Warung Bebas
Tampilkan postingan dengan label government. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label government. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Maret 2012

naik-naik ke pohon...

siswa-siswa ini kok tidak belajar. lagi jam istirahat kok makanya mereka bermain-main di luar. kebetulan di halaman ada pohon cherry. tiga anak kelas 3 sd di depok inipun seakan berlomba memanjat pohon cherry untuk memetik buahnya. berbahaya? tentu saja. kalau sudah tahu begitu kok malah dilakukan. mengapa mereka tidak main di halaman sekolah?

ternyata, sekolah murid-murid ini sedang direnovasi. untuk sementara siswa-siswi kelas 1 sampai kelas 3 dipindahkan ke sebuah gedung yang difungsikan sebagai sekolah. jadi, janganlah heran kalau bangunan itu tidak mempunyai tempat bermain. sebagai gantinya mereka panjat-memanjat pohon. sementara mereka yang duduk di kelas 4 sampai kelas 6 dititipkan di sebuah SD negeri terdekat.

sejatinya mereka sudah dapat menempati gedung yang baru, tapi -- menurut rumor -- akibat ulah oknum pemborong yang memboyong dana pembangunan untuk dirinya sendiri, renovasipun terhenti. pihak sekolah angkat tangan dan menyerahkan kepada para orang tua bila ingin berunjuk rasa. lepas tangan? entahlah. yang pasti suasana belajar tidaklah senyaman di sekolah yang sebenarnya. bayangkan juga siswa-siswi kelas 6 yang akan ujian nasional. dan, perpindahan sementara ini juga membebani para orang tua karena mereka harus mengeluarkan biaya tambahan untuk transportasi...

Minggu, 26 Februari 2012

rokok berbahaya, itu kan cuma mitos...

ibarat berkoar-koar di padang pasir. begitulah kalau kita berteriak kepada para perokok untuk menghentikan kebiasaannya merokok. ada yang berhenti, ada juga yang menjadi generasi penerus seperti di gambar sebelah...

peringatan di bungkus rokok yang sejatinya merusak desain itu :D tak pernah diambil pusing. ah, itu kan hanya sekadar kumpulan kata. atau, barangkali, perlu mengikuti yang di manca negara, seperti di brazil, yang langsung memperlihatkan dampak yang ditimbulkan.

begitu pula dengan peringatan di ruang-ruang publik yang nyata-nyata melarang orang untuk merokok bagaikan angin lalu. di angkutan umum? sama saja. siapa yang berani menegur atau melarang pak pengemudi dan kondektur untuk mematikan rokoknya? alih-alih dimatikan bisa-bisa sang penumpang diminta turun. begitu pula kalau kita menegur penumpang sama saja. meski ada juga yang langsung mematikan rokoknya ketika ditegur. anehnya, dan, nyatanya, justru mereka yang muda usia yang ditegur baik-baik malah jadi sungkan. sementara yang lebih tua atau tuaan malahan marah-marah kalau ditegur.

bagi kebanyakan orang indonesia, bahaya merokok boleh jadi terdengar seperti mitos belaka: "si fulan sudah bertahun-tahun merokok malah sehat-sehat saja" atau "merokok atau tidak, kita pasti mati juga". semua peringatan akan bahaya merokok akhirnya tenggelam oleh pesan-pesan yang lebih gencar dan dibungkus sedemikian menariknya di berbagai media. mereka meneriakkan: kesan jantan, gaul, modern dan lain sebagainya.

bagaimana dengan pemerintah? cukai rokok merupakan salah satu pemasukan bagi negara. membangun dengan asap rokok?. meski ada kementerian kesehatan yang berurusan dengan rokok, ada juga perwakilan rakyat yang membuat undang-undang tentang rokok. semua seakan tidak ada artinya. di pihak lain ada  aliansi masyarakat tembakau indonesia yang memosisikan diri:
sebagai suatu wadah perjuangan bagi petani tembakau, cengkeh, pekerja, konsumen, peritel, asosiasi, maupun pabrikan rokok dalam rangka melestarikan industri tembakau Indonesia yang berkualitas
dan, ada juga masyarakat peduli kesehatan akibat dampak rokok yang mempunyai misi:
Menjadikan masyarakat Indonesia terbebas dari resiko akibat dampak negatif dari rokok. 
entah sampai kapan, tarik-menarik kepentingan ini terus berlangsung. atau ingin menunggu seperti non smoking area itu? wallahualam bi'shawab...

Rabu, 22 Februari 2012

made in england, loh...

GAK nasionalis? usahlah kita langsung melabeli sesuatu dengan cara spontan. ini kan hanya urusan sebilah besi bermotif tikar berwarna kuning di jalan margonda-depok. lazimnya benda itu disebut 'polisi tidur'. barangkali yang membuat ia disebut tidak nasionalis adalah tulisan 'made in england' pada tubuhnya. impor dong? tentu saja, harganya pun hanya rp 50 juta per buah (atau per keping ya?)

mengapa sih harus impor? kok ya untuk urusan polisi tidur kita harus membuang-buang devisa. apakah kita tidak mampu membuatnya? kita kan sudah mampu membuat kapal terbang. mobil nasionalpun kita pernah memiliki, meski buatan korea. biar lebih mudah dan tidak mengganggu kendaraan yang lewat, semisal harus dicor seperti di jalan-jalan perumahan? 

katakanlah demikian adanya. kok ya tetap aneh ada polisi tidur di jalan raya alias jalan utama. sejatinya ada keputusan menteri perhubungan nomor 3 tahun 1994 mengenai pembuatan polisi tidur, yang salah satunya adalah "polisi tidur ditempatkan pada jalan di lingkungan pemukiman".

siapakah yang harus bertanggung jawab? pemkot depok atau dinas perhubungan pemkot depok?

Senin, 13 Februari 2012

ditindak? ah, cuek aja deh...


    
dari tahun ke tahun ternyata tidak ada perubahan. alias jalan di tempat. kain rentang dengan ancaman ternyata tidak membuat jera para pelaku trek-trek-an. mereka kembali dan kembali lagi.

dari tahun 2008 sudah ada peringatan itu. tahun 2009 peringatan malah lebih keras: jangan ambil resiko, urusannye bisa berabe!!! di tahun 2012, malahan polisi, tentara, pemda dki dan yang lainnya ikutan di situ.

entah apa ada yang di benak mereka? jelas-jelas apa yang mereka lakukan bukan hanya membahayakan diri mereka tapi juga orang lain yang tidak ada hubungannya dengan trek-trek-an. mereka juga sadar bahwa jalan bukanlah arena balap. entah sudah berapa banyak korban yang jatuh.

yang mengerikan spanduk serupa juga ada di dekat kantor dpp pdip, lenteng agung. bearti, kegiatan ini bukannya berkurang melainkan meluas.

Jumat, 09 Desember 2011

busway, eh, bus transjakarta juga ada kok...

masihkah anda menyimpan mainan saat bocah dulu? wah, itu kan sudah lama sekali... mana ada yang disimpan... tapi, anda pasti ingat mainan yang pernah dimiliki. saya juga masih ingat manakala si bujang masih bocah dan kami, kebetulan, pergi ke pusat perbelanjaan, saya dan ibunya harus rela menunggu si bujang melihat-lihat mainan. kadang bisa seperempat jam atau setengah jam. adakalanya saya juga ikutan lihat-lihat sementara ibunya berbelanja. dan, tentu saja mainan yang diperhatikan si bujang rata-rata adalah mainan impor seperti robot-robotan, mobil-mobilan.

lantas bagaimana dengan nasib mainan lokal? bagaikan antara ada dan tiada. padahal banyak mainan yang sejatinya dapat dibuat sendiri. semacam mobil-mobilan dari kulit jeruk bali. atau, peletokan. namun, sayangnya, keterampilan untuk membuat mainan sendiri tidaklah diturunkan ke anak-cucu. barangkali juga karena ketiadaan bahan. atau, sudah dianggap kuno.

nah, di jalan raya pasar minggu, di sepenggal tanah taman makam pahlawan kalibata ada dua produsen sekaligus penjual mainan anak-anak berbahan dasar kayu. entah apa hubungan para penjual ini dengan pengelola(?) tmp. bisa-bisanya mereka menempati area itu bertahun lamanya. tanpa ada yang mengusik.. kebanyakan mainan yang dijual berupa mobil-mobilan. ada juga kuda-kuda-an yang kalau dinaiki akan bergoyang-goyang. selain mobil tanker pengangkut bbm, ada juga truk, bus malam dan rupanya para penjual ini update dengan jenis mobil yang baru keluar maka kita bisa mendapatkan bus trans jakarta di situ. bagi yang suka kitiran mereka juga menyediakannya. tak ketinggalan bmw alias bajaj merah warnanya :D

malah, eh, mahal gak sih harganya? sebagai mainan yang semuanya diproduksi manual, rentang harganya 35 ribu rupiah hingga 300 ribu. mahal? relatif. anda berminat dengan mainan dari kalibata yang sempat mendunia ini? jangan ragu datang saja ke sana. pilih saja mana yang anda suka.

Rabu, 30 November 2011

paling menderita di dunia...

berangkat agak siang dan berharap tiba di kantor tidak terlalu siang. tetapi, harapan tinggal harapan. kemacetan yang biasanya dimulai di kilometer sekian jalan tole iskandar malah maju di km minus sekian. ya, sudahlah, mau tak mau harus dinikmati, karena ini sebuah keniscayaan. parahnya lagi, saya mengenakan baju khaki. terik mentari membuat keringat menetes.

lepas dari tole iskandar. melaju di margonda. alhamdulillah. keringatpun tak lagi menetes. tapi, galian saluran membuat jalan macet. tarik nafas. untungnya tidak terlalu panjang. namun, baru berjalan beberapa meter lepas dari kemacetan terdengarlah suara mendesis. yah! ban kanan belakang kempes. turunlah para penumpang termasuk saya. ah, tinggal ganti angkutan.

itu teorinya. praktiknya, menunggu kendaraan pengganti itu agak menyebalkan. tak kurang dari sepuluh menit barulah saya mendapatkan angkutan pengganti. sambil manggut-manggut terkantuk-kantuk saya duduk di depan bersama pak sopir. asap knalpot pun berpadu dengan asap rokok sang pengemudi. kenapa tidak pindah saja? kalau ada bangku kosong di bagian belakang, sudahlah pasti saya memilih itu.

menjelang terminal pasar minggu, banyak sekali polisi lalu lintas. "jangan turun sembarangan," tegas pak sopir. "banyak polisi, jangan turun dulu, nanti di terminal," imbuhnya. tumben, penumpang menurut semua. tak ada yang menggerutu. kamipun turut di tempat yang ditentukan pengemudi. dari sini, saya harus menumpang metro mini untuk sampai di kantor. lah, tidak seperti biasanya, kok, bus kesayangan saya malah jarang lewat.

menunggu lagi. lama. hampir saja saya kembali ke rumah naik taksi :D akhirnya setelah berpanas-panas datang juga metro mini saya. tapi, lagi-lagi tapi, pak polisi menyuruh pak sopir untuk menepikan kendaraannya. dari dalam saya melihat pak sopir berusaha 'bernegosiasi' dengan pak polantas. gagal. dan, pak sopir mendapatkan sehelai kertas berwarna merah yang ditakutkan para pengemudi. hanya ada satu pasal pelanggaran: '"tilangnya dua ratus lima puluh ribu pak."

pak sopir yang sudah mengenakan seragam metro mini dan mempunyai kpp (kartu pengenal pengemudi) dua-duanya resmi keluaran metro mini yang harus ditebus dengan selembar seratus ribuan seakan tak percaya mendapatkan surat tilang. lebih dari sekali ia melihat dan melihat lagi surat itu. dalam benaknya sudah terbayang harus mengangsur denda dengan bos pemilik kendaraan. lagi, sebuah keniscayaan.

akan halnya razia angkutan umum, memang sudah direncanakan dishub jauh-jauh hari. tapi, tadi pagi tak ada satupun petugas dinas lalu lintas angkutan dan jalan (dllaj) dari dishub. semua perazia adalah polantas. angkutan umum sejatinya adalah ranah dllaj sementara polantas mengurusi surat ijin mengemudi dan stnk. pelanggaran yang dilakukan pak sopir adalah tidak masuk ke terminal. urusan siapakah ini?

di tengah kegalauan pak sopir yang sudah membayangkan harus mengangsur denda lewat bos pemilik kendaraan, ada seorang penumpang yang memberikan sumbang saran. "bapak cari relasi aja pak, biar bisa bayar lebih murah," katanya. barangkali, maksudnya, bukan lewat jalur resmi. "tadi mau saya kasih 50 ribu gak mau polisinya," jawab pak sopir.  "saya sih bukan nganjurin gak bener," imbuh sang penumpang budiman?:D. tapi, semuanya begitu, sekalian aja hancur, katanya lagi. "kecuali, razianya gak hangat-hangat tahi ayam," tutup sang penumpang.

blar. gubraks.

awalnya saya berpikir, hari ini saya adalah orang yang paling menderita sedunia lebay banget ya. tapi, demi melihat penderitaan pak sopir. dan, mendengar saran si penumpang, kantuk saya kembali menyerang...

Rabu, 23 November 2011

baung ada, stop last ya ada...

menarik menilik asal-usul nama sebuah jalan atau daerah di jakarta. antara lain, ada yang dikaitkan dengan sebuah peristiwa bersejarah, tumbuhan yang ada di daerah itu atau tokoh yang bermukim di situ.

akan halnya nama pluit di jakarta utara sana, kita pastinya berpikir nama itu berhubungan dengan peluit seperti digunakan wasit atau polisi. ternyata, tak ada hubungannya ...
Menurut peta Topographish Bureau Batavia (1903), sebutan bagi kawasan ini adalah Fluit. Lengkapnya Fluit Muarabaru. Menurut kamus Belanda Indonesia (Wojowasito), fluit berarti suling, bunyi suling dan roti panjang sempit.

Rupanya nama kawasan itu tidak ada hubungannya dengan sulit, atau pluit, semacam pluit wasit sepakbola atau polisi. Ternyata nama kawasan tersebut berasal dari fluit, lengkapnya fluitschip yang berarti kapal (layar) panjang berlunas ramping.
yang agak lucu, kalau boleh dikatakan demikian, adalah nama jalan di depok yang dari pertigaan jalan margonda (nah, ini juga gak jelas asal usul namanya :D) menuju ke arah jalan raya bogor. satu jalan utuh itu mempunyai (sedikitnya yang saya ketahui) tiga nama. ada yang menyebutnya jalan sersan aning. tak sedikit yang mengatakan sebagai jalan siliwangi. dan, yang ketiga itu adalah jalan tole iskandar.

agak mirip dengan jalan itu, ada juga jalan dari pertigaan polsek sukmajaya menuju depok dua tengah timur dalam (ribet yah nyebutnya :D). di awal disebut sebagai jalan kebahagiaan. makin ke arah dalam berganti nama menjadi jalan kejayaan. semakin menuju ke dalam berganti lagi menjadi jalan keadilan raya. entah bagaimana proses dan sejarahnya menjadi seperti itu. pak walikota depok saja belum tentu tahu, barangkali :D

nah, sebagai pamungkas, coba perhatikan gambar di atas. mereka yang pengin turun di sini sama pak supir atau kondektur akan bilang: stoplas kiri bang. mereka tidak akan bilang stop last dengan sebutan dalam bahasa inggris. nama baung juga jarang disebut. ini juga rada-rada aneh, satu jalan punya nama dua. entah mana yang lebih dahulu muncul. sepertinya sih 'stoplas' karena ini yang lebih banyak disebut. sementara 'baung' barangkali ini nama yang belakangan dan resmi seperti ada di sini.

jadi, mau ke jalan baung atau stoplas?...

Selasa, 26 Juli 2011

mos, itu enak dan perlu...

'jumat aku ada briefing mos (masa orientasi studi) bu'
'oke, palingan dikasih tahu apa-apa yang harus dibawa'

ternyata briefing berlanjut. artinya, harus ditindaklanjuti. tugas pertama adalah membuat tas. kalau di sekolah lain, umumnya menggunakan tas berbahan karung terigu atawa karung goni yang tinggal jahit ala kadarnya selesai, si bujang yang masuk di sini harus membuat tas berbentuk baju berbahan dasar kardus. bukan asal bikin pula. dalam briefing disertakan ukuran tas baju (atau, baju tas) itu. artinya pula, harus presisi.

presisi? iyalah. nekad aja kalau bikin asal-asalan (ada kakak senior yang bertugas membawa-bawa mistar untuk melakukan pengukuran). maka, semua (kecuali bapaknya, yang lagi ada urusan lain yang tak mungkin ditinggalkan) berjibaku membuat tas itu. ibu, om dan tante ikut turun tangan. meskipun demikian, aktor utama teteup si bujang. menggaris. memotong. memberikan lem. sampai akhirnya tuntas.

untuk apa sih, tas sebesar gaban yang bisa dimuati anak batita itu? ya, untuk dimuati perlengkapan mos. buku, botol minum (lucunya, botol minum yang berisi air putih diberi label 'flammable liquid'), nama kelompok (berbentuk bunga), name tag, ompreng nasi, quran kecil, diary (berbentuk penyiram bunga, yang juga harus akurat ukurannya), alat tulis, dompet.

repot pastinya membawa dus itu pulang-pergi rumah-sekolah-rumah. selain itu, supir angkot minta bayaran untuk dua orang :D. alhamdulillah, untunglah, ada salah satu siswa yang rumahnya berdekatan dengan sekolah rela iklas dan mau dititipin tas. bukan cuma satu, tapi ya sekelompok alias 32 buah. di sinilah anak-anak itu mulai belajar berbagi. tugas-tugas kelompok langsung dikerjakan bersama. tanpa dikomando, mereka langsung membagi-bagi tugas.

selesai urusan? tunggu dulu. ibu di rumahpun kebagian peran. selesai mos, si bujang segera mengirimkan pesan singkat bahwa besok harus bawa ini dan itu. semacam, menu makan siang adalah capcay atau nasi jelek. tahu nasi jelek? nasi goreng :D nama buahpun disamar-samarkan. tapi alhamdulillah, lewat jarkom semua gak ada yang salah. ditambah pula jus buah. menu makan siangpun menjadi bergizi deh.

dipikir atawa dilihat sepintas, mos ini seperti kurang kerjaan. kayak bikin tas harus presisi atawa ibu yang pontang-panting belanja makanan atau buah tapi dipakainya hanya sedikit. (makanya, ada ortu yang protes, repot-repot beli nugget satu bungkus yang dibawa cuma dua potong. atawa membeli semangka utuh, yang dibawa hanya sepotong kecil.).

tapi, coba kita lihat dari sisi lain. sejak awal memilih ini, semua calon siswa-siswi sudah tahu bahwa sekolah ini bakalan 'repot'. selain dwi bahasa, tugasnya juga banyak. ditambah lagi dengan ekskul. paripurna sudah. nah, apa yang diberikan waktu mos adalah sarana latihan agar para siswa-siswi terbiasa dengan aneka tugas (oh, ya, selama mos, setiap hari mereka harus menulis diary dan membuat karangan). di sini mereka juga belajar membagi waktu dengan efisien. berbagi dengan teman untuk urusan kelompok.

lantas, para ortu yang ikut terlibat? nah, ketahuilah saudara-saudari sebangsa dan setanah air, ikut repotnya para ortu dalam mos haruslah dilihat bahwa pendidikan bukan semata urusan guru/sekolah. ortu di rumah juga harus terlibat. di sekolah urusannya pengetahuan secara formal. sementara di rumah orang tua melengkapi dengan sarana pendukung yang dibutuhkan.

wallahu alam bi shawab...

Selasa, 14 Juni 2011

bis surat yang kutunggu, eh, ...

di era sms dengan beragam smartphone dan aneka jejaring sosial yang ada, rasanya aneh bila ada yang masih mengirim surat. bahkan tagihanpun, kartu kredit misalnya, dikirim lewat e-mail. yang tersisa adalah surat permintaan menjadi donatur atau yang sejenis dan sayembara berhadiah :D.

lantas, kapan anda terakhir mengirim surat? kemarin, minggu lalu, bulan yang lewat atau bertahun-tahun yang silam? lalu, bila anda mengirim surat, apakah langsung ke kantor pos atau memasukkannya ke bis surat?

beruntung, alhamdulillah, kantor saya berdekatan dengan kantor pos, jadi bila ingin berkirim surat tinggal melangkah tanpa perlu keluar biaya. biasanya juga di depan kantor pos ada yang namanya bis surat. jadi, bila perangkonya sudah cukup, tak perlu lagi antre panjang menunggu giliran, cukup cemplungkan saja ke dalam bis yang tak bisa berjalan itu.. oh, ya, seturut ini:
Bis surat diterjemahkan dari bahasa Belanda Brievenbus yang merupakan tempat atau kotak untuk mengirim surat yang sudah diberi alamat tujuan yang jelas, dan perangko yang cukup. Surat-surat yang terkumpul dalam bis surat dikumpulkan secara reguler oleh petugas kantor pos untuk selanjutnya menstempel perangko yang ditempelkan diatas amplop.

Bis surat biasanya ditempatkan dipinggir jalan sebagai salah satu perabot jalan yang banyak ditemukan diberbagai bagian kota.
sekarang, lebih mudah menemukan penjual voucher pulsa hape daripada bis surat. dulu, tahun sembilan satu, di depan perumahan saya masih bisa dijumpai kotak kaleng berwarna oranye itu. sesekali saya melihat pak pos membuka kotak itu dan mengambil surat-surat yang ada. tapi, kini, bahkan, bekas tempat bis surat itupun tak ada lagi.

minggu lampau, di tengah kemacetan saat menuju tempat kerja, antara percaya dan tidak, mata saya bersirobok dengan si oranye itu. ya, betul. sebuah bis surat didirikan di depan sebuah perumahan. masih adakah yang menggunakan? saya tidak tahu dengan pasti. namun demikian, terlepas dari tidak atau jarang digunakan, bis surat sebaiknya memang tetap ada. untuk pembelajaran para siswa-siswi sekolah, misalnya, agar mereka mengerti sejarah persuratan. wallahu alam bi shawab...

Senin, 25 April 2011

hattrick plus satu...

sudah menjadi rahasia umum rahasia kok umum sih :D kondisi angkutan umum di jakarta (depok juga sih) jauh dari memuaskan. baik dari jumlahnya maupun kelaikan mobilnya. makanya mau pilah-pilih angkutan umum di jakarta? masih bisa sih tapi ya kadang kecewa juga.

pagi ini, dari depan kompleks perumahan saya menggunakan mikrolet menuju pasar minggu. masih ada beberapa kursi yang belum diisi penumpang. mikrolet melaju cukup kencang. (tapi, di ujung jalan dekat polsek sukmajaya berhenti. kok? harus berhenti karena berganti pengemudi. entah siapa yang membuat perarturan itu. setiap mobil yang datang dari pasar minggu harus berganti supir (di dekat polsek itu) bila ingin masuk ke depok timur. sekembalinya dari dalam, ini istilahnya para supir, supir pengganti sementara itu akan mendapatkan uang rokok sebesar dua ribu rupiah. kalikan saja dengan berapa mobil yang disupirinya. tapi supir cadangan ini cukup banyak jumlahnya.) entah apa pula yang dikejar si supir. sepanjang perjalanan, tak hentinya ia menekan klakson.

sampai di pasar minggu sayapun berganti dengan metro mini. nah, di sini bisa pilah-pilih. yang sudah penuh jelas tak saya tumpangi. apalagi yang penampilannya sudah tak karuan. tapi, kadang saya salah sangka juga. metro yang kelihatannya bagus ketika dinaiki ternyata knalpotnya bocor hingga asapnya masuk ke dalam ruang penumpang. untungnya saya dibekali sapu tangan jadi cukup menghalau asap yang menyesakkan itu.

kemaren saya mengalami kejadian yang rada langka dengan metro mini yang saya tumpangi. kalau di dunia sepakbola dikenal yang namanya hattrick, nah, yang ini empat kali. pertama, eh, saya ceritakan dulu supirnya. masih muda malah remaja sepertinya. penampilannya mirip abg gitu deh. kejadian nomer satu adalah, dia menabrak pembatas jalan sehingga harus mundur karena mobilnya tak bisa melaju. saya masih berpikir, ah ini sih biasa aja.

selanjutnya baru jalan sekitar lima ratusan meter, metro ini menyerempet mobil angkutan bandara. karena tidak parah lecetnya, kedua mobil jalan terus. seterusnya yang kena adalah sepeda motor. hampir saja tergencet si pengendara motor. masih untung, pesepedamotor tak memasalahkannya. setelah kejadian ini saya mulai memperhatikan si supir.

kelihatannya anak ini mengantuk. dan, blar... station wagon mewah ditumburnya. supir mobil mewah langsung turun dan menyuruh pengemudi metro mini untuk turun juga. pemilik mobil juga ikutan turun. langsung marah-marah. kedua mobil lalu menepi. dari mendengar sambil lalu, supir metro mini ini tidak punya sim.

duh, nyawa di tangan supir...

Kamis, 10 Maret 2011

sisa-sisa tonggak merah, putih, hitam...

setiap kali melihat pal penanda jarak itu, ingatan saya kembali pada masa kecil. saat berdarmawisata bersama ayah dan kakak serta adik ke luar kota, naik jeep wyllis 4x4 yang beratapkan kanvas. jeep dengan kemudi kiri itu selalu siap menemani kami sekeluarga. puncak, cipanas, cianjur dan bandung pernah kami singgahi bersamanya. nah, sepanjang perjalanan itu, saya selalu memperhatikan pal batu ini. "oh, tinggal sekian kilometer lagi kita sampai," begitulah komentar kami kala melihat tonggak berwarna khas merah, hitam dan putih.

kini, saya jarang atau hampir tak pernah lagi ke luar kota. kalaupun ke luar kota biasanya menggunakan kereta api. bepergian dengan moda transportasi itu tentu saja tidak akan menjumpai tonggak jarak. sisa-sisa, kalaupun dapat dikatakan demikian, pal jarak masih dapat ditemukan di jalan margonda raya, depok. hanya ada beberapa. ditambah dengan yang ada di jalan tole iskandar/siliwangi, barangkali jumlahnya tidak lebih dari sepuluh bahkan mungkin kurang.


tonggak batu yang masih bersisa itu, menunjukkan jarak ke cibinong dan jakarta. hanya saja, yang menjadi pertanyaan apakah jarak itu masih akurat? dari margonda ke cibinong tertera 20 kilometer. di mana titik nol-nya di cibinong? begitupula dengan jarak menuju jakarta yang 37 kilometer lagi. padahal di ujung jalan margonda (menuju jakarta) dengan patung elang bondol tak sampai 37km. hanya beberapa kilometer.

berarti, pal penanda jarak itu tidak akurat. bisa ya, mungkin juga tidak. pada jaman tonggak itu didirikan (jaman belanda?) sangat boleh jadi, inilah penunjuk paling akurat manakala akan menuju suatu tempat atau kota. sekarang, kita memang tak perlu lagi tonggak-tonggak itu. (atau masih perlu?). namun, sebagai peninggalan atau artefak, barangkali tonggak ini patut dipertahankan. atau, jangan-jangan dia sudah menghiasi rumah seorang kolektor benda-benda langka.

wallahu alam bi shawab...

Rabu, 24 November 2010

guru kencing berdiri, murid kencing berlari

Oemar Bakri… Oemar Bakri 40 tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati
Oemar Bakri… Oemar Bakri banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri… bikin otak seperti otak Habibie
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri

iwan fals guru oemar bakrie
setiap tanggal 25 november di indonesia diperingat sebagai hari guru nasional. apaan sih hari guru? menurut wiki:
Hari Guru adalah hari untuk menunjukkan penghargaan terhadap guru, dan diperingati pada tanggal yang berbeda-beda bergantung pada negaranya. Di beberapa negara, hari guru merupakan hari libur sekolah.
apa iya diperlukan hari guru? kalau hanya sekadar seremonial yang dihadiri para petinggi negara (dan biasanya juga mengerahkan para pelajar sebagai penggembira atau menuh-menuhin gedung), rasanya gak perlu diadakan. apalagi kalau setelah itu selesai blas alias tidak ada apa-apa sebagai realisasi daripada apa yang disampaikan para petinggi.

barangkali, yang lebih perlu diperhatikan adalah kesejahteraan para guru. apalagi mereka yang mengajar di tempat-tempat terpencil. yang kadang gajinya 'dirapel' beberapa bulan sekaligus. meski dikatakan ada tunjangan khusus untuk mereka ternyata belum final.

bagaimanapun guru merupakan profesi tersendiri yang tidak semua orang mampu (dan mau menjalaninya). coba klik betapa tidak mudahnya menjadi guru: ini. dan, berapa banyak lulusan universitas negeri (dulu disebut ikip) maupun swasta yang benar-benar memilih mengajar sebagai profesi? tapi, sebaliknya ada juga mereka yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan malah memilih menjadi guru.

selamat hari guru nasional yang jatuh pada hari ini, 25 november, semoga tidak ada lagi oemar bakri-oemar bakri lain atawa 'guru kencing berdiri, murid kencing berlari'.

selamat buat bapak (almarhum) dan ibu (almarhumah) mertua kami yang selama hidupnya menjadi guru secara formal maupun tidak formal hingga akhir hayatnya.

Sabtu, 18 September 2010

amigos bubar sudah...

suatu hari di kantor baru. sebagai anak baru, meski teman ada, teteup aja rasanya asing juga dengan suasana baru. kerjaan biasanya juga belum banyak. yah, gitu deh, banyakan bengongnya.

saat makan siang tiba, bingung juga mau makan di mana. karena belum kenal dengan situasinya. lagi mikir makan apa dan di mana, eh, ada yang nanya: 'gak makan pak,' dalam hati, ya makan dong. tapi demi kesopanan dan basa-basi jawabnya: belum pak, sebentar lagi. sambil bertanya juga: 'makan di mana ya?' itu di depan kan, kan ada tukang soto ayam. jadilah, siang itu makan siang perdana adalah soto ayam.

tapi, itu adalah cerita dulu. minggu lalu, saat kembali masuk kantor, bukan hanya tukang soto ayam itu yang tidak ada lagi. semua, ya semua, tenda pedagang makanan di emperan kantor itu yang sudah puluhan tahun berdiri, kini bersih-sih-sih dan menyisakan lahan yang kelihatan kumuh. atas nama keindahan kota pedagang soto mie, gado-gado, rombong rokok, mi instan dan amigos yang menyediakan aneka masakan harus tutup. tak boleh lagi beroperasi.

alhamdulillah, gerobak maupun peralatan berniaga milik para pedagang itu tidak lantas ikut disita satpol pp yang 'bersih-bersih' menjelang takbiran kemarin. masih ada yang berbaik hati untuk menyelamatkannya. lantas ke manakah mereka? tukang soto mie yang bergerobak tinggal pindah lokasi. sementara yang lain tinggal gigit jari. salahkah mereka? di mata para penguasa jelas mereka salah: merusak keindahan. membuat lingkungan menjadi kumuh. dan seabreg kesalahan lain bisa ditimpakan ke para pedagang.

pernahkah para 'pembersih' -- yang kadang makan juga di situ -- dan yang menyuruh 'pembersih' melakukan pembersihan berpikir bahwa para pedagang itu mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya? tak adakah solusi lain seperti mengingatkan mereka untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan? konon kabarnya, mereka akan dilarang selamanya untuk berjualan di situ. tapi kabar lain mengatakan ini hanya larangan sesaat.

akhirnya, sesaat atau tidak, yang pasti 'orang-orang kecil' ini harus mengalah. mereka kehilangan mata pencaharian. dan, para konsumen kehilangan tempat makan.

Selasa, 20 April 2010

sni oh sni...

apakah sni - standar nasional indonesia - lebih tinggi daripada dot, snell, ece atau jis sehingga dijadikan patokan untuk pelindung kepala alias helm? ternyata tidak. ah, masak sih? coba simak kata-kata Kasubdit Standarisasi dan Teknologi Direktorat Jenderal Industri Agro dan Kimia Direktorat Industri Kimia Hilir, Drs. Kurnia Hanafiah, MM, Apt:
Kata siapa? Siapa yang bilang SNI di atas dari standar-standar tersebut? Standar-standar di atas sudah pasti lebih hebat dan bagus. Maksud dari persyaratan SNI adalah persyaratan minimal untuk sebuah helm. Tujuannya ’kan untuk standarisasi baik helm lokal maupun impor agar diperlakukan sama. Hal ini juga diatur dalam peraturan pemerintah (PP) No. 20 tahun 2000, yang mengharuskan helm ada SNI-nya.
lantas kalau tidak lebih bagus mengapa harus dijadikan standar? ternyata, sni ini untuk memenuhi amanat:
Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Dalam Undang-Undang tersebut tertera pada pasal 57 ayat (1) “Setiap Kendaraan Bermotor yang dioperasikan di jalan wajib dilengkapi dengan perlengkapan Kendaraan Bermotor” dan ayat (2) “Perlengkapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi Sepeda Motor berupa helm standar nasional Indonesia”.
kemudian, ada juga:
SK Peraturan Menteri No 40/M-IND/Per/6/2008 yang mengadopsi Standar Nasional Indonesia (SNI) 1811:2007 Helm Pengendara Kendaraan Bermotor Roda Dua, menjadi regulasi teknis. Dalam SK tersebut, seluruh produsen termasuk importir helm, wajib memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan dalam SNI 1811:2007.
jadi jelas kan mengapa harus sni. lantas bagaimana helm yang lolos kualifikasi sni? salah satunya adalah:
Pertama dari material: a. Dibuat dari bahan yang kuat dan bukan logam, tidak berubah jika ditempatkan di ruang terbuka pada suhu 0 derajat Celsius sampai 55 derajat Celsius selama paling sedikit 4 jam dan tidak terpengaruh oleh radiasi ultra violet, serta harus tahan dari akibat pengaruh bensin, minyak, sabun, air, deterjen dan pembersih lainnya
selengkapnya silakan baca sendiri ya :D. nah, sekarang kalau helm yang anda miliki belum mempunyai sni embose, meski itu dari merek-merek terkenal yang berharga jutaan, silakan simpan saja di gudang dan belilah gantinya yang ber-sni :D. di mana belinya? ya di toko helm (yang besar sebaiknya), jangan di warteg. mengapa harus di toko, sementara di pinggir jalan juga banyak yang obral helm sni seharga 60 sampai 70 ribu rupiah?

kalau anda hanya mementingkan sekadar sni, silakan saja borong di pinggir jalan. tapi kalau ingin membeli helm yang, insya Allah, menyelamatkan jiwa, belilah di tempat yang resmi. karena membedakan sni asli dan palsu tidaklah mudah. sni stiker jelas gampang dicetak tapi yang emboss pun tidak sulit ditiru.

loh, ada sni stiker dan emboss? mana yang berlaku? ada yang bilang, yang sekarang berlaku adalah yang emboss. tapi, coba baca ini: helm stiker tidak dilarang. bingung? bukannya kita sudah terbiasa dengan aneka kebingungan...

Senin, 11 Januari 2010

penjual dan pembeli: sama-sama melanggar aturan...

tukang gorengan, sayur, buah, makanan, minuman, sandal jepit dan aneka mata dagangan lain yang bisa digelar di atas lahan minimalis umumnya disebut pedagang kaki lima atau istilah kerennya sektor informal. (sering juga disebut sebagai katup penyelamat yang menggerakan ekonomi di sektor riel. meski kelihatannya usaha kecil, perputaran uang di sini tidaklah kecil). tak ada atau tak diperlukan ijin usaha untuk memulai kegiatan ini. modal yang diperlukan antara lain, selain uang, adalah kerja keras, pintar mencari lokasi. kalo mata dagangannya sama? rejeki kan gak bakalan ketuker.

salah satu lokasi yang banyak diminati para pkl atau pedagang kaki lima adalah daerah pasar minggu, jakarta selatan, terminal bus dan setasiun kereta api. di dalam terminal kita bisa menemukan tukang buah, sayur-sayuran dan aneka lainnya. sebelum tahun 98, kala malam hari, terminal tidak bisa dilalui angkutan umum. tapi pagi hari selepas pukul tujuh, pedagang yang coba-coba menutup jalan, siap-siap saja dagangannya berantakan ditertibkan kamtib. setelah tahun 98, mungkin masih hangat-hangatnya reformasi, keadaan terminal malah parah. siang maupun malam terminal tidak bisa dilewati bus atau mikrolet. tapi, sekarang, dari dua jalur yang ada, satu jalur masih bisa digunakan kendaraan umum.


kalau dulu yang menertibkan para pedagang adalah kamtib, kini penertibnya adalah satpol pp alias satuan polisi pamong praja. alasan penertiban adalah: mengganggu ketertiban umum. kini selain satpol pp ada juga papan pengumuman dilarang berjualan bagi
"setiap orang atau badan dilarang berdagang, berusaha dibagian jalan/trotoar, halte, jembatan penyeberangan orang dan tempat-tempat diluar ketentuan..."
dan, jangan lupa, anda (termasuk saya) juga dilarang membeli pedagang barang dagangan pedagang kaki lima. ada sanksinya loh: denda hingga dua puluh juta rupiah.

Selasa, 24 November 2009

minyak oh minyak...





MINYAKKK... teriakan khas ini diulang-ulang si bapak ketika menjajakan dagangannya. dulu, iya dahulu, ia menggunakan gerobak dengan 10 jerigen. kini dengan adanya program konversi minyak tanah ke gas, si bapak menggunakan sepeda. dagangannya pun menjadi terbatas, hanya dua jerigen.

Senin, 22 Juni 2009

jadilah konsumen cerdas...

tahukah anda bahwa ada yang namanya BPSK alias Badan Perlindungan Sengketa Konsumen. ini merupakan lembaga resmi yang dibentuk 10 tahun lalu berdasarkan UU no 8 tahun 1999. lewat bpsk konsumen dapat mengadu bila merasa dirugikan. selebihnya silakan dibaca:
Seorang nasabah perusahaan leasing bersengketa dengan perusahaan tempat ia mengambil kredit mobil. Gara-gara ia telat membayar angsuran, perusahaan leasing menyita mobil kreditannya dan menetapkan si nasabah itu hanya mendapat pengembalian uang yang sudah dibayarkan Rp 5 juta. Si konsumen komplain karena ia sudah membayar 16 kali angsuran dan menuntut pengembalian uang angsuran sebesar Rp 15 juta.

Si nasabah yang semula bingung kemudian mendapat informasi tentang Badan Perlindungan Sengketa Konsumen (BPSK) DKI Jakarta. Mengadulah ia ke sana. Pengurus BPSK kemudian mempertemukan pengadu dan perusahaan leasing yang suka seenaknya sendiri untuk mencari solusi masalah ini.

Dalam sidang, majelis BPSK memutuskan, perusahaan leasing harus mengembalikan uang nasabah sebesar Rp 10 juta. ”Kami mengambil jalan tengah antara nilai Rp 5 juta dan Rp 15 juta. Kedua belah pihak sepakat, masalah pun selesai,” kata Wakil Ketua BPSK DKI Jakarta Aman Sinaga pekan lalu.

Itu salah satu contoh kasus yang ditangani BPSK, sebuah badan yang namanya belum banyak dikenal masyarakat. Padahal, ia dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Meski sudah berusia 10 tahun, UU itu belum terasa efektif. Masyarakat belum banyak tahu soal UU tersebut plus BPSK yang menjadi tempat konsumen dan pelaku usaha mengadu.

Direktur Perlindungan Konsumen Departemen Perdagangan Radu Sembiring dan pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Indah Suksmaningsih dan Sudaryatmo, mengakui kondisi itu. Maklumlah sosialisasi tentang BPSK amat kurang.

Lagi pula, posisi BPSK serba sulit karena ia merupakan badan bentukan pemerintah pusat, tetapi pendanaannya diserahkan kepada pemerintah kota atau kabupaten. Akibatnya, menurut catatan Direktorat Perlindungan Konsumen di Indonesia, baru ada 42 BPSK, terbanyak di Jawa.

Maka jamaklah bila banyak orang tak mengetahui BPSK yang bisa membantu mereka menyelesaikan persoalan dengan pelaku usaha atau jasa. Begitu keberadaan lembaga itu ditulis, Christ, warga Jakarta Barat, langsung menelepon Redaksi Kompas. ”Di mana alamat BPSK DKI Jakarta, saya baru dengar ada badan itu dan ingin mengadu ke sana,” ujarnya.

Selama ini sebagian besar konsumen yang dirugikan pelaku usaha hanya berdiam diri. Kalaupun ada yang komplain, mereka menulis ke surat pembaca di media yang kadang-kadang malah dituduh mencemarkan nama si pelaku usaha.

Padahal, konsumen berhak komplain jika mendapat perlakuan tak sesuai perjanjian dan aturan. Oleh karena ketidaktahuan mereka, sering pula masalah harus berakhir di pengadilan.

Ini pula yang terjadi atas Prita Mulyasari. Andai Prita dan warga lain mengadu ke BPSK, mereka akan mendapat solusi cepat dan murah sebab dasar putusan BPSK adalah hati nurani. (SOELASTRI SOEKIRNO)
jelas kan yang namanya bpsk. kalau belum jelas saya kutipkan alamat lengkapnya bpsk dki: Jl. KPBD No. 42, Sukabumi Selatan - Kebayoran Lama, Jakarta Barat, Telp. 02153690569, Fax. 021 5369 0569,
email: bpsk_dki@yahoo.co.id.

Kamis, 18 Juni 2009

lima berhadiah satu...

urusan parkir kayaknya susah banget buat diparkir alias diatur. ada parkir resmi. parkir setengah resmi. parkir liar. dan, aneka parkir lainnya. sebagai contoh: di pasar agung depok, ketika memasuki pasar langsung dikenakan biaya parkir resmi dengan karcis sebesar limaratus rupiah. saat akan meninggalkan pasar akan ada ongkos parkir tambahan seribu rupiah. loh, lebih mahal? aturannya memang seperti itu. di tempat lain, barangkali, aturannya lebih aneh lagi :D

nah, tahukah anda, sejak bulan
februari kemarin ada program '5 kali parkir gratis 1 kali'? kalau tidak tahu gak apa-apa kok. saya juga baru tahu setelah melihat spanduk di atas yang direntangkan di dekat terminal pasar minggu. bagaimana penerapannya hingga bulan juni ini? entahlah. jangan-jangan konsumen parkir tidak mengacuhkan program ini. atau jukir alias juru parkir tidak memberikan karcis? atau, ribet amat sih mesti nyimpen lima lembar karcis parkir. mending amat bisa dapet gratis, nah kalo pake adu mulut sama si abang tukang parkir, abcd alias aduh bo cuapee deh. gitu kata tetangga sebelah sayah...

Selasa, 02 Juni 2009

e-mail anda, harimau anda...

'alamat e-mail-nya apa?', 'nanti saya kirim lewat e-mail aja deh penawarannya', atau, 'ikutan milis dong, biar gak kehilangan kontak'...
sekarang ini, sepertinya, e-mail sudah menjadi bagian dari keseharian kehidupan. semua orang punya alamat e-mail. mulai dari yang gratis-an sampai yang berbayar dengan segala macam kelebihannya. karena mempunyai e-mail, semua-semua penginnya dikirim melalui e-mail. praktis memang bersurat-suratan secara elektronik. apalagi warnet ada hampir di setiap sudut kota ada. belum lagi dengan aneka gadget terbaru yang semakin memudahkan untuk ber-e-mail-e-mail-an.

tetapi dengan diberlakukannya undang-undang republik indonesia nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik atau uuite, segala hal yang berbau informasi dan ditransmisikan secara elektronik tidak lagi bisa semau-maunya atau sekehendak hati kita siarkan.

undang-undang ite ini sudah diberlakukan dan pasal-pasalnya sudah dipakai untuk menjerat ibu dua anak. kasusnya pun menjadi ramai. sudah menjadi buah bibir. perkembangan terakhir, tim sukses salah satu capres ikut menawarkan solusi.

negara kita adalah negara hukum, bukankah begitu?

Selasa, 05 Mei 2009

sudah terdaftar...

sudah terdaftarkah anda di dpt pilpres? kpu sedang melakukan pemutakhiran data mulai 10 april hingga 10 mei. jangan ragu atau segan untuk mengecek apakah nama anda sudah terdaftar di dpt. datangi rumah rt atau rw tempat anda berdomisili. atau ke kelurahan atau balai desa. kalau nama anda ada ya tak perlu repot-repot lagi. kalau belum ada, tanyakan saja pada petugas setempat.
 

Ganator Blog's Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger