Warung Bebas
Tampilkan postingan dengan label public transportation. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label public transportation. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 November 2011

paling menderita di dunia...

berangkat agak siang dan berharap tiba di kantor tidak terlalu siang. tetapi, harapan tinggal harapan. kemacetan yang biasanya dimulai di kilometer sekian jalan tole iskandar malah maju di km minus sekian. ya, sudahlah, mau tak mau harus dinikmati, karena ini sebuah keniscayaan. parahnya lagi, saya mengenakan baju khaki. terik mentari membuat keringat menetes.

lepas dari tole iskandar. melaju di margonda. alhamdulillah. keringatpun tak lagi menetes. tapi, galian saluran membuat jalan macet. tarik nafas. untungnya tidak terlalu panjang. namun, baru berjalan beberapa meter lepas dari kemacetan terdengarlah suara mendesis. yah! ban kanan belakang kempes. turunlah para penumpang termasuk saya. ah, tinggal ganti angkutan.

itu teorinya. praktiknya, menunggu kendaraan pengganti itu agak menyebalkan. tak kurang dari sepuluh menit barulah saya mendapatkan angkutan pengganti. sambil manggut-manggut terkantuk-kantuk saya duduk di depan bersama pak sopir. asap knalpot pun berpadu dengan asap rokok sang pengemudi. kenapa tidak pindah saja? kalau ada bangku kosong di bagian belakang, sudahlah pasti saya memilih itu.

menjelang terminal pasar minggu, banyak sekali polisi lalu lintas. "jangan turun sembarangan," tegas pak sopir. "banyak polisi, jangan turun dulu, nanti di terminal," imbuhnya. tumben, penumpang menurut semua. tak ada yang menggerutu. kamipun turut di tempat yang ditentukan pengemudi. dari sini, saya harus menumpang metro mini untuk sampai di kantor. lah, tidak seperti biasanya, kok, bus kesayangan saya malah jarang lewat.

menunggu lagi. lama. hampir saja saya kembali ke rumah naik taksi :D akhirnya setelah berpanas-panas datang juga metro mini saya. tapi, lagi-lagi tapi, pak polisi menyuruh pak sopir untuk menepikan kendaraannya. dari dalam saya melihat pak sopir berusaha 'bernegosiasi' dengan pak polantas. gagal. dan, pak sopir mendapatkan sehelai kertas berwarna merah yang ditakutkan para pengemudi. hanya ada satu pasal pelanggaran: '"tilangnya dua ratus lima puluh ribu pak."

pak sopir yang sudah mengenakan seragam metro mini dan mempunyai kpp (kartu pengenal pengemudi) dua-duanya resmi keluaran metro mini yang harus ditebus dengan selembar seratus ribuan seakan tak percaya mendapatkan surat tilang. lebih dari sekali ia melihat dan melihat lagi surat itu. dalam benaknya sudah terbayang harus mengangsur denda dengan bos pemilik kendaraan. lagi, sebuah keniscayaan.

akan halnya razia angkutan umum, memang sudah direncanakan dishub jauh-jauh hari. tapi, tadi pagi tak ada satupun petugas dinas lalu lintas angkutan dan jalan (dllaj) dari dishub. semua perazia adalah polantas. angkutan umum sejatinya adalah ranah dllaj sementara polantas mengurusi surat ijin mengemudi dan stnk. pelanggaran yang dilakukan pak sopir adalah tidak masuk ke terminal. urusan siapakah ini?

di tengah kegalauan pak sopir yang sudah membayangkan harus mengangsur denda lewat bos pemilik kendaraan, ada seorang penumpang yang memberikan sumbang saran. "bapak cari relasi aja pak, biar bisa bayar lebih murah," katanya. barangkali, maksudnya, bukan lewat jalur resmi. "tadi mau saya kasih 50 ribu gak mau polisinya," jawab pak sopir.  "saya sih bukan nganjurin gak bener," imbuh sang penumpang budiman?:D. tapi, semuanya begitu, sekalian aja hancur, katanya lagi. "kecuali, razianya gak hangat-hangat tahi ayam," tutup sang penumpang.

blar. gubraks.

awalnya saya berpikir, hari ini saya adalah orang yang paling menderita sedunia lebay banget ya. tapi, demi melihat penderitaan pak sopir. dan, mendengar saran si penumpang, kantuk saya kembali menyerang...

Senin, 25 April 2011

hattrick plus satu...

sudah menjadi rahasia umum rahasia kok umum sih :D kondisi angkutan umum di jakarta (depok juga sih) jauh dari memuaskan. baik dari jumlahnya maupun kelaikan mobilnya. makanya mau pilah-pilih angkutan umum di jakarta? masih bisa sih tapi ya kadang kecewa juga.

pagi ini, dari depan kompleks perumahan saya menggunakan mikrolet menuju pasar minggu. masih ada beberapa kursi yang belum diisi penumpang. mikrolet melaju cukup kencang. (tapi, di ujung jalan dekat polsek sukmajaya berhenti. kok? harus berhenti karena berganti pengemudi. entah siapa yang membuat perarturan itu. setiap mobil yang datang dari pasar minggu harus berganti supir (di dekat polsek itu) bila ingin masuk ke depok timur. sekembalinya dari dalam, ini istilahnya para supir, supir pengganti sementara itu akan mendapatkan uang rokok sebesar dua ribu rupiah. kalikan saja dengan berapa mobil yang disupirinya. tapi supir cadangan ini cukup banyak jumlahnya.) entah apa pula yang dikejar si supir. sepanjang perjalanan, tak hentinya ia menekan klakson.

sampai di pasar minggu sayapun berganti dengan metro mini. nah, di sini bisa pilah-pilih. yang sudah penuh jelas tak saya tumpangi. apalagi yang penampilannya sudah tak karuan. tapi, kadang saya salah sangka juga. metro yang kelihatannya bagus ketika dinaiki ternyata knalpotnya bocor hingga asapnya masuk ke dalam ruang penumpang. untungnya saya dibekali sapu tangan jadi cukup menghalau asap yang menyesakkan itu.

kemaren saya mengalami kejadian yang rada langka dengan metro mini yang saya tumpangi. kalau di dunia sepakbola dikenal yang namanya hattrick, nah, yang ini empat kali. pertama, eh, saya ceritakan dulu supirnya. masih muda malah remaja sepertinya. penampilannya mirip abg gitu deh. kejadian nomer satu adalah, dia menabrak pembatas jalan sehingga harus mundur karena mobilnya tak bisa melaju. saya masih berpikir, ah ini sih biasa aja.

selanjutnya baru jalan sekitar lima ratusan meter, metro ini menyerempet mobil angkutan bandara. karena tidak parah lecetnya, kedua mobil jalan terus. seterusnya yang kena adalah sepeda motor. hampir saja tergencet si pengendara motor. masih untung, pesepedamotor tak memasalahkannya. setelah kejadian ini saya mulai memperhatikan si supir.

kelihatannya anak ini mengantuk. dan, blar... station wagon mewah ditumburnya. supir mobil mewah langsung turun dan menyuruh pengemudi metro mini untuk turun juga. pemilik mobil juga ikutan turun. langsung marah-marah. kedua mobil lalu menepi. dari mendengar sambil lalu, supir metro mini ini tidak punya sim.

duh, nyawa di tangan supir...

Jumat, 08 April 2011

duapuluh empat jam sehari...

dulu tidaklah seperti ini... sekarang, ketika masuk dan duduk di angkot, yang pertama dilakukan penumpang adalah mengeluarkan gadgetnya. jari tanganpun lincah memencet keypad. ekspresi segala rupa menghiasi wajah. meringis. senyum. kening berkerut. menggigit bibir. dan lain sebagainya...

kegiatan olahraga jari ini bisa berlangsung sepanjang perjalanan. pernah saya seperjalanan dengan seorang penumpang, dari pasar minggu hingga turun di depok, tak pernah lepas pencat-pencet. kagum saya dibuatnya. jari-jemarinya lincah sekali bergerak. pandang matanya lurus ke layar hapenya. biar pak supir mengerem mendadak, dia bergeming. mobil mau dikebut gak masalah.

di lain waktu. dari dua belas penumpang yang seangkot, cuma saya dan seorang penumpang lain yang tidak bercengkerama dengan gadget. pemandangan seperti ini, bukan hanya dapat disaksikan di angkot. halte, pinggir jalan, ruang tunggu, dan, yang paling terakhir saya saksikan adalah saat khatib shalat jumat, jamaah sebelah saya sesekali memainkan smartphonenya.

sekarang giliran kening saya yang berkerut. sedemikian pentingnyakah untuk terus-menerus terhubung dengan jejaring sosial? sepenting atau segenting apakah berita yang saling dibagikan itu? jangan-jangan, barangkali, di rumah mereka juga melakukan hal yang sama. terus berkutat dengan gadgetnya...

Kamis, 10 Maret 2011

sisa-sisa tonggak merah, putih, hitam...

setiap kali melihat pal penanda jarak itu, ingatan saya kembali pada masa kecil. saat berdarmawisata bersama ayah dan kakak serta adik ke luar kota, naik jeep wyllis 4x4 yang beratapkan kanvas. jeep dengan kemudi kiri itu selalu siap menemani kami sekeluarga. puncak, cipanas, cianjur dan bandung pernah kami singgahi bersamanya. nah, sepanjang perjalanan itu, saya selalu memperhatikan pal batu ini. "oh, tinggal sekian kilometer lagi kita sampai," begitulah komentar kami kala melihat tonggak berwarna khas merah, hitam dan putih.

kini, saya jarang atau hampir tak pernah lagi ke luar kota. kalaupun ke luar kota biasanya menggunakan kereta api. bepergian dengan moda transportasi itu tentu saja tidak akan menjumpai tonggak jarak. sisa-sisa, kalaupun dapat dikatakan demikian, pal jarak masih dapat ditemukan di jalan margonda raya, depok. hanya ada beberapa. ditambah dengan yang ada di jalan tole iskandar/siliwangi, barangkali jumlahnya tidak lebih dari sepuluh bahkan mungkin kurang.


tonggak batu yang masih bersisa itu, menunjukkan jarak ke cibinong dan jakarta. hanya saja, yang menjadi pertanyaan apakah jarak itu masih akurat? dari margonda ke cibinong tertera 20 kilometer. di mana titik nol-nya di cibinong? begitupula dengan jarak menuju jakarta yang 37 kilometer lagi. padahal di ujung jalan margonda (menuju jakarta) dengan patung elang bondol tak sampai 37km. hanya beberapa kilometer.

berarti, pal penanda jarak itu tidak akurat. bisa ya, mungkin juga tidak. pada jaman tonggak itu didirikan (jaman belanda?) sangat boleh jadi, inilah penunjuk paling akurat manakala akan menuju suatu tempat atau kota. sekarang, kita memang tak perlu lagi tonggak-tonggak itu. (atau masih perlu?). namun, sebagai peninggalan atau artefak, barangkali tonggak ini patut dipertahankan. atau, jangan-jangan dia sudah menghiasi rumah seorang kolektor benda-benda langka.

wallahu alam bi shawab...

Rabu, 02 Februari 2011

bocah itu jadi guru saya...

malam belum lagi terlalu larut. langit tak berbintang. bulanpun tak bersinar. metromini yang saya tumpangi melaju bagai sedang mengikuti balapan di sirkuit. lagu lama cerita biasa para pengemudi angkutan umum. menyebalkan memang. tapi, inilah keaadan yang harus diterima warga, meski harus membayar pajak tiap tahun.

menjelang pasar minggu, rintik hujan mulai berjatuhan. mau tak mau saya harus turun karena harus berganti angkutan umum. dari metro mini pindah ke mikrolet. bukannya berhenti, hujan turun semakin membesar. mikrolet semakin lama semakin penuh. semua bangku hampir terisi. di depan saya duduk dua ibu dengan dua anak kecil. anak yang agak besar, penginnya duduk sendiri tak ingin dipangku. sementara anak yang kecil anteng-anteng saja, tak banyak protes. akhirnya mikrolet full penumpang.


hujan semakin deras. otomatis semua jendela ditutup. penuh sesak. keringat mulai menetes. bocah yang agak besar mulai bertingkah. bocah kecil yang diam malah diganggunya. masih kelihatan lucu. lantas si besar minta minum. berbagi dengan si kecil. senyum saya melihatnya, dalam hati, pintar anak ini. tapi, kita sebaiknya memang tidak terlalu tergesa-gesa mengambil kesimpulan.

makin lama kok si besar makin menjadi-jadi. sementara ibunya kok seperti meladeninya bercanda. teriakan melengking di dalam mikrolet dalam suasana panas berkeringat. uh. tapi, anak itu tidak bergeming. bagaikan mempunyai tenaga ekstra. seorang bapak yang rupanya tak tahan melihat tingkah si besar, mencolek anak itu. "sst, diam," ujar si bapak sambil menaruh telunjuk di bibirnya. jangan ribut, sambung si bapak. si bocahpun diam. tapi hanya sesaat.

anak ini benar-benar tak bisa diam. ibunyapun seperti kehabisan akal untuk menghentikannya. hanya mengancam. puncaknya adalah si bocah mengacung-acungkan gelas minumnya. tak ayal air bercipratan. sempat mampir di lengan saya. lantas, berhentikah dia? tidak. duh, dalam hati, pengin rasanya menjewer atau mencubit agar dia diam. kenapa saya yang menjadi gemas dibuatnya?

apa karena ortunya yang hanya diam? tidak berani tegas terhadap anaknya. mengancam tapi sambil bergurau. sesak nafas rasanya sesesak mikrolet yang melaju cepat. melihat kejadian langsung di depan mata. namun, berangsur, karena mengantuk, si besar mulai mengatupkan matanya. belaian sang ibu membuatnya semakin lelap. alhamdulillah wa syukurillah.

saya menarik nafas lega sambil tak hentinya beristighfar. saya membatin, andai saya jadi ibu si anak, boleh jadi sayapun akan kebingungan. ah, apapun itu, alhamdulilah, bocah itu mengajarkan kepada saya bagaimana harus bersabar. sabar yang konon berbatas langit... wallahu alam bi shawab...

Minggu, 05 Desember 2010

mampuslah kau penumpang!

mencermati bahasa indonesia memang mengasyikkan. bila anda membaca judul postingan ini, tentu bukanlah sumpah serapah agar para penumpang mampus. alih-alih demikian, pak mulyo berusaha menerangkan asal mula mengapa penumpang angkutan umum disebut sebagai 'sewa' ketimbang ketimbang dibilang penumpang. lucu juga bila melihat sejarahnya...
MULYO SUNYOTO
Matinya Penumpang
Kompas, Jumat, 3 Desember 2010

Sebuah bus pengangkutan umum berjalan perlahan keluar dari Terminal Kampung Rambutan Jakarta. Di belakang kendaraan itu, dalam jarak sepelempar, seseorang bergegas mengejar bus. Sopir tak menghentikan kendaraannya. Kenek melihat gelagat orang itu lewat kaca spion. Kepada sopir, sang kenek berteriak, ”Ada sewa, ada sewa.”

Sewa, bukan penumpang. Sopir dan kenek kendaraan pengangkutan umum di Jakarta seolah tabu menggunakan kata penumpang menyebut 'orang yang naik kendaraan umum'. Sejak kapan dan mengapa para awak kendaraan umum di Jakarta memilih sewa dan menampik penumpang? Saya tak tahu. Yang pasti, di Sumatera Utara hal itu kaprah belaka.

Namun, saya punya hipotesis mengapa mereka menyingkirkan penumpang dari perbendaharaan bahasa mereka. Di tahun 1980 saya pertama kali menginjak Jakarta. Dua hari saya berpelesir di atas bus kota, yang saat itu populer sebagai bus PPD. Maksudnya, Perusahaan Pengangkutan Djakarta. Dengan tarif Rp 50 sekali naik, sepanjang perjalanan Cililitan-Lapangan Banteng saya manjakan mata mengamat-amati lanskap ibu kota. Hari kedua saya melanglang di atas roda PPD dengan rute lain.

Sebagai pelajar SMA di kota kecil, 1.000 kilometer dari arah timur Jakarta, saya terperangah bukan oleh pemandangan di luar, tapi kejadian di dalam bus! Beberapa kali peristiwa itu berlangsung. Anak-anak SMA menghentikan bus. Mereka naik. Kondektur minta ongkos. Dengan nada datar mereka membalas, ”Numpang, Bang.” Yang disapa Bang melengos dengan muka kecut. Dalam sehari, sepekan, sebulan, setahun, berapa kali para kondektur mendengar kosakata yang masam ini? Itu sebabnya mereka membalas dendam: tak sudi mengucapkan kata itu beserta turunannya. Mampuslah kau penumpang!

Meski bukan linguis, mereka jitu tatkala menemukan sewa sebagai alternatif. Maksud mereka tentulah penyewa. Urusan keringkasan dengan melesapkan awalan, buat mereka, lebih utama ketimbang formalisme linguistik, yang memilah kata dalam kelas-kelas. Bukankah rampok sudah halal dipadankan dengan perampok, meski rompak terasa haram disepantarkan dengan perompak?

Kamus-kamus memaknai sewa sebagai 'pemakaian sesuatu dengan membayar uang'. Frasa kuncinya: membayar dengan uang. Itu berlainan arti dengan tumpang yang menurunkan (me)numpang dan penumpang. Makna tumpang: 'turut, ikut serta, membonceng'. Lazimnya orang yang turut, ikut serta, atau membonceng tak diwajibkan membayar dengan uang.

Kini perkara sewa beralih ke pundak pekamus. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi IV Pusat Bahasa dan Tesaurus Bahasa Indonesia Eko Endarmoko belum menambahkan arti sewa sebagaimana dimaksud para penggunanya. Kalau jumlah kendaraan pengangkutan umum di Jakarta ratusan ribu, sedikitnya ada lebih dari angka itu pengucap kosakata sewa. Sopir, kenek, calo, timer (nah, mereka menciptakan satu lagi makna baru untuk alat pengukur waktu) di ibu kota pastilah pernah mengucapkan sewa untuk arti yang Inggrisnya adalah passenger.

Penggusur penumpang tampaknya tak cuma awak kendaraan umum darat, pramugari maskapai penerbangan swata pun menyapa ”bapak dan ibu terhormat” alih-alih ”penumpang terhormat” saat hendak memeragakan penggunaan perlengkapan keselamatan sebelum pesawat tinggal landas. Bagaimana dengan awak kapal laut? Cepat atau lambat mereka pun sepakat menolak kehadiran penumpang yang hanya bikin perusahaan merugi kalau bukan bangkrut. Penumpang akhirnya terkubur setelah disingkirkan dari matra darat, udara, dan laut. RIP for penumpang.

Mulyo Sunyoto Magister dalam Linguistik

Sabtu, 13 Maret 2010

kok bisa sih...


RAMBUNYA jelas kok. ada rambonya eh, polantasnya juga yang jaga di situ. tapi angkutan umum yang satu ini dengan mulus dan lancar memasuki jalur yang sebenarnya terlarang untuknya. atau, si supir punya penafsiran sendiri atas rambu itu: karena tak mau masuk terminal ya pilih underpass dong ah...

Selasa, 09 Maret 2010

malu tak malu...

JAMAN sekolah di sd, smp atau sma kalau kita melakukan kesalahan, salah satu hukuman yang acap diberikan guru adalah berdiri di sudut kelas sambil mengangkat satu kaki. malu tak malu, mau tak mau, jadilah tontonan teman-teman sekelas. nah, kalau yang ini, yang melihat semua orang yang lewat di jalan raya pasar minggu raya.

awalnya saya menduga, kehidupan yang sangat keras di ibukota membuat si bapak stres dan naik di atap mikrolet. tapi kok ada dua orang, satu lagi angkot yang tak sempat diabadikan gambarnya. setelah melihat pak perwira polisi yang tidak berwajah garang memegang surat-surat mobil, barulah saya sadar, oh si bapak itu sedang dihukum berdiri di atas mobilnya sendiri.


seberang setasiun pasar minggu tempat si bapak ngetem memang lokasi strategis tempat penumpang berganti moda angkutan. namun, baik angkot, mikrolet, metromini yang berhenti di situ, suka seenaknya saja semacam berhenti di tengah jalan. alhasil jadilah macet. padahal jelas-jelas ada rambu yang tidak membolehkan kendaraan stop. tapi, demi mengejar setoran apapun kadang dilakukan. simnya nembak? tak tahulah saya...

Minggu, 04 Oktober 2009

sandal jepit dan clurit...

bila kita bertemu dengan seseorang yang tidak dikenal. entah kapan dan di mana, umumnya, lazimnya, timbul kecurigaan. 'ngapain sih ni orang?' atau 'sok akrab amat sih'. kadang kita juga meladeni orang asing itu dengan perasaan segan atau acuh-tak-acuh. padahal, sangat boleh jadi, gusti allah lah yang merancang pertemuan itu. ada maksud tertentu yang dituliskan gusti allah. seperti kumpulan kata berikut yang saya tulis ulang (secara dia yang bercerita namun dengan gaya tulisan saya tentunya :D) berdasarkan penuturan seorang teman...
pulang pergi naik kendaraan umum adalah pilihan saya. karena murah dan meriah (*meski belum tentu sepenuhnya aman-danudoank :D) menemukan kejadian aneh juga bukan hal baru lagi. namun, bertemu dengan seorang lelaki tua dengan kelakuan lebih sekadar aneh baru saya alami kemarin.

awalnya si bapak ini naik dari perhentian lampu merah. dilihat dari gayanya saja sudah mencurigakan. saya yang kebetulan duduk di bangku belakang rada khawatir juga. tapi ya sok tenang saja. tapi, makin lama kok kian bertambah aksi si bapak ini. di awal naik dia mengantongi tisyu, korek api dan barang lain milik kondektur tanpa diketahui pemiliknya tentunya.

saat itu, kebetulan ada pengasong buku agama. si bapak pun berkomentar miring. 'gak bakalan laku lu jualan buku gitu. entar kalo dunia udah dibalik baru pada percaya,' ujarnya. 'udah gak ada yang percaya sama gituan. bentar lagi jakarta ni ada gempa,' ceracaunya lagi.

waduh, pikir saya dalam hati, salah milih tempat nih. tapi, kursi yang kosong saat saya naik ya di bagian paling belakang. ini pun sudah menanti lumayan lama, agar tak terlalu larut sampai di rumah, metro mini ini jadi pilihan.

saat metro mini berjalan si bapak mengulurkan tangannya kepada saya. jelas bukan untuk bersalaman. tapi untuk meminta uang. saya hanya menggelengkan kepala. namun tangannya tak lantas ditarik. saya bergeming. lantas si bapak meminta pada penumpang lain yang juga menggoyangkan tangan. tangan itu kembali kepada saya. gelengan kepala jawaban atas tangan itu kembali saya lakukan.

si bapak lalu ngomong sendiri alias ngedumel: 'ah, minta duit aja gak dikasih. palingan berapa sih.' saya tak ambil peduli. sementara penumpang di sebelah kanan saya, kok jadi menelungkupkan kepala seperti hendak tidur, padahal waktu saya naik jelas-jelas kelihatan segar. ah, entahlah. si bapak yang terus 'monolog' tiba-tiba menoleh ke penumpang sebelah saya. dan, ternyata mereka saling kenal. duh gusti allah, dalam hati, bakalan ada apa lagi nih. mereka pun bercakap-cakap akrab.

selesai berdialog, eh, si bapak pindah lagi ke dekat saya sambil menyuruh saya menggeser tempat duduk. 'sanaan lu,' katanya. lagi, si bapak, mengulurkan tangannya. saya pun menggelengkan kepala lagi. kali ini rupanya ia mulai kesal dengan penolakan saya. tangannya seperti hendak mengambil sesuatu dari pinggangnya. dalam hati, ah, palingan gertak sambal. sambil memasukkan tangan ke bajunya si bapak pun ngomong lagi: 'mau apa sih lu. ayo bareng-bareng sama gua masuk cipinang. gua gak takut.' wah, mulai gawat nih. masih sempat mikir juga, urusan mati dan hidup kan ada pada gusti allah semata, dan mulai berdzikir. tapi saya teteup sok kewl.

'kenapa sih lu?' tanyanya. 'diajak ngomong diem aja,' imbuhnya. saya menjawab kepala lagi pusing. 'oh, sakit ya,' suaranya merendah. tangannya pun ditarik dari bajunya. alhamdulillah, aman nih, mbatin saya. namun dalam hati teteup deg-deg-an juga sih. eh, si bapak sebelah saya sempat mentoel-toel bahu, tapi saya tak begitu memperhatikan. sampai di sebuah halte, bapak sebelah ini turun, masih setengah perjalanan saya sebenarnya. tapi saya memutuskan untuk turun. ketika turun si bapak (yang suka berceracau) malah memegang pundak saya dan katanya ati-ati pak.

setelah turun, alhamdulillah wa syukurillah. saya lantas ngomong-ngomong dengan penumpang sebelah ini. 'bapak turun di sini, kan masih jauh,' ujarnya. iya pak daripada kenapa-kenapa mendingan saya turun aja, jawab saya. dan, subhanallah, saya ingat pernah bertemu dengan bapak ini di metro mini dalam perjalanan pulang. saat itu si ia bercerita bertapa susahnya berdagang. modal ga banyak. untungnya juga gak seberapa dan lakunya sedikit. saya hanya mengiyakan ceritanya dan sesekali menambahkan. 'bapak kan yang dagang sandal jepit itu ya,' tanya saya. 'loh, bapak ko tau,' jawabnya agak kaget. 'kan kita pernah ketemu dulu,' imbuh saya. masih dagang pak, tambah saya. 'masih pak, alhamdulillah, ujarnya lagi.

'emang yang tadi siapa pak, tanya saya. sambil setengah tertawa: 'dia mah pak ya kondektur, tukang totok juga, mabok iya (copet, todong). pernah sama-sama di cipinang sama saya. ini kalo mau liat bekas goresan piso. cuman saya mah gak bertato pak.' oh, gitu, ujar saya lumayan kaget. 'beneran dia bawa piso pak?' tanya saya lagi. 'bukan piso pak, clurit kecil yang dibawa, jawabnya. naudzubillah. sebentar ngomong kamipun berpisah. si bapak sempat mengajak ke rumah untuk berkenalan dengan mertuanya yang masih aktif berdinas di tni-ad.

kalau saya tak bertemu dengan si penjual sandal dan mengambil keputusan untuk turun, entahlah apa jadinya. namun alhamdulillah wa syukurillah. gusti allah lewat si bapak mengingatkan saya untuk memutuskan 'hijrah' dari situasi yang tidak mengenakkan itu. dalam hati setelah naik metro mini lagi untuk meneruskan perjalanan, saya berpikir, sekecil apapun clurit tetap saja ia senjata tajam yang bisa mematikan. dan, meski ajal gusti allah yang menentukan, kalau memang masih dapat menghindar apa salahnya. peduli amat orang bilang pengecut atau penakut...
nah, bila lain kali kita bertemu dengan orang asing, ingat-ingatlah dia, karena kita tak pernah tahu di lain kesempatan orang yang suka berburuk-sangka-kan malah menolong kita dari situasi yang tidak menyenangkan. namun, tetaplah waspada. dan, mintalah selalu perlindungan dari gusti allah.

wallahu awam bi shawab...

Senin, 18 Mei 2009

e-ticketing krl...

krlbayangkan duduk nyaman di kereta rel listrik jabodetabek, tanpa kehadiran pemusik (tukang ngamen) atau pengusaha (dengan segala macam mata dagangan), kursinya empuk, pengatur udara alias ac-nya mengeluarkan angin sejuk semriwing dan fasilitas lainnya. mimpi? tidak sepenuhnya mimpi karena sebagian kenyamanan itu saat ini sudah dapat dinikmati. di krl express, ac-nya sejuk, pedagang hanya masuk sebelum kereta berangkat, kursi juga empuk, dan terbilang bersih pula.

nah, dengan diresmikannya
PT KAI Commuter Jabodetabek (Commuter), hari ini, di stasiun tanjung barat, pasar minggu, bolehlah kita berharap lebih. sebentar lagi, akhir tahun 2009, akan diberlakukan e-ticketing. keren juga ya atau malah ngerepotin? bagi penglaju yang menaiki krl setiap hari ini jelas kemudahan. tapi, kalau penumpang sekali-sekali, seperti saya, malah jadi susah. ah, belum tentu juga. karena apa dan bagaimana e-ticketing yang akan diberlakukan belum tahu seperti apa.

harapannya adalah memudahkan dan menyamankan seluruh penumpang. oh, ya, tetangga sebelah iseng bertanya kenapa sih perusahaan baru, yang dulu bernama Divisi Jabotabek PT KA diberi nama commuter. padahal menurut ini commuter diartikan sebagai 'orang yang pulang pergi setiap hari untuk bekerja'.

ah, apalah arti sebuah nama...

Rabu, 13 Mei 2009

seratus delapan puluh menit...

jalur rutin perjalanan saya dari rumah menuju tempat mencari sesuap nasi, dan sesendok berlian adalah depok timur-margonda-pasar minggu-tebet. tak usah disebutkan yah rinciannya jalurnya, nanti malah seperti krl :D. kalau tak ada keperluan mendadak atau urgen, saya biasanya melangkahkan kaki keluar dari pintu rumah sekitar jam enam lewat tiga puluh menit. bisa juga lebih pagi dari itu, dan ini kalau anak saya sekolah. kalau giliran nanda libur, jam ngantor pun ya jadi boleh

tadi pagi, ditingkahi rinai gerimis, saya berangkat setengah tujuh lewat. alhamdulillah, sampai di depan kompleks, mobil yang akan membawa saya ke pasar minggu datang. beruntung tidak ada kemacetan yang berarti. margonda juga lancar lalu lintasnya. nah, menjelang jembatan layang ui, mulailah menebak-nebak. apalagi senin kemarin, 'jembatan samber nyawa' (entah siapa yang memberikan nama ini? mengerikan sekali :D) sedang diperbaiki. muacetnya sudah dimulai dari margonda. tapi, alhamdulillah, tadi malah lancar-lancar saja.

sampai pasar minggu pun masih terhitung pagi. perjalanan berlanjut ke arah tebet. awalnya sih kelihatan tidak terlalu macet. titik kemacetan ada di tempat biasa. namun, harapan tinggal harapan. lalu lintas di jakarta sukar untuk diperkirakan. bersiaplah menikmati kemacetan. metro mini yang saya tumpangi jalan tersendat-sendat. yang lebih menambah nikmatnya macet adalah ketika para penumpang dipindahkan dioper, istilah para kondektur ke bus lain. untungnya alasan pengoperan adalah ban yang kempes. dan, ini jelas kelihatan. kalau alasannya pergantian sopir alias aplusan pengemudi, duh, benar-benar menjengkelkan.

selesai pengoperan, alhamdulillah dapat tempat duduk. kalau tidak lumayan juga harus berdiri setengah perjalanan lagi. yah, sudahlah nikmati saja. toh, bukan saya sendirian. tapi ramai-ramai satu metro mini. dan, yang namanya macet, benar-benar macet. dihitung-hitung sampai di kantor tidak kurang dari seratus delapan puluh menit saja.

Selasa, 12 Mei 2009

jam soerabaija-semarang...

sudah berapa kali anda ke stasiun jakarta kota, yang nampaknya lebih akrab dengan sebutan beos? sekali, dua atau tiga kali? atau seringkali karena anda pengguna kereta rel listrik? pernahkah anda melihat jam di sebelah kiri ini? kalau belum cobalah tengok. kalau anda hendak keluar stasiun ambil jalur ke kanan, lalu masuk lagi untuk keluar. jam ini ada di sebelah kiri. jam dari manakah ini? angka romawinya mirip jam gadang di bukit tinggi. penasaran pengin tahu ceritanya, tanya sama om gugel dan ini ceritanya:
Ada yang relatif baru di Stasiun Jakarta Kota alias Stasiun Beos. Di sana terpampang jam besar Soerabaija-Semarang. Awalnya tidak mudah menelusuri asal-usul ikon baru stasiun kereta api Jakarta Kota itu. Menteri Perhubungan Jusman Safeii Djamal pun sempat bingung.


Meski tak bisa memuaskan rasa ingin tahunya, menteri yang murah senyum itu dapat menikmati pesona jam kuno tersebut. Dari segi umur, misalnya, jam tersebut jauh lebih tua dibanding Jam Gadang di Kota Bukittinggi. ”Menarik,” kata Jusman ketika menyaksikan jam besar itu, Rabu (17/12), beberapa saat sebelum meresmikan pengoperasian KRL malam hari, Hati Mulia, di Stasiun Kota. Penunjuk waktu di stasiun peninggalan Belanda itu menunjukkan pukul 21.50.

Jam itu memakai angka Romawi. Uniknya, seperti juga Jam Gadang, dia menggunakan "IIII" untuk menunjukkan bilangan "empat", bukannya "IV". Namun sayangnya, ketika Jusman menanyakan sejarah jam itu, para pejabat PT Kereta Api (Persero) belum ada yang mengetahui.

Hanya sedikit informasi yang malah membikin tambah penasaran. Di dalam lingkaran jam itu terdapat tulisan "FM OHLENROT" dan di bawahnya ada kata-kata dengan huruf kapital "SOERABAIJA-SEMARANG".

”Apakah jam ini dibuat di Surabaya?” tanya Jusman. Lagi-lagi tak ada jawaban. Kepada Jusman hanya dijelaskan bahwa jam itu berasal dari Stasiun Sukabumi. Berhubung Stasiun Sukabumi dioperasikan tahun 1882, diperkirakan jam besar itu diproduksi pada tahun itu juga.

Tahun 1970, Stasiun Sukabumi berhenti beroperasi. Baru beberapa hari lalu stasiun itu dioperasikan lagi untuk melayani rute Bogor-Sukabumi. Pada hari-hari pertama, sebagian orang menikmati perjalanan yang memakan waktu sekitar dua jam itu sebagai perjalanan nostalgia.

Namun, masyarakat sudah tidak bisa menikmati jam besar di Stasiun Sukabumi. Maklum, jam tersebut telah dipindahkan ke Stasiun Beos di Jakarta sejak dua bulan lalu. Maksudnya, supaya jam yang memiliki nilai seni dan sejarah itu bisa dinikmati lebih banyak orang.

”Sayang kalau hanya di Stasiun Sukabumi. Di sini kan lebih banyak orang yang dapat menikmati,” kata Judarso Widyono, Kepala PT KA Daop 1 Jakarta. Di Stasiun Beos, setiap hari terdapat sekitar 150.000 orang yang menggunakan jasa kereta api.

Jam besar itu sengaja ditempatkan di lokasi strategis, tempat banyak orang lalu lalang sehingga memudahkan orang melihat waktu. Jam besar di Beos yang memiliki dua muka itu disenangi karena nilai sejarah dan keunikannya.

Di empat sisi jam tersebut terdapat ornamen klasik yang menarik. Seperti halnya menara jam di Gedung Parlemen Inggris yang terkenal dengan sebutan "Big Ben", atau Jam Gadang di Bukittinggi, dia menjadi terkenal karena memiliki keunikan. Bahkan kawasan "Big Ben" dengan Parliament Square-nya menjadi bagian dalam film Harry Potter yang fenomenal.

Dua muka
Untungnya, teka-teki mengenai sejarah jam besar Soerabaija itu segera terjawab. Persisnya beberapa hari setelah peresmian pengoperasian KRL malam hari jurusan Jakarta Kota-Bekasi. Sebuah SMS dari Judarso Widyono menjawab rasa penasaran banyak pihak.

”Perihal jam antik di Stasiun Kota itu, mereknya FM OHLENROT, buatan Belanda tahun 1881,” tutur Judarso dalam SMS-nya. Akhmad Sujadi, Kahumas Daop 1 Jakarta, juga memberi informasi serupa.

Judarso adalah orang di balik pemindahan jam antik tersebut. ”Itu jam asli karena dia melekat di Stasiun Sukabumi. Saya tahu itu, maka saya amankan di Stasiun Jakarta Kota agar dapat dinikmati banyak orang,” ujar peminat benda-benda kuno itu memberi alasan pemindahan jam tersebut.

Sebelum dipasang di Stasiun Kota, jam tersebut terlebih dulu diservis. ”Enggak tahu diservis di Bogor atau Jakarta, anak buah saya yang tahu. Luarnya juga diperbaiki, dicat lagi supaya bisa menyamai aslinya,” tutur Judarso yang sedang bersemangat menjadikan Stasiun Kota seperti aslinya dulu.

Seperti jam antik lainnya, mesin jam itu tidak digerakkan oleh baterai, tetapi oleh bandul besar yang memiliki bobot sekitar 60 kilogram. Selain jam induk yang memiliki dua muka, jam ini juga memiliki anak. Induknya memiliki diameter 53 sentimeter dan anaknya 29,5 sentimeter. Hanya sayangnya, kesan antik menjadi kurang kuat karena rumah tempat bandulnya terbuat dari aluminium. Semestinya dari kayu jati agar kesan kemegahan masa lalu keluar lebih kuat.

Judarso yang pernah bertugas di sejumlah kota menjelaskan bahwa dia sering melihat jam yang sama sebelumnya. Namun, katanya, sekarang sudah jarang ditemukan lagi jam antik yang asli di stasiun kereta api. Penyebabnya, perawatannya kurang. ”Kan sayang,” katanya. *hes

Rabu, 07 Januari 2009

manja, malas...

selasa malam. metro mini jurusan manggarai-pasar minggu. menjelang lampu lalulintas orang biasa menyebutnya lampu merah, padahal artinya bisa jadi beda pancoran, seorang ibu berdiri. pastinya mau turun dong. kondektur lantas bertanya.

'turun di mana bu? sini?'

'lampu merah. bisa gak berhenti di lampu merah,' kata si ibu
'kalo pas merah ya berenti bu,' polos si kondektur menyahut

dalam hati saya, yah iyahlah bang. yang jadi perhatian saya adalah keinginan si ibu untuk berhenti di lampu merah. mengapa ia pengin berhenti di situ? karena ia mau memperpendek jaraknya berjalan kaki. jelas demikian adanya. ia tak ingin bersusah-susah memperpanjang ayunan langkahnya. kalau bisa dekat kenapa harus jauh. barangkali ini prinsipnya.

padahal aturannya jelas. berhenti ya di halte. naik atau turun ya di halte. namun para penumpang angkutan umum memang punya aturan sendiri. yang hebatnya di-amini para kondektur atau supir. minta berhenti di tikungan boleh, di depan supermarket ayo atau di pom bensin sering.

karena terbiasa seperti itu, penumpang bisa mencak-mencak hebat kalau diturunkan jauh dari tempat yang dia ingini. kalau penumpangnya berjenis kelamin laki-laki kejadiannya bisa lebih parah. digebrak-gebraknya kaca atau langit-langit mobil. sementara penumpang wanita hanya bersungut-sungut atau kalau naik angkot ia akan melempar saja ongkosnya, seperti saya lihat kemarin malam.

susah ya buat susah sedikit saja. berjalan satu atau dua meter tidak akan membuat dengkul lemas tiada tara.

Senin, 22 Desember 2008

hukum rimba di jalan...

hmm. kayaknya gak pas judulnya. kalo hukum rimba kan artinya di rimba alias hutan. kejadian tadi pagi jelas bukan di hutan tapi di jalan raya. jalan di seberang stasiun kereta api pasar minggu, mengarah ke pancoran, memang rawan macet dan senggol-senggolan mobil atau motor. dan, sebagaimana anda tahu perilaku pengendara angkutan umum, merekalah yang sering menyenggol atau disenggol.

perilaku pengemudi angkot mirip-mirip dengan tingkah laku pengendara sepeda motor. selama masih ada tempat longgar, sesedikit apapun, mereka akan berusaha masuk untuk lewat. seperti pagi tadi. saya yang di metro mini dengan seorang penumpang lain tak pernah berpikir akan melihat kejadian lumayan heboh.

metro mini yang saya tumpangi berjalan agak lambat karena jalan macet. di sisi kanan penuh dengan mobil serta kendaraan lain. dari sisi kiri sebuah angkot jurusan pasar minggu-pondok labu karena melihat ada jalur lowong berusaha masuk untuk melewati metro mini. pengemudi metro mini agaknya tidak suka dengan perilaku supir angkot. mereka sama-sama memajukan kendaraannya. istilah yang pas adalah pepet-pepetan. dan, sampai di titik kedua kendaraan nyaris bertempelan. saya pikir, bakal terjadi serempetan nih. ternyata tidak.

keduanya berhenti. bersilat lidah. tak ada yang mau mengalah. keduanya merasa sayalah yang paling benar. dilihat sepintas yang benar adalah supir metro mini. ia tak mungkin mengarah ke kanan karena itu artinya ia menyerempet mobil tetangga sebelah. sementara si supir angkot kalau mau sedikit mengalah ia bisa melaju terus karena jalurnya masih memungkinkan untuk itu. tapi akhirnya kedua sepakat untuk terus melaju. selesai masalahnya? belum.

si supir angkot kemudian melaju lebih dahulu. lantas ia ber-zig-zag. berhenti. supir metro mini mendadak tinggi tensinya. ia turun. lalu, tanpa bilang permisi atau ba-bi-bu ia menonjok mata supir angkot. lebih dari satu kali. anehnya, kok si supir angkot tidak turun. ia baru turun ketika ada seorang bapak yang menyalahkan tindakan supir metro mini. supir angkot berusaha membalas. ia mendorong-dorong si supir metro mini.

selanjutnya? saya berpindah metro mini. biarlah mereka menyelesaikan urusan mereka. boleh jadi hukum rimba yang berlaku. mungkin lebih seru, halah, kalau esprits de kedaerahan ikut bicara.

Selasa, 25 November 2008

naik kereta api...

jaman kuliah dulu, kereta rel listrik merupakan andalan saya untuk menuju kampus. pilihan jatuh kepada krl karena relatifaman, murah, cepat, dan gak pake macet, ya iyalah. berangkat dari stasiun jakarta kota atau beos membuat saya selalu kebagian tempat duduk. begitupun saat pulang. seringnya saya ulang-alik naik krl mengharuskan saya mengingat jadwal keberangkatan maupun kepulangan. di stasiun sebenarnya sudah dipasang jadwal krl yang singgah di stasiun kampus. bahkan, kampus juga mengeluarkan. tapi seringkali jadwal ini jadi bahan olok-olok. karena kedatangan krl itu jarang sekali sesuai jadwal. yang ada jadwal hanya sebagai penanda bahwa krl yang akan tiba akan telat :d

sabtu kemarin saya kembali berkeretaria. bukan untuk nostalgia. pilihan jatuh kepada krl ekspres untuk menghindarkan kemacetan. saat berangkat tidak menjadi masalah, seingatnya saja ada kereta yang berangkat sekitar pukul delapanan. ketika akan kembali ke depok, kalau kembali mengandalkan seingatnya bisa-bisa naiknya krl ekonomi yang berhenti di setiap stasiun. untuk kepastian jadwal tentunya harus bertanya kepada pjka atau stasiun keberangkatan. tapi tak punya nomor teleponya. hubungi dulu 108 wah jadi panjang urusannya.

alhamdulillah, kini banyak cara untuk mengetahui jadwal yang pasti. lewat internet kita bisa mengakses situs para maniak kereta api. di sini banyak informasi dapat ditimba. atau kalau mau yang langsung dengan pengelola klik krl jabotabek. sudah pasti ada informasi mengenai krl. semisal jenis kereta, tarif, jadwal, bahkan hingga video. selain klik langsung di situs, layanan sms juga ada (tapi nomor 9559 saat ini baru dapat diakses dari Flexi, Indosat dan Esia. cara lengkap silakan lihat di situs). atau bisa juga lewat nomor telepon 021-3807777. saya sudah mencoba dan nomor ini berfungsi.

nah, bila berminat putar-putar kota naik keret api hubungi saja nomor itu.

Senin, 06 Oktober 2008

nikmat tak tergantikan...

== lebaran kalo gak mudik gak asyik mas
++ oh, gitu yah
== iya, gak berasa lebaran
++ jadi kamu ikut mudik?
temen satu itu sebenernya tidak memiliki udik kampung. tapi, demi yang asyik ia pun pulang mudik. memaksakan diri? ikut arus? tak punya pendirian? wah, kok malah menghakimi pemudik, padahal saya kan bukan hakim. pulkam alias pulang kampung alias mudik memang susah buat dicerna dengan otak telanjang. biar kata antre semalaman di terminal atau setapsiun kereta, biar disikut sana dan sini. biar mudiknya pake bajaj sekalipun. atau naik motor dengan anak sebagai pelindung angin. atau duduk di atas gerbong kereta api. yang penting pulang kampung. alias kudu binti mesti bin harus. tradisikah mudik? wah, yah mesti ditanyakan pada para pakar. tapi, mudik bukanlah monopoli bangsa indonesia. di republik rakyat cina saat imlek para penduduknya juga mudik ke kampung halaman. kembali ke tanah air tercinta, mudik jelas tak mungkin dilarang apalagi dibikinkan undang-undang segala. kalo dipikir-pikir dimanakah hubungan idul fitri dengan mudik? misal, setelah menang berpuasa sebagai pelengkap ya mudik dong. atau, kapan lagi cium tangan (sungkem masih ada gak yah? atau sudah kuno?) emak dan bapak. halah saya malah makin bingung. nanti malah salah. yang pasti, buat yang mudik, nikmatnya tak tergantikan. kayak iklan? yah, gitu deh.

Kamis, 24 Juli 2008

naik metro mini disantuni...

apakah anda biasa naik kendaraan umum? selama ini, kebanyakan kita, boleh jadi, berfikir bahwa yang mendapatkan santunan asuransi bila kecelakaan hanya penumpang pesawat terbang atau kapal laut. entah kapan mulainya, penumpang angkutan umum seperti metro mini pun kini dilindungi asuransi jasa raharja. lantas bagaimana cara mendapatkan santunan? menurut situs jasa raharja adalah sebagai berikut:
* Menghubungi kantor Jasa Raharja terdekat
* Mengisi formulir pengajuan dengan melampirkan :
- Keterangan kecelakaan Lalu Lintas dari Kepolisian dan atau dari instansi berwenang lainnya.
- Keterangan kesehatan dari dokter / RS yang merawat.
- KTP / Identitas korban / ahli waris korban.
- Formulir pengajuan diberikan Jasa Raharja secara cuma-cuma
nah, kalau ada yang mengalami kecelakaan jangan ragu-ragu untuk menghubungi jasa raharja karena santunan ini diatur oleh undang-undang.

Selasa, 22 Juli 2008

ojek keren...

bayangkan ini di jalan thamrin atau kuningan, dimana kantor-kantor berserakan: pria ganteng berdasi. menenteng komputer jinjing. atau, wanita cantik pakai blazer. wangi. menenteng communicator. terus naik ojek. hah, naik ojek? salahkah naik ojek? turun martabat? bagaimana kalau ojeknya keren mentereng dan dilengkapi global positioning system alias gps segala?

ojek pakai gps? salah kali. tentu tidak. sebentar lagi para kaum berdasi dan berblazer dapat wira-wiri di sepanjang jalur bisnis thamrin, sudirman dan kuningan dengan limobike alias ojek premium. ini tentu alternatif yang bagus karena umumnya, uzumnya, kaum ini kan kalau naik metromini pastinya jengah. takut pula busananya menjadi kotor. sementara untuk naik taksi samjugbo aka sama juga bohong karena jaraknya dekat argo pastinya tak bergerak. sementara untuk jalan kaki di terik matahari tentunya tidak sehat, hehehe...

tapi, udara jakarta gitu loh. mungkin, para pengguna jasa limobike harus siap-siap dengan masker agar tidak menghirup gas buang yang dapat membuat sesak nafas. selain itu, buat kaum wanita harus membawa ekstra bedak dan ubo rampenya agar riasan kembali normal setelah melawan angin. serta satu hal lagi, jangan lupa untuk berdoa agar selamat sepanjang perjalan dan di tempat tujuan.

sudah tak tahan ingin mencoba? kalau tak ada aral merintang, anda harus menunggu hingga akhir juli dan sistemnya adalah on call alias mesti pesen dulu. apakah akan tepat waktu? hmm, kita tunggu saja apakah nanti perusahaan yang mengelola limobike berani seperti ini:
provides the quickest and one of the most glamorous ways to get from A to B.

Rabu, 25 Juni 2008

the best is not always the best...

bila hendak ke jakarta dihari sabtu saya lebih memilih naik kereta rel listrik. bukan karena murah. tapi menghindarkan kemacetan. selain cepat, meski jadwal berangkat krl yang dijuluki express ini bisa meleset lima belas menit dari waktu yang ditulis di loket. seperti sabtu awal bulan lalu: express jakarta berangkat 08.45. tapi baru jes-jes-jes pukul sembilan. kok nggak protes? mau dilayangkan kemana? sebagai konsumen yang baik dan benar saya dapat memaklumi keadaan ini :d ditambah lagi acara berhenti menunggu sebelum masuk stasiun tertentu yang semakin memperlambat jam kedatangan.

ketidaknyamanan itu alhamdulillah dibayar dengan hembusan ac yang masih mengalir sejuk. kursi yang masih empuk. tidak adanya pengasong yang menawarkan aneka produk. penumpangnya juga keliatan rapih-rapih.


tapi ada satu yang mengusik mata saya. karena saya duduk tepat di seberang iklan seperti di gambar. ada dua versi sebenarnya. satu berbahasa indonesia. satu lagi berbahasa inggeris. sebenarnya tidak masalah menggunakan bahasa asing karena dapat memperluas sasaran pengiklan. tapi pakailah bahasa inggeris yang baik dan benar. biar gak malu-maluin, kata tetangga sebelah yang biasa naik krl express.

kalau mau lapor kemana ya? ah, nanti dibilang kurang kerjaan... (masih untung gak ditulis seperti ini: the best way to advertise your aids...)

Senin, 26 Mei 2008

tak perlu mimpi...

tak perlu mimpi dan memang bukan mimpi. sabtu (240508) bbm resmi disesuaikan harganya dengan harga minyak dunia yang terus meroket. dan, bagi masyarakat yang dikategorikan tidak mampu disediakan blt yang membuat mereka senang karena dapat bertemu dengan pak menteri.

benarkah mereka senang? senang atau tidak senang biarlah menjadi urusan masing-masing. yang pasti ongkos angkutan umum langsung disesuaikan juga. hampir di semua angkot (yang sempat saya lihat, tentunya) menempelkan selembar kertas pengumuman kenaikan ongkos sementara. sementara? ya betul sementara karena kenaikan itu disepakati bersama (secara sepihak) oleh unsur-unsur semacam dllaj dan organda yang merupakan wakil pengusaha angkutan. lalu, penumpang diwakili oleh siapa? wakil penumpang? sejak kapan penumpang mempunyai perwakilan untuk bersuara ikut menentukan tarif?

apapun yang terjadi kenaikan sudah diumumkan. harga-harga pun otomatis naik. begitu pula dengan ongkos angkot yang tinggal menunggu diresmikan. (gambarnya gak jelas. 'tarif sementara m-04'. rata-rata kenaikan lima ratus perak. kenaikan tertinggi seribu rupiah. kecil ya? iya kalau hanya sekali jalan. kalau bulak-balik, sebulan? ya tinggal kalikan saja toh. seraya menanti penyesuaian dari kumpeni :d) atau kita perlu bersikap seperti ini:
jika pikiran sejernih air, biarkanlah bbm naik. jika perasaan seputih cucian, jangan marah bbm naik. jika nurani seindah taman, terimalah dengan lapang dada bbm naik.
 

Ganator Blog's Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger