Warung Bebas
Tampilkan postingan dengan label business. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label business. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Desember 2011

pilih ikan atau kail...

berikan kail jangan ikannya. karena dengan kail, ia dapat memancing untuk mendapatkan lebih banyak ikan. tapi, ada yang iseng malah dibalik. berikan ikannya karena bisa dimakan. kalau diberikan kail nanti malah dijual. nah, mari kita belajar memancing lewat cerita andrie wongso...
Pada tepian sebuah sungai, tampak seorang anak kecil sedang bersenang-senang. Ia bermain air yang bening di sana. Sesekali tangannya dicelupkan ke dalam sungai yang sejuk. Si anak terlihat sangat menikmati permainannya.

Selain asyik bermain, si anak juga sering memerhatikan seorang paman tua yang hampir setiap hari datang ke sungai untuk memancing. Setiap kali bermain di sungai, setiap kali pula ia selalu melihat sang paman asyik mengulurkan pancingnya. Kadang, tangkapannya hanya sedikit. Tetapi, tidak jarang juga ikan yang didapat banyak jumlahnya.

Suatu sore, saat sang paman bersiap-siap hendak pulang dengan ikan hasil tangkapan yang hampir memenuhi keranjangnya, si anak mencoba mendekat. Ia menyapa sang paman sambil tersenyum senang. Melihat si anak mendekatinya, sang paman menyapa duluan. "Hai Nak, kamu mau ikan? Pilih saja sesukamu dan ambillah beberapa ekor. Bawa pulang dan minta ibumu untuk memasaknya sebagai lauk makan malam nanti," kata si paman ramah.

"Tidak, terima kasih Paman," jawab si anak.

"Lho, kalau diperhatikan, kamu hampir setiap hari bermain di sini sambil melihat paman memancing. Sekarang ada ikan yang ditawarkan kepadamu, kenapa ditolak?"

"Saya senang memerhatikan Paman memancing, karena saya ingin bisa memancing seperti Paman. Apakah Paman mau mengajari saya bagaimana caranya memancing?" tanya si anak penuh harap.

"Wah wah wah. Ternyata kamu anak yang pintar. Dengan belajar memancing engkau bisa mendapatkan ikan sebanyak yang kamu mau di sungai ini. Baiklah. Karena kamu tidak mau ikannya,paman beri kamu alat pancing ini. Besok kita mulai pelajaran memancingnya, ya?"

Keesokan harinya, si bocah dengan bersemangat kembali ke tepi sungai untuk belajar memancing bersama sang paman. Mereka memasang umpan, melempar tali kail ke sungai, menunggu dengan sabar, dan hup... kail pun tenggelam ke sungai dengan umpan yang menarik ikan-ikan untuk memakannya. Sesaat, umpan terlihat bergoyang-goyang didekati kerumunan ikan. Saat itulah, ketika ada ikan yang memakan umpan, sang paman dan anak tadi segera bergegas menarik tongkat kail dengan ikan hasil tangkapan berada diujungnya.

Begitu seterusnya. Setiap kali berhasil menarik ikan, mereka kemudian melemparkan kembali kail yang telah diberi umpan. Memasangnya kembali, melemparkan ke sungai, menunggu dimakan ikan, melepaskan mata kail dari mulut ikan, hingga sore hari tiba.

Ketika menjelang pulang, si anak yang menikmati hari memancingnya bersama sang paman bertanya, "Paman, belajar memancing ikan hanya begini saja atau masih ada jurus yang lain?"

Mendengar pertanyaan tersebut, sang paman tersenyum bijak. "Benar, kegiatan memancing ya hanya begini saja. Yang perlu kamu latih adalah kesabaran dan ketekunan menjalaninya. Kemudian fokus pada tujuan dan konsentrasilah pada apa yang sedang kamu kerjakan. Belajar memancing sama dengan belajar di kehidupan ini, setiap hari mengulang hal yang sama. Tetapi tentunya yang diulang harus hal-hal yang baik. Sabar, tekun, fokus pada tujuan dan konsentrasi pada apa yang sedang kamu kerjakan, maka apa yang menjadi tujuanmu bisa tercapai."

Senin, 28 November 2011

tempurungnya pun menghasilkan uang...

pernah lihat batok kelapa? bukan kepala ya. saat berangkat ke kantor acap saya melihat tukang kelapa parut dengan mesin. kalau di rumah biasanya kan menggunakan parutan kayu secara manual. nah, secara tidak langsung, sambil menunggu angkutan kota, saya memperhatikan aktivitas tukang kelapa itu. umumnya yang memeras (lebih pas disebut dengan memasukkan daging kelapa ke dalam mesin) adalah kaum hawa. oh, ya, para ibu ini ikut menguliti kelapa yang akan diparut.

sementara batok yang keras itu menjadi bagian para bapak untuk mengupasnya. ini bukan pekerjaan sembarang mengupas. diperlukan keterampilan khusus untuk melakukannya. salah mengupas bisa-bisa tangan yang terkena. hasil kupasan ini bukannya tidak bermanfaat. coba lihat karung-karung merah itu. isinya tak lain adalah pecahan tempurung kelapa. batok kelapa yang sudah dipecah-pecah ini akan dijadikan arang.

bagaimana pengolahannya? secara sederhana dilakukan seperti ini:
Batok Kelapa langsung dibakar diatas tanah, setelah menjadi bara, matikan api, biasanya dengan cara disiramkan air pada bara tersebut. Hasil arang dari cara ini, kwalitas arang kurang bagus karena arang banyak yang pecah-pecah dan mengandung kadar air tinggi.
cara lain yang lebih canggih dan beromzet miliaran adalah seperti ini:
Pengolahan tempurung kelapa menjadi arang dilakukan dengan cara pembakaran. Setumpuk tempurung kelapa dimasukkan ke dalam drum. Kemudian, tempurung kelapa dibakar. Setelah itu, tempurung kelapa yang belum dibakar dimasukkan lagi setahap demi setahap ke dalam drum.

Hal itu terus-menerus dilakukan sampai drum penuh dengan tempurung kelapa. Setelah penuh, drum ditutup dan seluruh batok kelapa di dalam drum mengalami proses pembakaran. Lambat laun, tempurung kelapa akan menjadi arang. Setelah dipisahkan dengan sampah- sampah hasil pembakaran itu, arang tempurung kelapa akan menjadi bahan baku produk arang inovatif yang akan diekspor ke pasar dunia.
kembali batok di pinggir jalan. banyak juga rumah makan (padang, terutama) yang menggunakan langsung pecahan tempurung itu untuk memanggang aneka makanan. konon, kabarnya, arang tempurung ini memberikan panas yang merata. dan, jangan dilupakan, jerigen biru itu. isinya tak lain dan tak bukan adalah air kelapa. kalau anda memintanya padahal membeli tentu akan diberikan. tapi kalau tidak meminta, air kelapa ini akan mereka simpan. salah satu kegunaannya adalah untuk membuat tempe bacem...

Rabu, 27 April 2011

subsidi buat si kecil...

malam-malam. perut keroncongan. di rumah lagi gak ada makanan atau malas masak? tidak usah bingung-bingung. selain, resto cepat saji yang beroperasi 24 jam, ada alternatif lain, yaitu angkringan. menurut wiki
Angkringan (berasal dari bahasa Jawa ' Angkring ' yang berarti duduk santai) adalah sebuah gerobag dorong yang menjual berbagai macam makanan dan minuman yang biasa terdapat di setiap pinggir ruas jalan di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Di Sala dikenal sebagai warung hik ("hidangan istimewa ala kampung").
dulu, barangkali, hanya jawa tengah, yogyakarta dan solo yang memilikinya. kini, di jakarta juga nampaknya mulai banyak angkringan. dekat auri, pancoran, jakarta selatan, ada sebuah akringan (demikian ditulisnya) dengan harga rata-rata dua ribu rupiah. angkringan -- di pagi hari tempat ini sejatinya tempat cuci mobil -- ini dilengkapi dengan free hotspot sehingga para pembeli dapat selancar di dunia maya.

dekat-dekat ke stasiun kereta api pasar minggu juga sudah ada angkringan berhotspot gratis. ke margonda, depok, tepat di pinggir jalan digelar juga tempat sejenis. berisiknya lalu lalang kendaraan dan asap knalpotnya tidak menjadi halangan buat para konsumen. saat saya lewat, biasanya selalu penuh dengan pembeli. di sini, kebanyakan pembeli adalah mahasiswa.


kenapa sih angkringan disukai? padahal menu yang dijual adalah makanan kampung tidak berarti kampungan, lho seperti aneka gorengan, sate usus ayam, sate telor puyuh, kripik, krupuk. sementara minumannya juga biasa-biasa saja, macam teh, jeruk, kopi, wedang jahe dan susu. oh, ya, yang ngetop di angkringan adalah nasi kucing alias sego kucing. disebut demikian karena porsinya untuk makan seekor kucing alias sedikit, dua atau tiga kali suapan habis sudah.

dekat kompleks perumahan saya, baru saja dibuka angkringan 'radjanya'. sego kucing dijual seribu lima ratus per bungkus sudah lengkap dengan tumis teri kacang. kalau tak kenyang satu sila tambah lagi. nasi bakar juga disediakan. minuman ya tinggal pilih mana yang suka. konsumennya kebanyakan para karyawan pabrik yang mampir sebelum giliran masuk malam. ada juga tukang becak, supir angkot dan orang rumahan yang 'iseng' pengin tahu apa sih sego kucing :D

berapa uang yang dikeluarkan untuk makan kenyang? tidak lebih dari tiga ribu perak sesuai dengan kantong karyawan pabrik. kalau dipikir-pikir, ini jadinya seperti subsidi buat orang kecil. keberadaan angkringan ini jadi sangat membantu. mudah-mudahan saja, bukan saja angkringan yang tumbuh tapi juga sarana lain yang ikut meringankan para orang kecil...

Rabu, 20 April 2011

tak sengaja melestarikan...

kemarin paman datang,
pamanku dari desa...
ingatkah anda judul lagu itu? atau, tahukah anda kelanjutan tembang itu? atau, tanyakan kepada putra-putri anda, barangkali, mereka malah tahu. kok bisa? kenapa tidak. karena itu lagu anak-anak? lagu anak-anak memang iya, tapi dari mana mereka tahu lagu itu?

dari sekolah? belum tentu karena kebanyakan pengguna odong-odong belum duduk di bangku sekolah. di sekolah pun, apa iya sekarang masih diajarkan lagu anak-anak jaman dahulu, macam 'ambilkan bulan', 'naik-naik ke puncak gunung' dan seterusnya. (si bujang oleh guru senbudnya malah diajarkan lagu kokoro no tomo. dan, dalam soal ulangan yang ditanyakan adalah lagunya justin bieber)

terus? diajarkan orang tuanya? tidak juga karena orang tuanya juga sudah tidak ingat atau tidak tahu sama sekali. lantas dari mana datangnya cinta eh, sumbernya? ternyata, setelah diselidiki, dari abang penjual jasa odong-odong, yang seringkali lewat sambil memutarkan lagu anak-anak. ah, mana mungkin. mengapa tidak? si abang, sangat boleh jadi, tidak bermaksud melestarikan lagu anak-anak. dalam benaknya, ya lagu-lagu seperti di ataslah yang pantas menjadi pengantar saat anak-anak bergoyang-goyang di atas sadel. semoga saja, si abang tidak lantas ikut-ikut-an latah dengan memutarkan lagu-lagu masa kini yang didengarkan anak-anak lewat radio atau televisi...

nb. masih penasaran sama lagu di atas? :D silakan klik ini

Senin, 13 Desember 2010

bawa bekal sendiri, ih...

bekerja di kantor yang dekat dengan aneka penjual makanan, tidak selalu memudahkan saya untuk memilih menu makan siang. kadang dalam seminggu kerja, perputaran menu ya balik ke itu-itu lagi. kalau tidak padang, ya betawi atau soto mi, tongseng, nasi goreng kambing dan ayam bakar, gado-gado. malahan sekarang alternatif menu berkurang dengan digusurnya amigos.

apa tidak ada alternatif lain? tentu saja ada: bawa dari rumah! what? bawa bekal makan siang dari rumah? lucu ah. kayak ibu-ibu aja. (sejatinya, ada beberapa teman yang membawa bekal. ada yang karena sedang masa pemulihan setelah sakit sehingga harus makan makanan rumah. atau dengan alasan lainnya.) tawaran ini datang dari istri saya. suatu siang, kami cit-cet, ngobrol macam-macam sampai urusan makan siang. "ayah makan siangnya apa?" tanya istri saya. lagi pengin makan yang berkuah makanya beli itu nama makanan sengaja tidak disebut untuk menghindarkan cap yang tidak-tidak :D. lanjut istri saya: "yah, kok makan itu sih. itu kan gini-gitu." ah, gak kok yang ini kelihatannya gak aneh-aneh, saya berusaha mengelak. tambahnya: "kapan ya ayah bisa bawa makan siang dari rumah?" kapan ibu bisa siapin aja. "kalo gitu, gimana kalo mulai besok?" oke, jawab saya.

duh, kebayang deh. bakalan ribet bawa-bawannya. harus beli tempat makan khusus pula. ah, lebay deh. kalau pengin keren memang bekal dibawa dengan ompreng khusus yang harganya tidak murah itu. daripada buang-buang uang, sayapun memilih menggunakan ompreng yang ada. ompreng yang suka dipergunakan nanda saat ia masih di sd. ompreng untuk nasi. dan, lauk-pauk? cukup dimasukkan ke dalam kantong plastik tahan panas. sederhana. gak pakai repot juga. tinggal dimasukkan ke dalam backpack, selesai, beres.

apa sih untungnya bawa bekal? salah satunya adalah tak perlu bingung mikirin menu makan siang. kebersihan makanan pastinya terjamin dong. tak pakai penyedap rasa pula. nasinya pun nasi merah (dicampur dengan nasi putih sebenarnya sih agar tak terlalu keras). empat sehat lima sempurna :D dan, uang makan siang bisa dialokasikan untuk yang lain, semisal beli camilan, gak deng.

tapi, di sisi lain, dengan membawa bekal, istri saya harus bangun lebih awal untuk menyiapkan semuanya. jatah istirahatnya, mau tak mau, dikonversi ke siang hari. bagaimanapun istri saya tetap memerlukan ruang untuk dirinya sendiri. apakah dengan berinternet (yang kadang, hasilnya guglingnya, semisal resep kue, juga untuk saya dan nanda) atau kegiatan yang lain. jazakillah, barakalah ya bu.

Senin, 22 November 2010

syaratnya selama persedian masih berlaku...

mau tidak mau. percaya tidak percaya. suka tidak suka. sejak bangun tidur hingga menjelang tidur, seakan-akan, kita dikepung oleh iklan. kata orang pinter: ada iklan yang bagus dan juga iklan yang jelek. semuanya bertujuan mengenalkan produk (berupa barang atau jasa). konsumen masa kini barangkali sudah lebih pintar daripada jaman baheula. tapi, tetaplah waspada, karena bahasa iklan amat sangat berbeda dengan bahasa hukum yang tidak dapat ditafsirkan macam-macam...
SAMSUDIN BERLIAN
Bahasa dan Iklan yang Menyesatkan
Kompas, Jumat, 19 November 2010

Iklan tentulah bagus untuk menekan harga serta memulai dan memperbesar usaha. Masalah muncul ketika bahasa iklan tidak lagi sekadar memperkenalkan atau memuji-muji barang dan jasa pengiklan. Ada beragam taktik yang banyak dipakai sekarang untuk menyesatkan pelanggan sehingga membeli barang atau jasa yang tidak sesuai dengan harapannya.

Obral dengan ungkapan up to atau sampai adalah salah satu yang paling umum dijumpai. Diskon up to 70% biasanya berarti bahwa dari 10.000 barang yang ditawarkan, ada 10 yang harganya dipotong 70 persen, 9.990 lagi dipotong kurang dari itu atau tidak sama sekali. Dalam banyak kasus, harga asli pun sudah lebih dahulu dinaikkan sebelum rabat. Ada lagi diskon 50%+20%. Pelanggan yang mengerti aturan penulisan dalam matematika maupun fisika untuk penjumlahan akan mengira ini 70%. Namun, yang dimaksud rupanya adalah 60%, yakni 50% ditambah dengan 20% dari 50%.

Begitu pula sambungan internet up to 1 Mbps—satu juta bit per detik—berarti kadang-kadang kecepatan unduh pelanggan akan mencapai angka itu, tetapi biasanya hanya separuhnya atau bahkan kurang. Apabila pelanggan mengeluhkannya, penyedia ISP selalu beralasan bahwa penyebab kelambatan itu ada di luar kekuasaannya atau kemungkinan besar masalahnya ada pada komputer atau kabel di dalam rumah pelanggan sendiri!

Pembuat perangkat komputer juga sering mencampuradukkan standar dunia komputer (biner atau basis-2) dengan standar metrik (desimal atau basis-10) yang berbeda. Misalnya, kalau Anda membeli cakram keras yang diiklankan sebesar 1 gigabyte (GB), yang Anda dapat biasanya bukan yang seharusnya 1.073.741.824 bytes (B), melainkan 1.000.000.000 B saja. Itulah sebabnya komputer Anda akan menunjukkan, kapasitas cakram keras itu hanya 0,93 GB, kurang 7 persen dari yang diiklankan!

Ada pula biaya tersembunyi atau tersamar. Banyak harga makanan restoran misalnya diiklankan tanpa biaya pajak dan tip wajib, service charge. Operator telepon genggam pandai beriklan tentang harga murah pulsanya, tetapi boleh dikata tidak ada yang menyatakan bahwa harga terendah biaya pemakaian telepon dibatasi oleh masa berlaku pulsa aktif. Apabila harga pulsa senilai Rp 10.000 berlaku selama dua minggu, paling tidak Anda tetap harus mengeluarkan uang sebesar itu setiap dua minggu, sekalipun operator menetapkan biaya panggil dan SMS Rp0!

Barang kemasan pun bisa dipakai untuk menipu. Isi semut kotak gajah. Belum lagi tawaran menggiurkan dengan ”syarat dan ketentuan berlaku” dan jangan lupa, hadiah menawan ”selama persediaan masih ada”.

Dalam banyak kasus, iklan menyesatkan tidak bisa dibuktikan. Namun, iklan berdampak menyesatkan karena memanfaatkan psikologi atau budaya pelanggan itu sehingga ia mengambil kesimpulan yang keliru, tetapi sesuai dengan kehendak pengiklan. Di sinilah peran perlindungan dari lembaga konsumen, DPR, dan pemerintah sangat diperlukan. Yang ini tak perlu studi banding sebab studi banding menyesatkan juga: ”jalan-jalan ke luar negeri dengan uang negara”.

SAMSUDIN BERLIAN Pemerhati Makna Kata

Rabu, 24 Maret 2010

jamu pangku...

jamunya mas... bu jamu ndak bu...

inilah sapaan khas. sapa seorang perempuan yang menggendong bakul bermuatan beberapa botol yang berisikan aneka jamu. (konon, jumlah botol yang dibawa menandakan status apakah sang penjual sudah menikah atau masih lajang). satu peralatan lagi yang selalu menyertai adalah ember kecil yang dimuati beberapa gelas kecil.


sejak kapan jamu gendong mulai dijajakan? saya belum menemukan data yang pasti. tapi pastinya sejak saya masih anak-anak hingga sekarang saya mempunyai anak, penjaja jamu gendong sudah berkeliling kampung. saya juga pernah mencicipi jamu ini. ikut-ikutan orang tua. saya paling suka minuman yang diberikan setelah meneguk jamu, karena rasanya manis.

obat tradisional asli indonesia ini, berasal dari tradisi kraton, belakangan populer dengan sebutan herba atau herbal. bahan-bahan pembuatnya juga alami, berupa bagian dari tumbuhan seperti rimpang (akar-akaran), daun-daunan dan kulit batang, buah. namun, ada juga menggunakan bahan dari tubuh hewan, seperti empedu kambing atau tangkur buaya. (jamu khusus sepertinya nih kalau yang menggunakan bagian tubuh hewan yah.)

oh, ya, ibu atau mbak jamu gendong ini, selain membawa botol-botol jamu juga membawa termos air panas dan telur ayam (katanya sih) kampung. loh, kok bawa termos segala? air panas digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumen akan jamu seduhan. karena tidak semua pembeli suka jamu botolan itu. telur? buat didadar, ya gak lah. buat campuran jamu seduhan itulah.

jamu apa saja yang dijual? umumnya ada delapan macam, yaitu beras kencur, kunyit asem, sinom, cabe puyang, pahitan, kunci suruh, kudu laos, dan uyup-uyup. masing-masing mempunyai khasiat tersendiri. misal, beras kencur dapat menghilangkan pegal-pegal pada tubuh. dan, seterusnya, silakan baca di sini.

dalam perkembangannya, jamu gendong ini tidak selalu digendong, kadang ada juga yang didorong pakai gerobak kecil. atau dikayuh bersama sepeda. mungkin untuk memperluas pasar. atau, menghindarkan pinggang pegal karena kelamaan menggendong bakul? entahlah. dan, sampai kapan akan bertahan di tengah semakin banyaknya jamu yang dikemas secara modern serta dipromosikan dengan gencar? (oh, ya, sebelum diprotes, jamunya tidak digendong tapi dipangku :D)

anda suka minum jamu?

Jumat, 26 Februari 2010

peradaban tukang bakso...

belajar tak harus di sekolah atau secara formal. pada siapapun. atau di manapun. kali ini, belajar peradaban dari tukang bakso...
Setiap kali menerima uang dari orang yang membeli bakso darinya, Pak Patul mendistribusikan uang itu ke tiga tempat: sebagian ke laci gerobagnya, sebagian ke dompetnya, sisanya ke kaleng bekas tempat roti.

“Selalu begitu, Pak?” saya bertanya, sesudah beramai-ramai menikmati bakso beliau bersama anak-anak yang bermain di halaman rumahku sejak siang.

“Maksud Bapak?” ia ganti bertanya.

“Uangnya selalu disimpan di tiga tempat itu?”

Ia tertawa. “Ia Pak. Sudah 17 tahun begini. Biar hanya sedikit duit saya, tapi kan bukan semua hak saya.”

“Maksud Pak Patul?” ganti saya yang bertanya.

“Dari pendapatan yang saya peroleh dari kerja saya terdapat uang yang merupakan milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan.”

Aduh gawat juga Pak Patul ini. “Maksudnya?” saya mengejar lagi.

“Uang yang masuk dompet itu hak anak-anak dan istri saya, karena menurut Tuhan itu kewajiban utama hidup saya. Uang yang di laci itu untuk zakat, infaq, qurban dan yang sejenisnya. Sedangkan yang di kaleng itu untuk nyicil biaya naik haji. InsyaAllah sekitar dua tahun lagi bisa mencukupi untuk membayar ONH. Mudah-mudahan ongkos haji naiknya tidak terlalu, sehingga saya masih bisa menjangkaunya.”

Spontan saya menghampiri beliau. Hampir saya peluk, tapi dalam budaya kami orang kecil jenis ekspressinya tak sampai tingkat peluk memeluk, seterharu apapun, kecuali yang ekstrem misalnya famili yang disangka meninggal ternyata masih hidup, atau anak yang digondhol Gendruwo balik lagi.

Bahunya saja yang saya pegang dan agak saya remas, tapi karena emosi saya bilang belum cukup maka saya guncang-guncang tubuhnya. Hati saya meneriakkan “Jazakumullah, masyaallah, wa yushlihu balakum!” tetapi bibir saya pemalu untuk mengucapkannya. Tuhan memberi ‘ijazah’ kepadanya dan selalu memelihara kebaikan urusan-urusannya.

Saya juga menjaga diri untuk tidak mendramatisir hal itu. Tetapi pasti bahwa di dalam diri saya tidak terdapat sesuatu yang saya kagumi sebagaimana kekaguman yang saya temukan pada prinsip, managemen dan disiplin hidup Pak Patul. Untung dia tidak menyadari keunggulannya atas saya: bahwa saya tidak mungkin siap mental dan memiliki keberanian budaya maupun ekonomi untuk hidup sebagai penjual bakso, sebagaimana ia menjalankannya dengan tenang dan ikhlas.

Saya lebih berpendidikan dibanding dia, lebih luas pengalaman, pernah mencapai sesuatu yang ia tak pernah menyentuhnya, bahkan mungkin bisa disebut kelas sosial saya lebih tinggi darinya. Tetapi di sisi manapun dari realitas hidup saya, tidak terdapat sikap dan kenyataan yang membuat saya tidak berbohong jika mengucapkan kalimat seperti diucapkannya: “Di antara pendapatan saya ini terdapat milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan.”

Peradaban saya masih peradaban “milik saya”. Peradaban Pak Patul sudah lebih maju, lebih rasional, lebih dewasa, lebih bertanggungjawab,lebih mulia dan tidak pengecut sebagaimana ‘kapitalisme subyektif posesif’ saya. oleh Emha Ainun Nadjib.

Senin, 22 Februari 2010

ada bajaj hingga busway...

KIOSNYA mefet dengan taman makam pahlawan di kalibata, jakarta selatan. hanya ada dua kios yang saling berdekatan. tapi yang satu ini kelihatannya buatannya lebih rapih. aneka mainan anak dengan bahan utama kayu, kebanyakan memang mobil-mobilan, ada di situ. ada miniatur bajaj, bus, truk, tak ketinggalan busway, eh, bus trans jakarta. ada juga kuda-kudaan. kadang dijajakan juga kitiran angin dengan petruk yang sedang mengayuh pedal seolah-olah menggerakkan kitiran itu. harga? silakan tawar-menawar.

Rabu, 27 Januari 2010

serba seribu, dulu...

SERBA seribu rupiah. tapi itu mah dulu om dan tante, sekarang sih gunting kuku aja dua rebu perak. jualannya lumayan lengkap loh meski kebanyakan untuk kaum hawa. ada pelentik bulu mata, aneka sisir, ikat rambut, cotton buts, kapur anti kacoa, jepit rambut, lem korea serba guna, jarum pentul, peniti, gunting dan lain sebagainya. berpindah dari metro yang satu ke metro yang lain, si abang lelah juga nampaknya. beruntung, alhamdulillah, tadi metro yang saya tumpangi kosong, jadi ia dapat merebahkan kepalanya sejenak. tak lama ia pun turun dan menaiki metro lain...

Selasa, 26 Januari 2010

kerupuk tidak terpuruk...

MENURUT daring atau KBBI online, kerupuk adalah makanan yang dibuat dari adonan tepung dicampur dengan lumatan udang atau ikan, setelah dikukus disayat-sayat tipis atau dibentuk dengan alat cetak dijemur agar mudah digoreng. sepertinya, definisi ini cocoknya untuk kerupuk udang. sementara yang ingin saya dongengkan adalah kerupuk putih.

meski kerupuk putih sering dibilang kerupuk ikan tenggiri, rasanya sih itu cuma sekadar merek. karena rasanya paling banter ya asin. sebagai teman makanan, kerupuk putih menjadi pilihan yang pas. (dulu, malah, di kantor ada kaleng kerupuk yang secara berkala diisi ulang oleh tukang yang kebetulan mempunyai langganan warung makan di sekiltar kantor.) semisal, mi instan, soto mie, soto ayam, atau nasi goreng. tentu saja tidak semua makanan lantas cocok dipadu dengan kerupuk. ambil contoh steak atau spaghetti.


tapi, kami, di kantor, punya kebiasaan yang agak aneh. anda tahu kan yang namanya rujak buah atau rujak ulek. kebetulan, tukang rujak langganan, kalau bikin bumbu rasanya pas. dan, biasanya kami dikasih lebih. nah, kelebihannya ini biasanya kami habiskan dengan kerupuk putih itu. belum pernah mencoba? coba deh, sensasi rasanya... hmmm. selain itu, kerupuk putih ini di bulan agustus meningkat penjualannya karena dipakai untuk lomba tujuhbelasan.

dulu, kerupuk putih dibawa oleh penjualnya dalam kaleng besar berbentuk silinder. dipikul ke sana, ke mari. sayang dicari-cari gambarnya belum ketemu. jaman berubah. waktupun bergulir. kaleng bundar itu tidak dipakai lagi. mungkin karena tidak mobile. sebagai gantinya ada yang menggunakan alat angkut semacam tukang roti. dan, ada juga yang menggunakan sepeda seperti gambar di atas.

apapun kendaraannya atau alat angkutnya, kerupuk tetap kerupuk dengan rasa yang khas. makanan rakyat kebanyakan yang kadang mampir di meja makan gedongan...

Minggu, 17 Januari 2010

balon gas, sampai kapan bertahan...

balon gas. senang hati rasanya melihat tukang balon gas. saat si abang mengisi tabungnya dengan karbit dan air, lalu ditekannya dengan linggis agar terjadi percampuran yang sempurna untuk menghasilkan gas. kemudian ia mengambil balon. memasukkannya ke ujung kran tempat gas. ketika kran dibuka, balon pun membesar. adakalanya balonnya pecah... tapi itu cerita dulu. kini,
masa kejayaanya sudah meredup. paling-paling balon gas ramai digunakan menjelang penerimaan mahasiswa/siswa baru alias plonco, pembukaan gedung, peresmian acara olahraga atau yang sejenisnya. daerah penjualannya pun makin ke arah pinggiran kota. dan, agar tak benar-benar habis dari peredaran, tukang balon gas pun harus mengikuti perkembangan jaman. sepeda tetap ada, tabung gas juga masih dibawa tapi balonnya sudah beda.

Senin, 11 Januari 2010

penjual dan pembeli: sama-sama melanggar aturan...

tukang gorengan, sayur, buah, makanan, minuman, sandal jepit dan aneka mata dagangan lain yang bisa digelar di atas lahan minimalis umumnya disebut pedagang kaki lima atau istilah kerennya sektor informal. (sering juga disebut sebagai katup penyelamat yang menggerakan ekonomi di sektor riel. meski kelihatannya usaha kecil, perputaran uang di sini tidaklah kecil). tak ada atau tak diperlukan ijin usaha untuk memulai kegiatan ini. modal yang diperlukan antara lain, selain uang, adalah kerja keras, pintar mencari lokasi. kalo mata dagangannya sama? rejeki kan gak bakalan ketuker.

salah satu lokasi yang banyak diminati para pkl atau pedagang kaki lima adalah daerah pasar minggu, jakarta selatan, terminal bus dan setasiun kereta api. di dalam terminal kita bisa menemukan tukang buah, sayur-sayuran dan aneka lainnya. sebelum tahun 98, kala malam hari, terminal tidak bisa dilalui angkutan umum. tapi pagi hari selepas pukul tujuh, pedagang yang coba-coba menutup jalan, siap-siap saja dagangannya berantakan ditertibkan kamtib. setelah tahun 98, mungkin masih hangat-hangatnya reformasi, keadaan terminal malah parah. siang maupun malam terminal tidak bisa dilewati bus atau mikrolet. tapi, sekarang, dari dua jalur yang ada, satu jalur masih bisa digunakan kendaraan umum.


kalau dulu yang menertibkan para pedagang adalah kamtib, kini penertibnya adalah satpol pp alias satuan polisi pamong praja. alasan penertiban adalah: mengganggu ketertiban umum. kini selain satpol pp ada juga papan pengumuman dilarang berjualan bagi
"setiap orang atau badan dilarang berdagang, berusaha dibagian jalan/trotoar, halte, jembatan penyeberangan orang dan tempat-tempat diluar ketentuan..."
dan, jangan lupa, anda (termasuk saya) juga dilarang membeli pedagang barang dagangan pedagang kaki lima. ada sanksinya loh: denda hingga dua puluh juta rupiah.

Senin, 28 Desember 2009

resolusi terompet...

menjelang akhir tahun, salah satu, yang ramai adalah membuat solusi. seribu satu macam solusi diungkapkan. mulai di blog, facebook atau twitter semua ada. mulai dari pengusaha, pelajar, pekerja, blogger hingga politikus membuat resolusi. "saya pengin itu..., gua mau ini..., pokoknya tahun depan harus gini..., gak boleh ada lagi..., pengin berhenti...," dan lain sebagainya. satu orang barangkali membuat sekian resolusi. daftarnya bisa panjang sekali. membuat resolusi apa pun tentu sah-sah saja. yang jadi masalah, kalau boleh dibilang demikian, resolusi di tahun kemarin sudah tercapai belum? atau, bikin resolusi sekadar ikutan teman?

di akhir tahun, saat almanak akan berganti, yang juga ramai adalah tukang terompet. benda yang bahannya dominan dari kertas ini seakan sudah menjadi barang wajib untuk kegiatan tahun baru. di pasar, terminal, pinggir jalan, waserba, dijajakan aneka macam terompet. para penjualnya kebanyakan pedagang dadakan yang pekerjaan sehari-harinya tak ada hubungannya dengan terompet. banyak juga yang datang dari desa menuju ibu kota untung mengadu nasib. tahun ini, kelihatannya yang lagi mode adalah model naga. semua penjual terompet yang saya sempat lihat, memajang jenis itu. dengan mata dagangan yang sama, persaingan di sini begitu ketatnya. namun, yang namanya rejeki kan sudah diatur sama gusti Allah. mudah-mudahan saja, malam tahun baru tidak disirami hujan yang membuat para pedagang lari terbirit-birit untuk menyelamatkan naga, eh, terompetnya. dan, semoga resolusi anda tidak melempen disiram air hujan...

Senin, 14 Desember 2009

andai aku mati...

andai aku mati
ah, mati tentu bukan berandai-andai
aku pasti mati
juga anda semua
cuma tak tahu waktunya kapan datang
mati, memang, tak perlu ditakuti
siap atau tidak siap dia pasti menjemput
tapi aku bukanlah manusia suci
yang steril dari debu noda dan dosa
masuk surga rasanya tak pantas
tapi aku juga takut panasnya api neraka
ah, semoga rasa sakit fisikku
bisa menjadi kafarat
untuk kehidupan di akhirat
amin...
saya kutip dari seorang pengamen puisi. yah, pengamen di angkot sekarang ini bukan cuma bawa gitar atau biola. ada juga yang membawa gulungan kertas atau buku tulis. nah, pengamen yang satu ini rada sangar. badannya mirip binaragawan. bertato pula. tapi, sikapnya santun. tidak memaksa penumpang agar memberikan uang. dikasih terima kasih. tidak dikasih tak menjadi masalah. dan, satu lagi, janganlah menilai apakah puisinya bernilai sastra atau tidak. nikmati saja apa adanya. jadikan saja itu hiburan di tengah kemacetan.

Selasa, 24 November 2009

minyak oh minyak...





MINYAKKK... teriakan khas ini diulang-ulang si bapak ketika menjajakan dagangannya. dulu, iya dahulu, ia menggunakan gerobak dengan 10 jerigen. kini dengan adanya program konversi minyak tanah ke gas, si bapak menggunakan sepeda. dagangannya pun menjadi terbatas, hanya dua jerigen.

Senin, 19 Oktober 2009

terkaget-kaget di pasar kaget juanda...

kredit motor di pinggir jalan? iya betul. bila anda melalui jalan ir. h. juanda – yang menghubungkan jalan margonda dengan jalan raya bogor – kemudian masuk menuju jalan tembus menuju depok 2 tengah, di pinggir jalan ada satu dealer sepeda motor yang memajang barang dagangannya di atas mobil bak terbuka.

ada barang lain? jangan khawatir. di pasar kaget juanda, yang hanya muncul setiap hari minggu, anda nyaris bisa menemukan segala barang. makanan (benar-benar memanjakan perut. dari gudeg sampai dimsun, bubur candil sampai lopis padang, ketoprak sampai mie ayam semua tersedia), minuman, pakaian, buah-buahan, ikan hias, alat pancing, helm, semir ban, pengkilap velg, dan yang lain-lain.


kegiatan di pasar kaget ini sudah dimulai sejak subuh hingga menjelang tengah hari. di pasar – yang konon muncul sejak tahun 2006 dan beberapa pedagangnya mantan pedagang dari kampus ui, depok – tumplek bleg segala rupa. ada yang berajojing, eh, jogging, cuci mata, putar-putar dengan sepeda motor. selain pedagang yang mangkal di pinggir jalan, ada juga pedagang keliling dengan mobil. dilengkapi pengeras suara, sang pedagang menjual obat penghilang kutil dan segala macam urusan kulit seperti kudis, kurap, panu dan saudara-saudarinya.

keberadaan pasar kaget ini boleh dibilang mengganggu ketertiban, apalagi jalan juanda itu mempunyai embel-embel 'kawasan tertib lalulintas'. di pagi hari ketika pasar mulai menggeliat, jangan harap anda bisa leluasa melalui sepenggal jalan ini. berjalan kaki saja sudah susah. motor pun harus bergerak perlahan. mobil ya lebih pelan lagi. karena selain berniaga di pinggir jalan seperti trotoar, jembatan pun sudah diokupasi juga. minggu kemarin ketika saya beserta istri dan anak melintas di situ, ketika jam sudah menunjukkan angka sebelas, masih rada susah untuk berjalan.

akhirnya memang jadi serba salah. kalau dilarang, mematikan orang yang ingin mencari nafkah dengan halal. tidak dilarang, yah keadaannya seperti tak ada aturan. kalau trambtib salah bertindak bisa-bisa jadi chaos. berdagang dengan tertib tidak mengganggu lingkungan tentunya dapat dilakukan. sayang kalau pasar kaget ini juga hilang karena ia membuka lowongan pekerjaan selain juga jadi perputaran ekonomi non-formal. boleh jadi, dalam hitungan jam saja uang yang berputar di situ puluhan bahkan mencapai ratusan juta.

Senin, 15 Juni 2009

ada yang besar, yang kecil juga...

nama besar. modal besar. pengin bikin apapun tak menjadi masalah. sementara yang modalnya kecil hanya duduk ikut menonton. keadaan kontras seperti ini saya lihat kemarin di pasar agung depok...

sebuah merek susu yang kondang sedang berpromosi. di embel-embel-i 'fair' segala. sebuah panggung (rendah) kecil dengan dua orang pembawa acara terus-menerus meneriakkan promo berhadiah barang-barang elektronik. cukup belanja dua puluh lima ribu rupiah bapak dan ibu berkesempatan memenangkan dvd player, tv dan lain-lain. kebetulan, saat itu, ada seorang ibu yang beruntung mendapatkan dvd player. senang bukan kepalang si ibu, untungnya ia tak pingsan ketika disebutkan mendapatkan hadiah itu. bukan cuma teriak-teriak lewat pengeras suara berdaya besar, para pengunjung pasar pun dihibur dengan organ tunggal dan penyanyi dangdut.


sementara di bawah tangga, satu keluarga minus bapak, menjajakan mainan sayang anak bola-bola sabun. tak ada speaker. apalagi organ tunggal. teriak pun tidak. sang bocah (awalnya saya kira seorang pembeli mainan itu) asyik meniup-niup membuat bulatan sabun. si ibu juga tak bersuara. tidak juga menawarkan dagangannya kepada para calon pembeli yang lalu lalang di situ.

ia bagaikan dagang tak berdagang. pasrah? entahlah. barangkali dalam benaknya, kalau memang orang mau membeli ya pasti membeli. ditawar-tawarkan tapi gak mau beli kan percuma juga. mungkin ada benarnya, karena dilihat dari dagangannya sudah banyak yang berkurang dari tempat gantungannya.

dan, di seberangnya dua wanita muda terus berteriak...

Selasa, 28 April 2009

mau jual motor...

bosan dengan motor yang anda pakai? pengin ganti warna? atau ganti merek? anda mau jual motor? tak perlu repot. tak usah bingung. hubungi saja bapak sholeh. nanti ia akan mendatangi rumah anda. pembayaran diterima di rumah anda. menyenangkan bukan? inilah kemudahan baru yang ditawarkan bagi mereka yang butuh uang (dengan cara menjual motornya). tapi, yang menjadi pertanyaan mengapa iklan luar ruang itu diletakkan di bagian bawah tiang listrik. apakah pertimbangannya agar mudah dilihat para pengendara sepeda motor? boleh jadi begitu adanya. tapi boleh jadi juga ini hanya kreativitas tukang tempel yang belum tentu diketahui pak sholeh.

Senin, 20 April 2009

toko tumpukan buku...

dengan buku kita menambah wawasan. lewat buku juga kita memperluas jejaring. melalui buku pula banyak hal lain akan didapat... tapi tentu saja bukan semua jenis buku bermanfaat. bagaimanapun kita tetap harus memilah-milah sesuai kebutuhan...

itu dari segi isi. dari segi harga akan lain ceritanya. sudah menjadi rahasia umum kalau harga buku di (indonesia terbilang) mahal. ini berlaku untuk buku lokal. terlebih lagi buku impor, dimana importir buku (mungkin toko buku besar atau penerbit) menggunakan kurs sendiri yang harganya jauh diatas kurs pasar. salahkah mereka? menyangkut bisnis atau usaha. boleh jadi, hal ini sah-sah saja adanya.

lantas dimana bisa didapat buku murah? tapi masih dalam keadaan bagus alias layak baca? di lapak buku. lapak? itu kan tempat ngumpulnya buku bekas. tidak. tidak selamanya lapak buku hanya berisikan buku bekas. seperti yang ada di jalan tole iskandar-depok ini (mudah dicari, gampang ditemukan. dari jalan raya bogor lazim disebut simpangan depok lebih mudah didatangi. kalau dari margonda, pilihlah arah ke simpangan depok. di daerah margonda, dekat kober, kalau saya tak salah ada juga lapak seperti ini). meski ada papan nama 'toko buku' janganlah dibayangkan toko buku seperti di mal atau pusat-pusat perbelanjaan.

bagi yang belum pernah (atau terbiasa ke sini) mungkin akan bingung dan mengira ini hanya lapak buku untuk dikilo-in. padahal kalau mau masuk ke dalamnya dan bertanya buku-buku pelajaran dari tingkat sd hingga perguruan tinggi. buku baru atau lama? anda mau yang baru atau yang lama? :)-. dua-duanya ada. kalau ingin menjual buku-buku bekas yang sudah tidak dipakai lagi bisa juga ke sini (tapi kalau bisa di'waris'kan kepada yang membutuhkan tentunya akan lebih baik. ke sekolah, misalnya).

soal harga bagaimana? dijamin lebih murahkah? sebaiknya anda window shopping dulu di toko buku atau gugling saja secara online sehingga mendapatkan patokan harga. setelah sampai di 'toko buku' ini silakan tawar-menawar dengan pemiliknya. saran saya, jangan hanya melihat dan lantas menyimpulkan buku yang dicari tidak ada. belum tentu seperti itu. tanyakan dulu, sangat boleh jadi buku yang anda cari ada di tumpukan paling bawah. (seperti nanda yang mencari majalah game, tinggal bilang dan akan dibawakan setumpuk yang bisa dipilih)

berminat? silakan... gambar lainnya dapat dilihat di sini.
 

Ganator Blog's Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger