Warung Bebas
Tampilkan postingan dengan label inspiration. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspiration. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Februari 2010

peradaban tukang bakso...

belajar tak harus di sekolah atau secara formal. pada siapapun. atau di manapun. kali ini, belajar peradaban dari tukang bakso...
Setiap kali menerima uang dari orang yang membeli bakso darinya, Pak Patul mendistribusikan uang itu ke tiga tempat: sebagian ke laci gerobagnya, sebagian ke dompetnya, sisanya ke kaleng bekas tempat roti.

“Selalu begitu, Pak?” saya bertanya, sesudah beramai-ramai menikmati bakso beliau bersama anak-anak yang bermain di halaman rumahku sejak siang.

“Maksud Bapak?” ia ganti bertanya.

“Uangnya selalu disimpan di tiga tempat itu?”

Ia tertawa. “Ia Pak. Sudah 17 tahun begini. Biar hanya sedikit duit saya, tapi kan bukan semua hak saya.”

“Maksud Pak Patul?” ganti saya yang bertanya.

“Dari pendapatan yang saya peroleh dari kerja saya terdapat uang yang merupakan milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan.”

Aduh gawat juga Pak Patul ini. “Maksudnya?” saya mengejar lagi.

“Uang yang masuk dompet itu hak anak-anak dan istri saya, karena menurut Tuhan itu kewajiban utama hidup saya. Uang yang di laci itu untuk zakat, infaq, qurban dan yang sejenisnya. Sedangkan yang di kaleng itu untuk nyicil biaya naik haji. InsyaAllah sekitar dua tahun lagi bisa mencukupi untuk membayar ONH. Mudah-mudahan ongkos haji naiknya tidak terlalu, sehingga saya masih bisa menjangkaunya.”

Spontan saya menghampiri beliau. Hampir saya peluk, tapi dalam budaya kami orang kecil jenis ekspressinya tak sampai tingkat peluk memeluk, seterharu apapun, kecuali yang ekstrem misalnya famili yang disangka meninggal ternyata masih hidup, atau anak yang digondhol Gendruwo balik lagi.

Bahunya saja yang saya pegang dan agak saya remas, tapi karena emosi saya bilang belum cukup maka saya guncang-guncang tubuhnya. Hati saya meneriakkan “Jazakumullah, masyaallah, wa yushlihu balakum!” tetapi bibir saya pemalu untuk mengucapkannya. Tuhan memberi ‘ijazah’ kepadanya dan selalu memelihara kebaikan urusan-urusannya.

Saya juga menjaga diri untuk tidak mendramatisir hal itu. Tetapi pasti bahwa di dalam diri saya tidak terdapat sesuatu yang saya kagumi sebagaimana kekaguman yang saya temukan pada prinsip, managemen dan disiplin hidup Pak Patul. Untung dia tidak menyadari keunggulannya atas saya: bahwa saya tidak mungkin siap mental dan memiliki keberanian budaya maupun ekonomi untuk hidup sebagai penjual bakso, sebagaimana ia menjalankannya dengan tenang dan ikhlas.

Saya lebih berpendidikan dibanding dia, lebih luas pengalaman, pernah mencapai sesuatu yang ia tak pernah menyentuhnya, bahkan mungkin bisa disebut kelas sosial saya lebih tinggi darinya. Tetapi di sisi manapun dari realitas hidup saya, tidak terdapat sikap dan kenyataan yang membuat saya tidak berbohong jika mengucapkan kalimat seperti diucapkannya: “Di antara pendapatan saya ini terdapat milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan.”

Peradaban saya masih peradaban “milik saya”. Peradaban Pak Patul sudah lebih maju, lebih rasional, lebih dewasa, lebih bertanggungjawab,lebih mulia dan tidak pengecut sebagaimana ‘kapitalisme subyektif posesif’ saya. oleh Emha Ainun Nadjib.

Kamis, 28 Januari 2010

sabar, sabar dan sabar...

mau jadi penulis? atau sudah menulis? atau sudah mengirim naskah tapi ditolak dan sudah berkali-kali? jangan putus harapan. jangan berhenti. teruslah menulis. perbanyaklah sabar. karena sabar itu tak bertepi. kutipan dari 'Message of Monday' karangan Sonny Wibisono, yang menceritakan kesabaran grisham, mungkin bisa membuat anda semakin sabar:
Tapi, kisah tentang John Grisham bolehlah disimak. Grisham adalah penulis novel terlaris era 1990-an. Novel pertamanya yang berjudul "A Time To Kill", ditulis pada 1984 dan selesai 3 tahun kemudian. Saat ia menulis novel tersebut, Grisham masih menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Mississippi. Dia berprofesi pula sebagai pengacara. Tahun 1990, ia melepaskan jabatannya sebagai anggota dewan. Nama besar sebagai anggota dewan dan pengacara ternyata tak menjamin bahwa novel pertamanya diminati oleh penerbit. Coba tebak, sampai berapa kali novel pertamanya harus ditawarkan ke penerbit? Tak kurang dari 16 agen dan lebih dari 30 penerbitan menolak novel pertama Grisham.

Novelnya tersebut akhirnya dibeli juga oleh satu penerbit, Wynwood Press. Dicetak sebanyak 5 ribu eksemplar dan terbit bulan Juni 1988. Novel ini disambut adem ayem oleh para pembaca di negeri Paman Sam. Walau Grisham sendiri telah membeli 1000 kopi untuk ia jual sendiri dengan berkeliling ke daerah Selatan Amerika, tapi novel pertama Grisham dipasaran dapat dikatakan tidaklah sukses.

Menyerahkah Grisham menulis novel? Tidak. Ia kemudian melanjutkan menulis novel keduanya, `The Firm'. Grisham tetap konsisten dengan aturan yang ia buat sendiri. Setiap pagi dirinya harus bangun jam lima pagi dan menyempatkan untuk menulis selama satu jam. Setelah selesai dengan novel keduanya ini, ia kembali menawarkan pada penerbit yang sama. Tetapi Grisham kaget bukan kepalang, karena novelnya dibeli seharga 600 ribu US dolar, bukan oleh penerbitnya, tapi oleh Paramount Pictures. Pihak Paramount Pictures yakin bahwa film yang diangkat dari novel `The Firm' akan sukses bila dibintangi oleh pemain sekaliber Tom Cruise. Tentu saja perjanjian yang melibatkan uang dalam jumlah besar membuat banyak pihak dan para penerbit yang tadinya menolak karya Grisham mau tak mau menoleh kembali. Begitulah kisah Grisham di awal ketika ia pertama kali menulis novel.

Senin, 20 April 2009

toko tumpukan buku...

dengan buku kita menambah wawasan. lewat buku juga kita memperluas jejaring. melalui buku pula banyak hal lain akan didapat... tapi tentu saja bukan semua jenis buku bermanfaat. bagaimanapun kita tetap harus memilah-milah sesuai kebutuhan...

itu dari segi isi. dari segi harga akan lain ceritanya. sudah menjadi rahasia umum kalau harga buku di (indonesia terbilang) mahal. ini berlaku untuk buku lokal. terlebih lagi buku impor, dimana importir buku (mungkin toko buku besar atau penerbit) menggunakan kurs sendiri yang harganya jauh diatas kurs pasar. salahkah mereka? menyangkut bisnis atau usaha. boleh jadi, hal ini sah-sah saja adanya.

lantas dimana bisa didapat buku murah? tapi masih dalam keadaan bagus alias layak baca? di lapak buku. lapak? itu kan tempat ngumpulnya buku bekas. tidak. tidak selamanya lapak buku hanya berisikan buku bekas. seperti yang ada di jalan tole iskandar-depok ini (mudah dicari, gampang ditemukan. dari jalan raya bogor lazim disebut simpangan depok lebih mudah didatangi. kalau dari margonda, pilihlah arah ke simpangan depok. di daerah margonda, dekat kober, kalau saya tak salah ada juga lapak seperti ini). meski ada papan nama 'toko buku' janganlah dibayangkan toko buku seperti di mal atau pusat-pusat perbelanjaan.

bagi yang belum pernah (atau terbiasa ke sini) mungkin akan bingung dan mengira ini hanya lapak buku untuk dikilo-in. padahal kalau mau masuk ke dalamnya dan bertanya buku-buku pelajaran dari tingkat sd hingga perguruan tinggi. buku baru atau lama? anda mau yang baru atau yang lama? :)-. dua-duanya ada. kalau ingin menjual buku-buku bekas yang sudah tidak dipakai lagi bisa juga ke sini (tapi kalau bisa di'waris'kan kepada yang membutuhkan tentunya akan lebih baik. ke sekolah, misalnya).

soal harga bagaimana? dijamin lebih murahkah? sebaiknya anda window shopping dulu di toko buku atau gugling saja secara online sehingga mendapatkan patokan harga. setelah sampai di 'toko buku' ini silakan tawar-menawar dengan pemiliknya. saran saya, jangan hanya melihat dan lantas menyimpulkan buku yang dicari tidak ada. belum tentu seperti itu. tanyakan dulu, sangat boleh jadi buku yang anda cari ada di tumpukan paling bawah. (seperti nanda yang mencari majalah game, tinggal bilang dan akan dibawakan setumpuk yang bisa dipilih)

berminat? silakan... gambar lainnya dapat dilihat di sini.

Jumat, 26 Oktober 2007

mari hidup susah...

pengin susah? kalau sepuluh orang ditanyakan itu, sepertinya sepuluh kepala tadi akan menggeleng-geleng. dan, jadi susah ternyata tidak mudah. ada sekolahnya juga. yuk, belajar jadi susah:
Untuk menjadi kaya, semua orang bisa instan melakoni. Namun, tidak siapa saja siap menjadi orang susah.

Orang miskin baru kian banyak. Penganggur baru menambah bengkak angka kemiskinan. Bisa jadi, itu sebabnya, selain angka bunuh diri tinggi, tiga dari sepuluh orang Indonesia tercatat terganggu jiwanya.

Tidak siap hidup susah berisiko sakit jiwa. Ada cara sederhana menekan risiko sakit jiwa. Sejak kecil anak dibuat tahan banting. Ketahanan jiwa anak harus dibangun. Untuk itu, jiwa butuh “imunisasi”.

Menerima kenyataan
Sejak kecil anak diajar lebih membumi. Yang gagal kaya rela menerima kenyataan. Yang belum pernah hidup susah diajar prihatin sedari kecil. Kendati kecukupan, tidak semua yang anak minta perlu diberi. Anak dilatih merasakan kegagalan.

Tugas orangtua dan guru mengajak anak berempati pada kesusahan orang lain. Hidup tak luput dari berbagai stresor. Tak semua stresor jelek. Supaya jiwa tahan banting, stresor dibutuhkan. Anak perlu mengalami seperti apa tekanan hidup, konflik, kegagalan, rasa kecewa, dan krisis dalam hidup. Seperti vaksin, biasakan anak memikul aneka stresor yang bikin jiwanya kebal seandainya kelak hidupnya susah.

Tanpa dilatih hidup susah, anak yang terbiasa hidup berkecukupan tak tahan banting. Lebih banyak orang sukses lahir bukan dari keluarga kecukupan. Hidup prihatin membuat jiwa tegar bertahan melawan kesusahan. Hidup susah membangun mimpi ingin lepas dari rasa kapok menjadi orang susah. Demi mengubah mimpi jadi kenyataan, spirit kerja keras pun dipecut.

Einstein percaya, untuk sukses diperlukan lima persen otak, selebihnya keringat (perspirasi) . Spirit kerja keras menjadi milik orang yang tak pernah puas pada prestasi yang diraih. Seperti bangsa Troya dulu, pembangunan Jepang dan Korea lebih pesat ketimbang bangsa sepantar karena memiliki “virus” n-Ach (need-for-Achieveme nt) yang tinggi.

”Virus” n-Ach bisa ditularkan kepada anak lewat asuhan dan pendidikan. Bacaan memuat nilai kehidupan, termasuk mendongeng, pendidikan berdisiplin, dan keteladanan orang lebih tua. Itu modul-modul kehidupan agar anak tahu juga hidup susah.

Jiwa getas
Kebiasaan meloloh anak dengan kelimpahruahan tidak melatih anak merasakan gagal, kecewa, rasa ditekan, rasa konflik, atau rasa krisis. Tanpa tempaan stresor, jiwa getas. Jika jiwa getas, orang rentan stres. Bila tak terlatih hidup berdamai dengan stres, hidup berisiko gagal andai harus jatuh miskin.

Tak ada sekolah yang mengajarkan menjadi orang miskin. Tak pula ada kursus memampukan anak terbiasa hidup berdamai dengan stres. Yang bisa kita lakukan adalah mengasuh dan mendidik anak tahan banting. Mandat itu harus ada di pundak setiap orangtua.

Tidak semua anak kecukupan pernah mengalami stresor. Dalam pendidikan modern, anak sengaja dihadapkan pada stresor buatan. Ada pelatihan diam-diam, dalam suasana berkemah atau outbound diciptakan situasi krisis. Mobil sengaja dibuat mogok di tengah hutan pada malam hari, atau kehabisan makanan selagi camping.

Dihadang stresor buatan, anak dilatih bagaimana bereaksi, beradaptasi, agar mampu lolos dari rasa panik, rasa takut, rasa tidak enak berada dalam situasi darurat. Ini bagian dari upaya membuat kebal jiwa anak. Bila jiwa tak tahan banting, sontekan stres kecil mungkin diatasi dengan bunuh diri. Kini semakin banyak kasus bunuh diri hanya karena alasan enteng. Gara-gara ditinggal pacar, tidak naik kelas, sebab jiwa tak terlatih memikulnya. Maka jiwa perlu digembleng.

Kerja keras
Menggembleng berarti menunjukkan rasa arah hidup prihatin, selain berdisiplin. Hidup berdisiplin berarti menjunjung tinggi kebenaran, memikul tanggung jawab, kerja keras, serta mampu menunda kepuasan.

Menunda kepuasan bentuk keunggulan sebuah bangsa. Bangsa unggul memiliki “virus” n-Ach tinggi. Anak yang diasuh dan dididik dengan nilai-nilai “virus” n-Ach, menyimpan bekal sukses. Itu kelihatan, misalnya, dari cara makan. Anak dengan n-Ach tinggi menyisihkan yang enak dimakan belakangan, yang tidak enak dimakan dulu. Tugas berat dikerjakan dulu, yang enteng belakangan. Bersakit-sakit dulu bersenang-senang kemudian menjadi kredo bangsa yang sukses.

Agar tahu hidup susah, anak diajak memahami bahasa hidup bukan uang semata. Tak semua semerbak kehidupan bisa dipetik dengan uang. Kebahagiaan tertinggi hanya terpetik setelah orang mampu merasa bersyukur meski cuma menjadi orang biasa (mengutip Gede Prama).

Sukses hidup sejati tak mungkin terpetik instan. Jiwa potong kompas, ingin lekas kaya, tumbuh dari budaya instan. Bukan rasa arah yang benar saja yang perlu ditanamkan saat membesarkan anak, tetapi harus benar pula menempuhnya di mata Tuhan.

Anak disiapkan menjadi insan linuwih (terinternalisasi penuh superegonya) dengan cara mengempiskan egonya sekecil mungkin. Rekayasa sosial (social engineering) diperlukan dengan menyuntikkan “vaksin” hidup prihatin. Perlu pula penyubur superego agar kendati hidup susah masih merasa bahagia.

Hanya bila bibit linuwih dipupuk sejak kecil, sekiranya hidup susah tak tergoda memilih serong. Kendati tak banyak harta, uang, atau kuasa, ke arah mana pun hidup memandang, merasa tetap “kaya”. Mampu legawa, bersyukur, dan merasa berbahagia sudah pula meraih Oscar kehidupan, kendati mungkin hanya menjadi orang biasa.
penulis artikel di atas adalah handrawan nadesul (saya suka kepeleset menyebutnya hendrawan :d) adalah dokter yang juga suka menulis cerpen. saya juga senang membaca cerpen-cerpennya. entah apakah sampai sekarang beliau masih menulis cerpen. artikel asli bisa diklik di sini.

Minggu, 08 April 2007

pisang bakar jadi-jadian...

"bu, pisangnya digoreng aja ya," kata nanda saat melihat sesisir pisang uli tergeletak di meja makan.

"wah, kalau digoreng lama. aku lagi sibuk nih," jawab ibunya.

"itu bu, yang kayak ayah bikin kemaren," sambung nanda lagi.

bapaknya yang lagi asyik merapel koran pura-pura tidak mendengar. "yah, sudah minta tolong sama ayah," saran ibunya. alamat kerjaan ini, kata saya membatin. mulailah nanda merayu minta dibuatkan pisang goreng. sejatinya sih bukanlah pisang goreng tapi pisang bakar jadi-jadian. kebetulan saja penggorengan atau wajan anti lengket yang saya jadikan sarana untuk 'memasak' pisang itu.

"dikukus aja deh mas pisangnya," kilah saya untuk menghindar dari urusan dapur itu. "kalo dikukus kan lama yah," tangkisnya. saya masih ngeles lagi biar gak ke dapur. "ayo dong yah, kapan lagi berbuat baik sama anaknya," rayuan maut mulai keluar. nah, mau tidak mau harus jadi nih pisang bakar. "ok deh, tapi nanti abis kita ashar di mesjid ya," jawab saya.

sekembalinya dari masjid, janji langsung ditagih. ke dapurlah saya. pisang uli pun dikupas dan dibelah dua. wajan dipanaskan dengan minyak zaitun sebagai alas 'membakar'. setelah wajan panas, sang pisang mendarat di atasnya. dibulak-balik supaya tidak gosong lalu diangkat. diolesi mentega dan ditaburi mesyes. hmmm, jadinya seperti di gambar itu. yummy.

'membakarnya' bisa juga menggunakan mentega, hanya saja jadinya asin, kata nanda. kalau mau lebih 'meriah' lagi bisa diimbuh dengan keju parut dan susu kental manis. tapi mesyes juga okelah. jenis jadi-jadi-an yang lain adalah nasi dan puyunghai. kali berikut mudah-mudahan ada 'jadi-jadi-an' yang lain :)

Jumat, 30 Maret 2007

keniscayaan...

setiap mahluk yang bernyawa pasti akan mati...
serangkai kata masuk di telepon genggam. sebuah pesan terusan. lelayu. inna lillahi wainna ilaihi ra'jiun. buat almarhumah selamat jalan menuju sang khalik. buat keluarga yang ditinggalkan usah lara bila mereka yang dulu merasa menjadi kawan sependeritaan tak menampakkan hidungnya. biarlah sang waktu yang akan bercerita nantinya.

mati adalah sebuah keniscayaan. tak ada yang mampu menahannya. dan, tak perlu lagi diperdebatkan...

Kamis, 29 Maret 2007

gak ngimpi...

gajah di pelupuk mata tidak kelihatan
semut di seberang lautan terlihat jelas...

*gak pake ngimpi kok ya salah...
 

Ganator Blog's Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger