Warung Bebas
Tampilkan postingan dengan label moral. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label moral. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 April 2012

mau jadi gula pasir atau sirop....

sudah merasa berjasa tapi kok dilupakan. jadi, sakit hati dong rasanya :D padahal, tak perlu kan seperti itu. tak perlulah gembar-gembor atas apa yang dikerjakan. toh, pada akhirnya orang juga akan tahu...
Tak ada yang lebih gusar melebihi makhluk Allah yang bernama gula pasir. Pemanis alami dari olahan tumbuhan tebu ini membandingkan dirinya dengan makhluk sejenisnya yang bernama sirop.

Masalahnya sederhana. Gula pasir merasa kalau selama ini dirinya tidak dihargai manusia. Dimanfaatkan, tapi dilupakan begitu saja. Walau ia sudah mengorbankan diri untuk memaniskan teh panas, tapi manusia tidak menyebut-nyebut dirinya dalam campuran teh dan gula itu. Manusia cuma menyebut, "Ini teh manis." Bukan teh gula. Apalagi teh gula pasir.

Begitu pun ketika gula pasir dicampur dengan kopi panas. Tak ada yang mengatakan campuran itu dengan 'kopi gula pasir'. Melainkan, kopi manis. Hal yang sama ia alami ketika dirinya dicampur berbagai adonan kue dan roti.

Gula pasir merasa kalau dirinya cuma dibutuhkan, tapi kemudian dilupakan. Ia cuma disebut manakala manusia butuh. Setelah itu, tak ada penghargaan sedikit pun. Tak ada yang menghargai pengorbanannya, kesetiaannya, dan perannya yang begitu besar sehingga sesuatu menjadi manis. Berbeda sekali dengan sirop.

Dari segi eksistensi, sirop tidak hilang ketika bercampur. Warnanya masih terlihat. Manusia pun mengatakan, "Ini es sirop." Bukan es manis. Bahkan tidak jarang sebutan diikuti dengan jatidiri yang lebih lengkap, "Es sirop mangga, es sirop lemon, kokopandan, " dan seterusnya.

Gula pasir pun akhirnya bilang ke sirop, "Andai aku seperti kamu."

**

Sosok gula pasir dan sirop merupakan pelajaran tersendiri buat mereka yang giat berbuat banyak untuk umat. Sadar atau tidak, kadang ada keinginan untuk diakui, dihargai, bahkan disebut-sebut namanya sebagai yang paling berjasa. Persis seperti yang disuarakan gula pasir.

Kalau saja gula pasir paham bahwa sebuah kebaikan kian bermutu ketika tetap tersembunyi. Kalau saja gula pasir sadar bahwa setinggi apa pun sirop dihargai, toh asalnya juga dari gula pasir. Kalau saja para pegiat kebaikan memahami kekeliruan gula pasir, tidak akan ada ungkapan, "Andai aku seperti sirop!" (MN/Eramuslim)

Minggu, 04 Oktober 2009

sandal jepit dan clurit...

bila kita bertemu dengan seseorang yang tidak dikenal. entah kapan dan di mana, umumnya, lazimnya, timbul kecurigaan. 'ngapain sih ni orang?' atau 'sok akrab amat sih'. kadang kita juga meladeni orang asing itu dengan perasaan segan atau acuh-tak-acuh. padahal, sangat boleh jadi, gusti allah lah yang merancang pertemuan itu. ada maksud tertentu yang dituliskan gusti allah. seperti kumpulan kata berikut yang saya tulis ulang (secara dia yang bercerita namun dengan gaya tulisan saya tentunya :D) berdasarkan penuturan seorang teman...
pulang pergi naik kendaraan umum adalah pilihan saya. karena murah dan meriah (*meski belum tentu sepenuhnya aman-danudoank :D) menemukan kejadian aneh juga bukan hal baru lagi. namun, bertemu dengan seorang lelaki tua dengan kelakuan lebih sekadar aneh baru saya alami kemarin.

awalnya si bapak ini naik dari perhentian lampu merah. dilihat dari gayanya saja sudah mencurigakan. saya yang kebetulan duduk di bangku belakang rada khawatir juga. tapi ya sok tenang saja. tapi, makin lama kok kian bertambah aksi si bapak ini. di awal naik dia mengantongi tisyu, korek api dan barang lain milik kondektur tanpa diketahui pemiliknya tentunya.

saat itu, kebetulan ada pengasong buku agama. si bapak pun berkomentar miring. 'gak bakalan laku lu jualan buku gitu. entar kalo dunia udah dibalik baru pada percaya,' ujarnya. 'udah gak ada yang percaya sama gituan. bentar lagi jakarta ni ada gempa,' ceracaunya lagi.

waduh, pikir saya dalam hati, salah milih tempat nih. tapi, kursi yang kosong saat saya naik ya di bagian paling belakang. ini pun sudah menanti lumayan lama, agar tak terlalu larut sampai di rumah, metro mini ini jadi pilihan.

saat metro mini berjalan si bapak mengulurkan tangannya kepada saya. jelas bukan untuk bersalaman. tapi untuk meminta uang. saya hanya menggelengkan kepala. namun tangannya tak lantas ditarik. saya bergeming. lantas si bapak meminta pada penumpang lain yang juga menggoyangkan tangan. tangan itu kembali kepada saya. gelengan kepala jawaban atas tangan itu kembali saya lakukan.

si bapak lalu ngomong sendiri alias ngedumel: 'ah, minta duit aja gak dikasih. palingan berapa sih.' saya tak ambil peduli. sementara penumpang di sebelah kanan saya, kok jadi menelungkupkan kepala seperti hendak tidur, padahal waktu saya naik jelas-jelas kelihatan segar. ah, entahlah. si bapak yang terus 'monolog' tiba-tiba menoleh ke penumpang sebelah saya. dan, ternyata mereka saling kenal. duh gusti allah, dalam hati, bakalan ada apa lagi nih. mereka pun bercakap-cakap akrab.

selesai berdialog, eh, si bapak pindah lagi ke dekat saya sambil menyuruh saya menggeser tempat duduk. 'sanaan lu,' katanya. lagi, si bapak, mengulurkan tangannya. saya pun menggelengkan kepala lagi. kali ini rupanya ia mulai kesal dengan penolakan saya. tangannya seperti hendak mengambil sesuatu dari pinggangnya. dalam hati, ah, palingan gertak sambal. sambil memasukkan tangan ke bajunya si bapak pun ngomong lagi: 'mau apa sih lu. ayo bareng-bareng sama gua masuk cipinang. gua gak takut.' wah, mulai gawat nih. masih sempat mikir juga, urusan mati dan hidup kan ada pada gusti allah semata, dan mulai berdzikir. tapi saya teteup sok kewl.

'kenapa sih lu?' tanyanya. 'diajak ngomong diem aja,' imbuhnya. saya menjawab kepala lagi pusing. 'oh, sakit ya,' suaranya merendah. tangannya pun ditarik dari bajunya. alhamdulillah, aman nih, mbatin saya. namun dalam hati teteup deg-deg-an juga sih. eh, si bapak sebelah saya sempat mentoel-toel bahu, tapi saya tak begitu memperhatikan. sampai di sebuah halte, bapak sebelah ini turun, masih setengah perjalanan saya sebenarnya. tapi saya memutuskan untuk turun. ketika turun si bapak (yang suka berceracau) malah memegang pundak saya dan katanya ati-ati pak.

setelah turun, alhamdulillah wa syukurillah. saya lantas ngomong-ngomong dengan penumpang sebelah ini. 'bapak turun di sini, kan masih jauh,' ujarnya. iya pak daripada kenapa-kenapa mendingan saya turun aja, jawab saya. dan, subhanallah, saya ingat pernah bertemu dengan bapak ini di metro mini dalam perjalanan pulang. saat itu si ia bercerita bertapa susahnya berdagang. modal ga banyak. untungnya juga gak seberapa dan lakunya sedikit. saya hanya mengiyakan ceritanya dan sesekali menambahkan. 'bapak kan yang dagang sandal jepit itu ya,' tanya saya. 'loh, bapak ko tau,' jawabnya agak kaget. 'kan kita pernah ketemu dulu,' imbuh saya. masih dagang pak, tambah saya. 'masih pak, alhamdulillah, ujarnya lagi.

'emang yang tadi siapa pak, tanya saya. sambil setengah tertawa: 'dia mah pak ya kondektur, tukang totok juga, mabok iya (copet, todong). pernah sama-sama di cipinang sama saya. ini kalo mau liat bekas goresan piso. cuman saya mah gak bertato pak.' oh, gitu, ujar saya lumayan kaget. 'beneran dia bawa piso pak?' tanya saya lagi. 'bukan piso pak, clurit kecil yang dibawa, jawabnya. naudzubillah. sebentar ngomong kamipun berpisah. si bapak sempat mengajak ke rumah untuk berkenalan dengan mertuanya yang masih aktif berdinas di tni-ad.

kalau saya tak bertemu dengan si penjual sandal dan mengambil keputusan untuk turun, entahlah apa jadinya. namun alhamdulillah wa syukurillah. gusti allah lewat si bapak mengingatkan saya untuk memutuskan 'hijrah' dari situasi yang tidak mengenakkan itu. dalam hati setelah naik metro mini lagi untuk meneruskan perjalanan, saya berpikir, sekecil apapun clurit tetap saja ia senjata tajam yang bisa mematikan. dan, meski ajal gusti allah yang menentukan, kalau memang masih dapat menghindar apa salahnya. peduli amat orang bilang pengecut atau penakut...
nah, bila lain kali kita bertemu dengan orang asing, ingat-ingatlah dia, karena kita tak pernah tahu di lain kesempatan orang yang suka berburuk-sangka-kan malah menolong kita dari situasi yang tidak menyenangkan. namun, tetaplah waspada. dan, mintalah selalu perlindungan dari gusti allah.

wallahu awam bi shawab...

Jumat, 17 April 2009

gubuk terbakar...

Satu-satunya orang yang selamat dari kecelakaan sebuah kapal terdampar di pulau yang kecil dan tak berpenghuni. Pria ini segera berdoa supaya Tuhan menyelematkannya, dan setiap hari dia mengamati langit mengharapkan pertolongan, tetapi tidak ada sesuatupun yang datang.

Dengan capainya, akhirnya dia berhasil membangun gubuk kecil dari kayu apung untuk melindungi dirinya dari cuaca, dan untuk menyimpan beberapa barang yang masih dia punyai.

Tetapi suatu hari, setelah dia pergi mencari makan, dia kembali ke gubuknya dan mendapati gubuk kecil itu terbakar, asapnya mengepul ke langit. Dan yang paling parah, hilanglah semuanya.

Dia sedih dan marah. "Tuhan, teganya Engkau melakukan ini padaku?" dia menangis. Pagi- pagi keesokan harinya, dia terbangun oleh suara kapal yang mendekati pulau itu. Kapal itu datang untuk menyelamatkannya.

"Bagaimana kamu tahu bahwa aku di sini?" tanya pria itu kepada penyelamatnya.

"Kami melihat tanda asapmu," jawab mereka.

Mudah sekali untuk menyerah ketika keadaan menjadi buruk. Tetapi kita tidak boleh goyah, karena Tuhan bekerja di dalam hidup kita, juga ketika kita dalam kesakitan dan kesusahan. Ingatlah, ketika gubukmu terbakar, mungkin itu "tanda asap" bagi kuasa Tuhan. Ketika ada kejadian negatif terjadi, kita harus berkata pada diri kita sendiri bahwa Tuhan pasti mempunyai jawaban yang positif untuk kejadian tersebut.

co-pas dari milis.

Kamis, 26 Maret 2009

yang mulia dan yang hina...

Alkisah di negeri dunia, Pak Hakim yang selalu dihormati dan dimuliakan bertemu dengan Pak Pengemis, terjadilah percakapan antara mereka.

Pak Hakim berkata, "Hai engkau, Pak Pengemis. Aku lihat engkau meminta-minta di setiap sudut kota ini. Padahal engkau meminta-minta bukanlah dalam keadaan lapar ataupun menderita. Badan engkau cukup kuat untuk bisa bekerja keras. Aku lihat pakaianmu sangatlah hina, tetapi uang yang kau dapat ada di atas upah minimum negeri dunia ini," dengan wajah menghina.

"Ya, benar, pakaianku yang aku pakai ini sangatlah hina, tetapi uang yang aku dapat adalah uang yang halal. Pemberian dari orang yang tidak kupaksa untuk memberikannya, mereka dengan ikhlas memberikan kepadaku dengan harapan di dadanya sebagai amal untuk ke kampung surga di dunia akhirat," jawab si Pak Pengemis dengan bangganya.

Singkat cerita, Pak Hakim dan Pak Pengemis berhijrah ke dunia akhirat.

Penjaga negeri akhirat sedang mengatur dan memerika dokumen perjalanan para pehijrah, dan tibalah waktunya Pak Hakim dan Pak Pengemis.

Berkatalah Penjaga negeri akhirat kepada Pak Hakim, "Hai engkau Pak Hakim, kemanakah tujuanmu pergi."

"Aku hendak ke kampung surga di negeri akhirat," jawab dengan lantang dan bangganya Pak Hakim ini.

"TIDAK BISA, engkau tidak bisa ke kampung surga di negeri akhirat ini," dengan beringasnya jawaban penjaga itu.

"Kenapa aku tidak bisa, bukankah aku sebagai Pak Hakim yang mulia sewaktu aku di negeri dunia," jawab Pak Hakim dengan keheranan.

"Benar, pakaianmu adalah mulia sewaktu di negeri dunia, tetapi engkau sendiri yang menanggalkan kemuliaanmu, engkau memberi keadilan dengan dasar suap, siapa yang bisa membayarmu, maka keadilan ada di tangan yang membayarmu," jawab si Penjaga negeri akhirat dengan nada yang sangat marah.

"Maka, tempatmu adalah sebagai penduduk di kampung neraka di dunia akhirat ini," jawab si Penjaga dengan tertawa-tawa.

"AH.. AH.. AH.., SI YANG MULIA DI NEGERI DUNIA, TETAPI YANG HINA DI NEGERI AKHIRAT," tertawalah dengan kerasnya si Penjaga. "AH.. AH.. ALAMATMU ADALAH DI KAMPUNG NERAKA DI NEGERI AKHIRAT INI."

Pak Pengemis setelah mendengar jawaban dari Penjaga tersebut semakin takut, berkatalah ia di dalam hatinya, "Bagaimana mungkin aku yang hina di negeri dunia bisa masuk ke dalam kampung surga di negeri akhirat. Sedangkan Pak Hakim yang mulia pun tidak bisa masuk."

Seakan dapat membaca pikiran si Pak Pengemis, berkatalah Penjaga ini, "TIDAK wahai Pak Pengemis, engkau dapat masuk ke dalam kampung surga di negeri akhirat ini, tempat dambaan setiap penghuni negeri dunia. Benar, engkau adalah yang hina di negeri dunia, tetapi engkau mendapatkan uang yang halal. ENGKAU ADALAH YANG HINA DI DUNIA, TETAPI ENGKAU AKAN MENJADI PENDUDUK KAMPUNG SURGA DI DUNIA AKHIRAT INI," jawab si Penjaga dengan lemah lembutnya dan senyuman yang indah.
seperti biasa co-pas kiriman temen :D. mau jadi hakim atau pengemis? ah, jawabannya tentu tidak sesederhana itu. setiap orang pasti mempunyai pendapat sendiri. mau berbagi? silakan...

Senin, 16 Juni 2008

susahnya jadi orang kecil...

cerita mengenai orang kecil atawa bukan pesohor atawa terkenal atawa ngetop sudah banyak beredar di dunia maya maupun dalam kehidupan keseharian. maksudnya kisah bagaimana orang-orang ini diperlakukan dengan sesuka hati 'oleh orang-orang besar'. adalah pramuwisma paruh waktu di rumah saya yang bercerita dengan ikhlas mengenai rencana pernikahan putranya. saya kutipkan dialognya:
-- bagaimana persiapan nikahnya bu?
++ ya, gitulah... (pasrah, resah, seperti mengeluh)
-- gitu gimana bu...
++ ya... (enggan untuk bercerita)
setelah setengah dipaksa dan dirayu-rayu (halah), barulah si ibu bercerita bahwa untuk mengurus administrasi atau pencatatan pernikahan di kantor urusan agama ia harus mengeluarkan biaya yang jelas-jelas di luar tarif resmi. di tingkat birokrasi paling bawah alias rukun tetangga ia sudah dikenakan tarif sesuka hati. dan, ini jelas sekali tidak bisa ditawar-tawar. aka... kalo lo mau ya segitu, kalo gak ya gak usah kawin.
-- loh, ibu gak protes?
++ yah, orang kecil kayak saya bu. kalau macam-macam nanti malah dikucilin.
pasrah. tak mampu menggugat. inilah yang dialami si ibu. cerita mirip adalah ini.
Berurusan dengan pesohor yang punya akses besar dalam pemberitaan di media massa telah membawa kesulitan tersendiri bagi para petugas ambulans.
betapa karena bukan pesohor alias orang kecil, petugas ambulans harus mengalami sesuatu yang jelas-jelas tak mengenakkan. untungnya, masih ada pesohor yang mau membantu untuk menyuarakan suara mereka.

dari foto di atas ada yang menarik buat saya. coba perhatikan baik-baik yang berkacak pinggang: apa iya karena yang sedang menggelar konperensi pers adalah orang-orang kecil lantas si reporter atau kamerawati itu boleh bertolak pinggang dengan santainya?

ah, itu kan biasa. jangan-jangan hanya saya sendiri yang berlebih-lebihan menilai sebuah foto.

Selasa, 10 Juni 2008

diculik kopilot stres...

+'bu, jalan bahagia itu dimana?'
-'yang di depan sana kan yah? (maksudnya jalan raya di depan perumahan kami)

+'itu bukan jalan kebahagiaan?'
-'ada yang bilang itu jalan bahagia raya'
+'nah, loh...'
-'emang kenapa yah?'
+'tadi baca anak sd diculik di jalan bahagia raya'
-'oh, tadi si ibu di material cerita ada anak sd diculik dibawa naik taksi. seminggu baru dipulangin naik taksi juga.'
+'wah, yang tadi ayah baca gak gitu kok. anak sd itu diculik dibawa pakai taksi. supir taksinya curiga. akhirnya taksi diberhentikan dekat polisi yang sedang berjaga.'
-'lah jadi beda gitu yah ceritanya...'
saya kutipkan sebagian cerita yang didapat dari media indonesia.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Kota Depok Komisaris Rachimat mengatakan kasus penculikan tersebut terjadi pukul 07.00. Kejadian berawal ketika korban, Fendi Sulaeman Lubis murid kelas lima Sekolah Dasar (SD) Negeri Mekar Jaya 21, Kecamatan Sukma Jaya akan berangkat ke sekolah.

Di tengah jalan, korban yang ke sekolah dengan berjalan kaki dari rumahnya Pondok Sukma Jaya Permai, Jalan Bahagia Raya, dibawa kabur tersangka yang saat itu menumpang taksi. Pengemudi taksi curiga yang curiga kemudian menghentikan kendaraannya di lampu merah Jalan Insinyur Juanda, Kota Depok dan melaporkan kasus penculikan tersebut ke polisi yang bertugas di lokasi tersebut.

Bersama sopir taksi, Mandar, dan Fendi dibawa polisi ke Mapolres Metro Depok untuk diperiksa. Saat diperiksa, dihadapan petugas, Mandar membantah bahwa ia tidak menculik Fendi. "Saya tidak menculik. Saya menolong Fendi karena terjatuh ke tanah," katanya.
berkembangnya cerita dari mulut ke mulut dengan berbagai citarasa memang sudah lumrah. sementara penerima cerita enggan pula mencari sumber yang sebenarnya. (tapi ngapain juga sih, si ibu di material sampai datang ke mapolres depok, misalnya, buat nyari berita? malah bisa-bisa dianggap mau ngapa-ngapain lagi :d)

yang lebih menarik, atau lucu, atau tragis, atau ironis, si penculik ini mengaku-ngaku sebagai kopilot sebuah maskapai penerbangan. saat dikonfirmasi lewat ibunya, mariani, ternyata ucapan mandar bohong adanya. masih kata ibunya
...tidak benar copilot RSIA... Muliani mengakui pikiran anaknya sudah terganggu sejak 2003 setamat dari STM.
jadi naik atu tidak naik bbm, orang stres sebenarnya sudah ada dari dulu kan, tidak seperti kata ini: kenaikan bbm, orang stres di depok bertambah.

Kamis, 10 April 2008

banyak jalan menuju em-pe...

beberapa hari ke belakang, para pemilik akun di multiply menjadi resah dan gelisah karena mereka tidak mampu membuka situs tempat menyimpan segala pernik dan juga sarana bertukar informasi maupun berniaga. begitu pula mereka yang biasa mendownload film lewat youtobe juga harus gigit jari.

kadang multiply pagi tak bisa dilihat. eh, tahu-tahu sorenya 'hidup' lagi. besoknya pagi bisa, eh, sore 'tewas'. malahan ada yang menggunakan internet service provider tertentu sama sekali tidak bisa membuka situs-situs kesayangan mereka. para blogger di mp pun kebingungan. lebih bingung lagi adalah para pedagang yang berniaga lewat mp. bagaimana mau balik modal kalau mp-nya saja tidak bisa dibuka. begitu pula dengan para narsis, eh, mahaf, tak mampu lagi mempertontonkan kenarsisannya.

siapa sih yang iseng dan sepertinya tidak punya kerjaan yang memblokir lalulintas di mp dan u2b? tentunya mereka yang mempunyai kekuasaan untuk memerintahkan menutup situs-situs tersebut. awalnya konon yang diperintahkan untuk diblokir adalah situs-situs yang mempertontonkan hal-hal yang berhubungan dengan syahwat dan segala saudaranya. lantas para penggemar situs tiga-x pun gigit jari juga. (menarik mendengar komentar seorang pendengar radio mengenai penutupan situs-situs itu: ah, repot-repot amat sih, langsung aja ke glodog).

konon penutupan mp adalah imbas dari sebuah film yang disebut-sebut sebagai penghinaan terhadap agama islam dan disebarluaskan lewat u2b. padahal u2b bukanlah satu-satunya tempat menaruh file film (bukankah begitu?). entah bagaimana caranya dan jadinya, kok ya mp ikutan kena blokir juga. canggih pisan euy teknologi yang dipakai ya. barangkali prinsipnya sekali tepuk dua sampai lima nyamuk mati.

seiring dengan penutupan itu, sumpah-serapah, caci-maki, hujatan, omelan serta protes bertubi-tubi dilancarkan. ada juga yang membuat petisi online. sejalan dengan segala bentuk ketidaksukaan itu adalah munculnya cara-cara untuk menyiasati membuka situs-situs 'terlarang' itu. ada yang mengusulkan lewat sini, ada yang bilang jalan situ dan lain sebagainya. akhirnya jadi banyak jalan menuju roma, eh, membuka blokiran.

kalau dipikir-pikir atau dihitung-hitung, mana sih yang lebih penting mengatur lalulintas di dunia maya yang notabene merupakan sarana untuk mencari aneka informasi baik yang positip (atau negatif tergantung pemakainya, seperti pisau bermata dua) dengan ngurusin minah yang dikonversi dengan elpiji tiga kilo? atau... ah, sebaiknya saya berhenti sebelum ngalor-ngidul gak karu-karuan.

Jumat, 29 Februari 2008

antara saint, sains dan mbebek...

sebentar lagi siswa-siswi tingkat sd akan mengikuti awalnya adalah untus (ujian nasional terintegrasi ujian sekolah) sekarang berdasarkan permen nomor 39 tahun 2007 menjadi uasbn alias ujian akhir sekolah berstandar nasional. kalau tidak ada perubahan lagi apa sih yang tidak berubah di negara ini? uasbn diadakan tanggal 13-15 mei 2008.

menyambut perhelatan yang baru pertama kali digelar untuk anak sd ini, bermunculanlah aneka kain rentang dari sekolah-sekolah tingkat smp, swasta maupun negeri yang menjual dirinya bahwa mereka adalah sekolah yang pernah juara di sana, juara di sini, akreditasi plus dan lain sebagainya. tujuannya hanya satu menarik para lulusan sd itu ke tempat mereka.


hari-hari ini selain sibuk menyiapkan diri untuk ujian akhir, para siswa-siswi sd itu juga sibuk bergelut dengan aneka soal dari berbagai mata pelajaran untuk mengikuti tes masuk smp. berat nian perjuanganmu nak. di antara sekolah-sekolah itu ada satu sekolah yang di mata saya mempunyai kriteria pengumuman kelulusan (diterima-tidaknya di sekolah itu) yang agak aneh. para peserta baru akan diumumkan lulus-tidaknya kalau peserta itu sudah membayar semua biaya untuk masuk ke situ. atau lucu malahan ya? belum tentu masuk (meski lulus alias keterima) kok sudah harus bayar-membayar.

kalau ada kilah 'ini adalah urusan gua sepenuhnya' tentu sah-sah saja dan kalaupun ingin diteruskan 'kalo mau masuk kandang bebek ya harus mbebek dong jangan mengaum' ya boleh juga kok.

ah, dunia pendidikan di endonesyah memang ajaib, seperti yang terpampang pada gambar di atas. itu gambar asli loh bukan rekayasa dan sampai tadi pagi saya lewat masih bertengger dengan aman di tempatnya. oh, ya, lokasinya di dekat tmp kalibata arah pasar minggu. dan, sebagai bonus akhir pekan inilah dia dengan disertai permohonan maaf kepada bapak dan ibu guru yang terhormat:
Guru : "Anak anak, Indonesia terletak antara dua samudra dan dua...?"
Murid : "Benuaaaa... .!"
Guru : "Salah ! Yang benar Indonesia terletak diantara dua samudra dan dua duanya amatlah dalam...!"
Guru : "Sekarang flora dan fauna. Kalau ikan paus binatang mamalia, buaya binatang reptilia, kambing binatang herbivora. Sedangkan macan adalah binatang.... ?"
Mudrid : "Carnivora !"
Guru : "Kalian ini memang goblok ....Macan adalah binatang yang amat menakutkan.. .!"
Murid : ??????
Guru : "Sekarang tentang kesehatan. Kemarin si budi jatuh dari pohon, dia pingsan, tungkainya mengenai batu tajam sehingga keluar...?"
Murid : "Darahhh.... !"
Guru : "Eeee e e eee, Benar benar goblok! Yang benar Dia pingsan, tungkainya mengenai batu tajam sehingga keluarganya kelabakan... !"
Murid: %$%@^#$@^%#$ @@#@

Selasa, 27 November 2007

cinta, penuh biaya dan perhitungan...

katanya sih ini cerita asli yang pernah dimuat di majalah fortune. seorang gadis dengan pedenya menuliskan surat yang berjudul: What should I do to marry a rich guy?. dan, gayung bersambut, seorang pemuda menjawab dengan gamblang:
I'm going to be honest of what I'm going to say here. I'm 25 this year. I'm very pretty, have style and good taste. I wish to marry a guy with $500k annual salary or above. You might say that I'm greedy, but an annual salary of $1M is considered only as middle class in New York. My requirement is not high. Is there anyone in this forum who has an income of $500k annual salary? Are you all married? I wanted to ask: what should I do to marry rich persons like you? Among those I've dated, the richest is $250k annual income, and it seems that this is my upper limit. If someone is going to move into high cost residential area on the west of New York City Garden (?), $250k annual income is not enough.

I'm here humbly to ask a few questions:
1) Where do most rich bachelors hang out? (Please list down the names and addresses of bars, restaurant, gym)
2) Which age group should I target?
3) Why most wives of the riches is only average-looking? I've met a few girls who doesn't have looks and are not interesting, but they are able to marry rich guys
4) How do you decide who can be your wife, and who can only be your girlfriend? (my target now is to get married)

Ms. Pretty

Here's a reply from a Wall Street Financial guy:

Dear Ms. Pretty,
I have read your post with great interest. Guess there are lots of girls out there who have similar questions like yours. Please allow me to analyze your situation as a professional investor. My annual income is more than $500k, which meets your requirement, so I hope everyone believes that I'm not wasting time here.

From the standpoint of a business person, it is a bad decision to marry you. The answer is very simple, so let me explain. Put the details aside, what you're trying to do is an exchange of "beauty" and "money": Person A provides beauty, and Person B pays for it, fair and square.

However, there's a deadly problem here, your beauty will fade, but my money will not be gone without any good reason. The fact is, my income might increase from year to year, but you can't be prettier year after year. Hence from the viewpoint of economics, I am an appreciation asset, and you are a depreciation asset. It's not just normal depreciation, but exponential depreciation. If that is your only asset, your value will be much worried 10 years later

By the terms we use in Wall Street, every trading has a position, dating with you is also a "trading position". If the trade value dropped we will sell it and it is not a good idea to keep it for long term same goes with the marriage that you wanted. It might be cruel to say this, but in order to make a wiser decision any assets with great depreciation value will be sold or "leased". Anyone with over $500k annual income is not a fool; we would only date you, but will not marry you. I would advice that you forget looking for any clues to marry a rich guy. And by the way, you could make yourself to become a rich person with $500k annual income. This has better chance than finding a rich fool.

Hope this reply helps. If you are interested in "leasing" services, do contact me
signed, J.P. Morgan
yang seperti ini mungkin tidak ya dilakukan di indonesia. beranikah wanita indonesia melakukan ini? jangan-jangan malah dilabel matre. serba salah ya.

Senin, 12 November 2007

jangan (coba-coba) tidur di angkutan umum...

kemarin malam menjelang pagi berarti sudah hari senin, saya berpulang ke rumah harus bertaksi. masuk taksi saya sudah berancang-ancang ingin memicingkan mata. lumayanlah jarak tebet-depok 'kan dapat ditempuh dalam waktu hampir satu jam. saya juga sudah menyiapkan earphone untuk lebih menidurkan diri sekaligus sebagai penolak ajakan pak supir mengobrol. seperti biasa, pak supir berbasa-basi menanyakan arah. saya pun ikut berbasa-basi. dan, saya berpikir cukuplah berhenti di situ.

ternyata oh ternyata. pak supir meneruskan obrolan. sekali saya masih menyahuti. tapi, tangan udah mulai kasak-kusuk memasang earphone. eh, tak berhenti bicara dia. padahal mata sudah semakin sepet. ia bercerita
atau mengeluh? betapa lebih enak menjadi supir taksi pada masa presiden sebelum ini. bayangkan pak, katanya, duh, saya yang sudah semakin kedinginan dan membuat kantung tidur di mata, masih diminta membayangkan urusan ekonomi yang jelas-jelas bukan bidang saya.

lalu tanpa diminta dua kali, pak supir meneruskan khotbahnya. saya tidak bilang bahwa pemerintahan sekarang lebih jelek dari sebelumnya pak, ujarnya. tapi, sejak kenaikan be-be-em itu makin habislah penghasilan saya, imbuhnya. saya hanya mengiyakan tidak menolak atau menerima, tapinya. alhasil, sampai dekat rumah si bapak terus mengajak berdiskusi. selamatlah saya dari kantuk.

tadi pagi saat berangkat matapun masih terasa berat. enaknya kembali menidurkan diri untuk kurang lebih dua jam perjalanan, saya membatin. namun harapan tinggalah harapan. manusia memang boleh berencana sesuka hati, tapi keadaan di jalanlah yang menentukan. sang supir angkot barangkali pensiunan supir bajaj. bawa mobilnya kotor, meminjam istilah tetangga sebelah. bukan hanya itu, ia pun tak sungkan untuk meneriaki seorang anak sekolah yang kurang membayar limaratus rupiah. masih nekad tidur dalam keadaan seperti itu? silakan saja.

bagi saya supir taksi yang mengantuk tapi kalau ditanya jawabnya: tidak, lebih baik seperti supir taksi kemarin. karena ia tetap terjaga. artinya keselamatan lebih terjamin, insya allah. namun kadang suasananya tidak selalu pas. adakalanya saya sengaja mengajak bicara karena memperhatikan si supir menyetir bagai orang mabuk. atau seperti supir angkot itu yang mengemudi seenak hati dan tidak ada sopan-sopannya.

ah, barangkali saya berharap terlalu banyak ya. ah, barangkali saya harus berempati lebih, lebih dan lebih lagi. mencoba berpikir, bersikap dan bertindak bagai sang supir taksi atau angkot. ah, bisakah saya?

Sabtu, 03 November 2007

olahraga, tidak perlu...

seturut orang tua, bapak dan ibu guru olahraga serta pihak-pihak yang berkompeten lainnya bahwasanya olahraga akan menyehatkan badan. kalau badan sehat, jiwapun turut sehat. begitulah petuah yang saya terima waktu masih anak-anak dulu. benarkah demikian?

logikanya memang demikian. kalau badan sehat karena olahraga maka pikiran jadi cerah. berpikir jadi cerdas. wawasan tambah luas. mental otomatis ikut ceria. tapi, saudara-saudariku sebangsa dan setanah air, dua kali dua itu memang tidak harus empat hasilnya. mundur juga bukan budaya kita yang katanya berbudaya tinggi. petinggi kita lebih suka memilih 'kalau bisa tidak mundur kenapa harus turun jabatan. seperti dikutip dari ini:
Saya hanya mematuhi keputusan organisasi. Wapres, bahkan Presiden, tidak bisa melakukan intervensi kepada PSSI.
ah, kalau begini, saya tidak perlu berolahraga lagi yah. ah, saya bukan pengamat olahraga kok. ah, masak sih bapak presiden juga harus ngurusin yang ini.

Jumat, 26 Oktober 2007

mari hidup susah...

pengin susah? kalau sepuluh orang ditanyakan itu, sepertinya sepuluh kepala tadi akan menggeleng-geleng. dan, jadi susah ternyata tidak mudah. ada sekolahnya juga. yuk, belajar jadi susah:
Untuk menjadi kaya, semua orang bisa instan melakoni. Namun, tidak siapa saja siap menjadi orang susah.

Orang miskin baru kian banyak. Penganggur baru menambah bengkak angka kemiskinan. Bisa jadi, itu sebabnya, selain angka bunuh diri tinggi, tiga dari sepuluh orang Indonesia tercatat terganggu jiwanya.

Tidak siap hidup susah berisiko sakit jiwa. Ada cara sederhana menekan risiko sakit jiwa. Sejak kecil anak dibuat tahan banting. Ketahanan jiwa anak harus dibangun. Untuk itu, jiwa butuh “imunisasi”.

Menerima kenyataan
Sejak kecil anak diajar lebih membumi. Yang gagal kaya rela menerima kenyataan. Yang belum pernah hidup susah diajar prihatin sedari kecil. Kendati kecukupan, tidak semua yang anak minta perlu diberi. Anak dilatih merasakan kegagalan.

Tugas orangtua dan guru mengajak anak berempati pada kesusahan orang lain. Hidup tak luput dari berbagai stresor. Tak semua stresor jelek. Supaya jiwa tahan banting, stresor dibutuhkan. Anak perlu mengalami seperti apa tekanan hidup, konflik, kegagalan, rasa kecewa, dan krisis dalam hidup. Seperti vaksin, biasakan anak memikul aneka stresor yang bikin jiwanya kebal seandainya kelak hidupnya susah.

Tanpa dilatih hidup susah, anak yang terbiasa hidup berkecukupan tak tahan banting. Lebih banyak orang sukses lahir bukan dari keluarga kecukupan. Hidup prihatin membuat jiwa tegar bertahan melawan kesusahan. Hidup susah membangun mimpi ingin lepas dari rasa kapok menjadi orang susah. Demi mengubah mimpi jadi kenyataan, spirit kerja keras pun dipecut.

Einstein percaya, untuk sukses diperlukan lima persen otak, selebihnya keringat (perspirasi) . Spirit kerja keras menjadi milik orang yang tak pernah puas pada prestasi yang diraih. Seperti bangsa Troya dulu, pembangunan Jepang dan Korea lebih pesat ketimbang bangsa sepantar karena memiliki “virus” n-Ach (need-for-Achieveme nt) yang tinggi.

”Virus” n-Ach bisa ditularkan kepada anak lewat asuhan dan pendidikan. Bacaan memuat nilai kehidupan, termasuk mendongeng, pendidikan berdisiplin, dan keteladanan orang lebih tua. Itu modul-modul kehidupan agar anak tahu juga hidup susah.

Jiwa getas
Kebiasaan meloloh anak dengan kelimpahruahan tidak melatih anak merasakan gagal, kecewa, rasa ditekan, rasa konflik, atau rasa krisis. Tanpa tempaan stresor, jiwa getas. Jika jiwa getas, orang rentan stres. Bila tak terlatih hidup berdamai dengan stres, hidup berisiko gagal andai harus jatuh miskin.

Tak ada sekolah yang mengajarkan menjadi orang miskin. Tak pula ada kursus memampukan anak terbiasa hidup berdamai dengan stres. Yang bisa kita lakukan adalah mengasuh dan mendidik anak tahan banting. Mandat itu harus ada di pundak setiap orangtua.

Tidak semua anak kecukupan pernah mengalami stresor. Dalam pendidikan modern, anak sengaja dihadapkan pada stresor buatan. Ada pelatihan diam-diam, dalam suasana berkemah atau outbound diciptakan situasi krisis. Mobil sengaja dibuat mogok di tengah hutan pada malam hari, atau kehabisan makanan selagi camping.

Dihadang stresor buatan, anak dilatih bagaimana bereaksi, beradaptasi, agar mampu lolos dari rasa panik, rasa takut, rasa tidak enak berada dalam situasi darurat. Ini bagian dari upaya membuat kebal jiwa anak. Bila jiwa tak tahan banting, sontekan stres kecil mungkin diatasi dengan bunuh diri. Kini semakin banyak kasus bunuh diri hanya karena alasan enteng. Gara-gara ditinggal pacar, tidak naik kelas, sebab jiwa tak terlatih memikulnya. Maka jiwa perlu digembleng.

Kerja keras
Menggembleng berarti menunjukkan rasa arah hidup prihatin, selain berdisiplin. Hidup berdisiplin berarti menjunjung tinggi kebenaran, memikul tanggung jawab, kerja keras, serta mampu menunda kepuasan.

Menunda kepuasan bentuk keunggulan sebuah bangsa. Bangsa unggul memiliki “virus” n-Ach tinggi. Anak yang diasuh dan dididik dengan nilai-nilai “virus” n-Ach, menyimpan bekal sukses. Itu kelihatan, misalnya, dari cara makan. Anak dengan n-Ach tinggi menyisihkan yang enak dimakan belakangan, yang tidak enak dimakan dulu. Tugas berat dikerjakan dulu, yang enteng belakangan. Bersakit-sakit dulu bersenang-senang kemudian menjadi kredo bangsa yang sukses.

Agar tahu hidup susah, anak diajak memahami bahasa hidup bukan uang semata. Tak semua semerbak kehidupan bisa dipetik dengan uang. Kebahagiaan tertinggi hanya terpetik setelah orang mampu merasa bersyukur meski cuma menjadi orang biasa (mengutip Gede Prama).

Sukses hidup sejati tak mungkin terpetik instan. Jiwa potong kompas, ingin lekas kaya, tumbuh dari budaya instan. Bukan rasa arah yang benar saja yang perlu ditanamkan saat membesarkan anak, tetapi harus benar pula menempuhnya di mata Tuhan.

Anak disiapkan menjadi insan linuwih (terinternalisasi penuh superegonya) dengan cara mengempiskan egonya sekecil mungkin. Rekayasa sosial (social engineering) diperlukan dengan menyuntikkan “vaksin” hidup prihatin. Perlu pula penyubur superego agar kendati hidup susah masih merasa bahagia.

Hanya bila bibit linuwih dipupuk sejak kecil, sekiranya hidup susah tak tergoda memilih serong. Kendati tak banyak harta, uang, atau kuasa, ke arah mana pun hidup memandang, merasa tetap “kaya”. Mampu legawa, bersyukur, dan merasa berbahagia sudah pula meraih Oscar kehidupan, kendati mungkin hanya menjadi orang biasa.
penulis artikel di atas adalah handrawan nadesul (saya suka kepeleset menyebutnya hendrawan :d) adalah dokter yang juga suka menulis cerpen. saya juga senang membaca cerpen-cerpennya. entah apakah sampai sekarang beliau masih menulis cerpen. artikel asli bisa diklik di sini.

Kamis, 13 September 2007

bandung dan ta'jil...

"mas, jangan lupa kamis, 13 september kita ke bandung. berangkat dari kantor jam delapan," kata teman dari bina usaha. hah, kamis? itu kan hari pertama puasa. omg. tapi puasa ramadhan tentu tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak mengerjakan tugas. apapun yang terjadi 'the show must go on' beibeh. demi mengejar jam delapan, saya harus menggunakan taksi menuju kantor. alhamdulillah kurang dari jam enam saya sudah tiba di depan pintu pagar yang masih digembok. hari ini saya bikin rekor muri datang lebih pagi dari office boy.

secara hari pertama shaum, yang namanya matanya sepet-sepet minta ditutup. apalagi malamnya pulang larut juga. ya, sudahlah, namanya juga karyawan. ditunggu saja teman yang ngajak itu. dan, menunggu semua orang tahu merupakan pekerjaan yang paling menjemukan. dentang jam delapan berlagu, yang bersangkutan belum tampak hidung. setengah sembilan baru kelihatan. siap-siap. hore, jadi berangkat. sampai di depan, pak satpam lapor, mobilnya lagi diisi solar. lengkap sudah penantianku :d.

alhamdulillah. tol cipularang memang sangat menyingkat perjalanan. sekitar dua jam setengah kami sudah sampai di tujuan. oh, ya, itu tiket tol kok ya sampai licin tak bergambar lagi ya. teman saya juga pernah mengalami ini dan petugas tolnya bingung menanyakan teman itu masuk dari mana. kok ya ngono toh mas. selesai presentasi bla-bla, ya langsung kembali ke jakarta. kalau tidak sedang shaum ya wisata kuliner dulu dong. bandung gitu loh, masak dilewatin aja :d.
sempat masuk rest area buat dhuhur, kami tiba kembali di kantor jam tiga kurang.

setibanya di kantor di meja sudah ada kantong kresek putih. tidak salah lagi. ini pasti ta'jil dari boz. sudah bertahun berjalan kebiasaan ini ada. menunya jelas bukan untuk makan besar karena ta'jil memang diperuntukan membatalkan shaum. selama ramadhan jam kantor memang maju satu jam. tapi, itu adalah teori. praktiknya seperti hari-hari biasa saja. tak mengapalah, puasa janganlah dipakai untuk bermalas-malasan. atau alasan yang tak jelas. dan, menu ta'jil hari ini bisalah ditengok di sebelah.

Jumat, 07 September 2007

maaf, (saya lebih mulia...)

yang minta maaf lebih dahulu,
dalam islam kedudukannya lebih mulia...
setelah pak fulan tampak punggung barulah saya sadar dengan ucapannya. dan, juga terpukau bengong. sayah jelas bukan ahli dalam masalah 'maaf-maafan' karenanya sayah bingung juga. entah dapat wangsit dari mana pak fulan bicara seperti itu. atau sayah yang 'kuper'.

secara pikiran gampang sayah, kalau seseorang melakukan kesalahan (apapun bentuknya, kata atau tindak)ya sudah seharusnya meminta maaf. tak perlu menunggu. tidak juga pakai imbuhan atau embel-embel apa-apa. tidak pula dilumuri pamrih apapun. urusan diterima atau tidaknya niat maaf kita, sepertinya, sudah sepenuhnya hak prerogratif sang khalik kan.

iya gak sih?

maaf pak fulan, omongan sampeyan saya kutip di sini. terima kasih sampeyan sudah mengajarkan saya. dan, menjelang shaum ramadhan 1428 hijriah, saya, istri dan nanda, dari lubuk hati yang paling dasar, mohon maaf atas segala kesalahan kepada para pembaca, baik karena posting-an yang ngawur atau komentar yang ngaco yang barangkali melukai perasaan. dan, insya allah shaum ramadhan kali ini lebih baik dari sebelumnya. amin.

Selasa, 04 September 2007

gak dipercaya lagi...

sekali lancung ke ujian,
seumur hidup orang tak percaya
++ kalau dipikir-pikir kejam sekali ya. masak sih gara-gara bikin salah sekali lantas tuh orang gak dipercaya lagi? seumur hidup pula.
-- itu kan cuma peribahasa.
++ iya sih. tapi sadis banget.
-- kalo gua pikir sih, perlu ada peribahasa seperti itu. dalam artian, biar orang gak seenaknya aja.

dikasih kepercayaan malah disalahgunakan. inilah yang kadang terjadi. sayang, karena ingin dikenal orang, segala cara jadinya halal. pengin ngetop tapi yang diambil jalan pintas. mengapa contoh seperti itu yang kau tiru?

jalanmu masih panjang bro, barangkali. tapi sudah kau goreskan tinta belang pada warna kehidupanmu. kami marah.

Senin, 06 Agustus 2007

indonesia raya (baru) tapi lama...

roy suryo lagi? atau, ah, roy suryo. begitu barangkali komentar pertama ketika membaca berita mengenai indonesia raya yang diakui sebagai temuannya bersama yayasan air putih.

tetapi cobalah simak komentar ini:
2. Air Putih tidak pernah bekerjasama dan/atau membentuk tim khusus dengan Roy Suryo, terkait dengan penemuan klip Indonesia Raya. Dan ditegaskan pula bahwa Roy Suryo bukanlah anggota Air Putih, dan juga bukan pimpinan Air Putih.
selengkapnya silakan klik ini

nah, kan, padahal kata ini lagu itu sudah di-upload ke youtobe sejak akhir tahun lalu. apa karena 'nama besar' pesohor ahli telematika itu ya yang bikin orang-orang heboh. coba si fulan atau siapa saja yang tak punya nama berkoar-koar atas 'penemuan' itu, dijamin dah gak bakalan ada yang ngeributin.

gak percaya? coba aja :d

Minggu, 08 Juli 2007

dewi, adil mencarimu..

kalau kamu mau jadi orang baik-baik, jangan tanggung-tanggung, jadilah orang alim seperti biksu di wihara. dan, kalau mau jadi orang tidak benar, jadilah bajingan paling hebat jangan tanggung-tanggung.
begitulah kata orang-orang tua china jaman dulu, kalau tidak salah sih.

nah, kalau anda sempat membaca berita kuli panggul dipenjara 8 bulan karena mencuri 10 kilogram bawang merah, sementara korupsi 14 miliar kena 1,5 tahun. bolehlah kita menerka-nerka dimanakah dewi keadilan bersembunyi? atau jangan-jangan sang dewi memang sudah tidak ada.

kembali ke kutipan di atas, secara sederhana itu kan pengin bilang, kalau ingin mengerjakan sesuatu ya jangan setengah-setengah. harus seratus persen. harus jadi. atau tidak sama sekali. atau mending korupsi daripada nyuri bawang, gitukah? tentu saja, saya tidak menganjurkan anda menjadi bajingan. atau, ah, saya juga bingung jadinya...
 

Ganator Blog's Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger