibeh. demi mengejar jam delapan, saya harus menggunakan taksi menuju kantor. alhamdulillah kurang dari jam enam saya sudah tiba di depan pintu pagar yang masih digembok. hari ini saya bikin rekor muri datang lebih pagi dari office boy.

secara hari pertama shaum, yang namanya matanya sepet-sepet minta ditutup. apalagi malamnya pulang larut juga. ya, sudahlah, namanya juga karyawan. ditunggu saja teman yang ngajak itu. dan, menunggu semua orang tahu merupakan pekerjaan yang paling menjemukan. dentang jam delapan berlagu, yang bersangkutan belum tampak hidung. setengah sembilan baru kelihatan. siap-siap. hore, jadi berangkat. sampai di depan, pak satpam lapor, mobilnya lagi diisi solar. lengkap sudah penantianku :d.

alhamdulillah. tol cipularang memang sangat menyingkat perjalanan. sekitar dua jam setengah kami sudah sampai di tujuan. oh, ya, itu tiket tol kok ya sampai licin tak bergambar lagi ya. teman saya juga pernah mengalami ini dan petugas tolnya bingung menanyakan teman itu masuk dari mana. kok ya ngono toh mas. selesai presentasi bla-bla, ya langsung kembali ke jakarta. kalau tidak sedang shaum ya wisata kuliner dulu dong. bandung gitu loh, masak dilewatin aja :d.
sempat masuk rest area buat dhuhur, kami tiba kembali di kantor jam tiga kurang.

setibanya di kantor di meja sudah ada kantong kresek putih. tidak salah lagi. ini pasti ta'jil dari boz. sudah bertahun berjalan kebiasaan ini ada. menunya jelas bukan untuk makan besar karena ta'jil memang diperuntukan membatalkan shaum. selama ramadhan jam kantor memang maju satu jam. tapi, itu adalah teori. praktiknya seperti hari-hari biasa saja. tak mengapalah, puasa janganlah dipakai untuk bermalas-malasan. atau alasan yang tak jelas. dan, menu ta'jil hari ini bisalah ditengok di sebelah.

Selasa, 11 September 2007

kasihan, sarapan di kantor...

jarak tempuh yang jauh antara rumah dan kantor kadang membuat karyawan tidak sempat sarapan di rumah. namun tak usah cemas atau takut kelaparan. alhamdulillah di sekitar kantor kami bertebaran banyak jajanan siap santap. bubur ayam dengan satenya (di ilustrasi sate tidak ada :d). nasi uduk. ketupat sayur (yang mangkal atau lewat). laksa, jangan bayangkan laksa cibinong yang kesohor itu ya. ketoprak. mi instan. mi ayam bangka. ketan urap. pisang goreng. kalau mau ke warteg juga tak masalah karena sudah beroperasi.

atau bila pilihannya junk food jam bukanya malah duapuluempat jam. kalau iseng bisa juga delivery order. (pasti iseng banget wong resto siap sajinya cuma sepelemparan batu). dari yang disebutkan itu, yang paling favorit adalah bubur ayam. barangkali pertimbangannya bukan karena harganya relatif murah tapi karena sarapan buryam cepat menimbulkan rasa lapar. dan, siangnya kan harus santap besar: nasi beserta teman-temannya.

namun siap-siaplah dengan sapaan bersahabat dari teman lain: kasihan amat sih lo, gak disediain sarapan sama orang rumah. atau, istrinya sarapan di kantor, suami mbak tadi sarapan apa?

buat saya sih, anggap saja angin lalu. daripada masuk angin tentu lebih baik masuk bubur ayam.

Jumat, 07 September 2007

maaf, (saya lebih mulia...)

yang minta maaf lebih dahulu,
dalam islam kedudukannya lebih mulia...
setelah pak fulan tampak punggung barulah saya sadar dengan ucapannya. dan, juga terpukau bengong. sayah jelas bukan ahli dalam masalah 'maaf-maafan' karenanya sayah bingung juga. entah dapat wangsit dari mana pak fulan bicara seperti itu. atau sayah yang 'kuper'.

secara pikiran gampang sayah, kalau seseorang melakukan kesalahan (apapun bentuknya, kata atau tindak)ya sudah seharusnya meminta maaf. tak perlu menunggu. tidak juga pakai imbuhan atau embel-embel apa-apa. tidak pula dilumuri pamrih apapun. urusan diterima atau tidaknya niat maaf kita, sepertinya, sudah sepenuhnya hak prerogratif sang khalik kan.

iya gak sih?

maaf pak fulan, omongan sampeyan saya kutip di sini. terima kasih sampeyan sudah mengajarkan saya. dan, menjelang shaum ramadhan 1428 hijriah, saya, istri dan nanda, dari lubuk hati yang paling dasar, mohon maaf atas segala kesalahan kepada para pembaca, baik karena posting-an yang ngawur atau komentar yang ngaco yang barangkali melukai perasaan. dan, insya allah shaum ramadhan kali ini lebih baik dari sebelumnya. amin.

Selasa, 04 September 2007

gak dipercaya lagi...

sekali lancung ke ujian,
seumur hidup orang tak percaya
++ kalau dipikir-pikir kejam sekali ya. masak sih gara-gara bikin salah sekali lantas tuh orang gak dipercaya lagi? seumur hidup pula.
-- itu kan cuma peribahasa.
++ iya sih. tapi sadis banget.
-- kalo gua pikir sih, perlu ada peribahasa seperti itu. dalam artian, biar orang gak seenaknya aja.

dikasih kepercayaan malah disalahgunakan. inilah yang kadang terjadi. sayang, karena ingin dikenal orang, segala cara jadinya halal. pengin ngetop tapi yang diambil jalan pintas. mengapa contoh seperti itu yang kau tiru?

jalanmu masih panjang bro, barangkali. tapi sudah kau goreskan tinta belang pada warna kehidupanmu. kami marah.
 

Ganator Blog's Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger