Warung Bebas
Tampilkan postingan dengan label religion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label religion. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 April 2012

minta tempe jadilah tempe...

kita sering memaksa gusti Allah untuk memberikan apa yang menurut kita paling cocok. ketika permintaan kita tidak dikabulkan, kitapun kecewa berat. galau. padahal hanya gusti Allah yang paling tahu apa yang kita butuhkan...
Di Karangayu, Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu penjual tempe. Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang.”Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya…” demikian dia selalu memaknai hidupnya.

Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe, dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh. Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang, sebagian berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian.

Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti tidak akan mendapatkan uang untuk makan dan modal membeli kedelai yang akan dia olah kembali menjadi tempe.

Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. “Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku…”

Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya. Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe. Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung. Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe.

Dan… dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacangnya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia yakin, Allah pasti sedang “memproses” doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi. Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi. Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau maha tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah. Bantulah aku, kabulkan doaku…

Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe. Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan… belum jadi. Kacang itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang tersebut. Keajaiban Tuhan akan datang… pasti, yakinnya.

Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, “tangan” Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa… berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya.

Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu. “Pasti sekarang telah jadi tempe!” batinnya.

Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan… dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi. Kecewa, air mata menitik di keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi? Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk.

Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu.

Dan dia tiba-tiba merasa lapar…merasa sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku,

batinnya. Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan… esok dia pun tak akan dapat makan.

Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan “teman-temannya” sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak.

Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat…

Tiba-tiba sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya. Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya? Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat.

Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menengadahkan tangan. Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe…

Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe…

Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi? tanya perempuan itu lagi. Kepanikan melandanya lagi. “Duh Gusti… bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?” ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, pembaca?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi!

“Alhamdulillah!” pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli. Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. “Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?”

Ooh, bukan begitu, Bu. Anak saya yang kuliah di Australia ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Oh ya, jadi semuanya berapa, Bu?

Kisah yang biasa bukan, dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa dan “memaksakan” Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita. Dan, jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa. Padahal Allah paling tahu apa yang paling cocok untuk kita. Bahwa semua rencananya adalah sangat sempurna.

Kisah sederhana yang menarik, karena seringkali kita pun mengalami hal yang serupa. Di saat kita tidak memahami ada hikmah di balik semua skenario yang Allah SWT takdirkan.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah 216)

Senin, 19 Desember 2011

mencari nafkah karena Allah...

saya pikir sih kita tak perlu tahu siapa ibu si bocah. terima kasih saya buat sang penulis cerita ini yang telah berbagi akan artinya bekerja karena gusti Allah...
Selesai berlibur dari kampung, saya harus kembali ke kota. Mengingat jalan tol yang juga padat, saya menyusuri jalan lama. Terasa mengantuk, saya singgah sebentar di sebuah restoran. Begitu memesan makanan, seorang anak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul di depan. "Abang mau beli kue?" katanya sambil tersenyum. Tangangnya segera menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kue jajaannya.

"Tidak dik... abang sudah pesan makanan," jawab saya ringkas. Dia berlalu. Begitu pesanan tiba, saya terus menikmatinya. Lebih kurang 20 menit kemudian saya melihat anak tadi menghampiri pelanggan lain, sepasang suami istri sepertinya. Mereka juga menolak, dia berlalu begitu saja.

"Abang sudang makan, tak mau beli kue saya?" katanya tenang ketika menghampiri meja saya.

"Abang baru selesai makan dik, masih kenyang nih," kata saya sambil menepuk-nepuk perut. Dia pergi, tapi cuma di sekitar restoran. Sampai di situ dia meletakkan bakulnya yang masih penuh. Setiap yang lalu ditanya...

"Tak mau beli kue saya bang, pak, kakak atau ibu." Molek budi bahasanya.

Pemilik restoran itu pun tak melarang dia keluar masuk ke restorannya menemui pelanggan. Sambil memperhatikan, terbersit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihat betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak keluh kesah atau tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuenya.

Setelah membayar harga makanan dan minuman, saya terus pergi ke mobil. Anak itu saya lihat berada agak jauh di deretan kedai yang sama. Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menututp pintu. Belum sempat saya menghidupkan mesin, anak tadi berdiri di tepi mobil. Dia menghadiahkan sebuah senyuman. Saya turunkan cermin. Membalas senyumannya.

"Abang sudah kenyang, tapi mungkin abang perlukan kue saya untuk adik-adik abang, ibu atau ayah abang," katanya sopan sekali sambil tersenyum. Sekali lagi dia memamerkan kue dalam bakul dengan menyelak daun pisang penutupnya. Saya tatap wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kasihan di hati. Lantas saya buka dompet, dan mengambil selembar uang Rp 20.000,- saya ulurkan padanya.

"Ambil ini dik! Abang sedekah... tak usah abang beli kue itu." saya berkata ikhlas karena perasaan kasihan meningkat mendadak. Anak itu menerima uang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berjalan kembali ke kaki lima deretan kedai. Saya gembira dapat membantunya.

Setelah mesin mobil saya hidupkan. Saya memundurkan. Alangkah terperanjatnya saya melihat anak itu mengulurkan Rp 20.000,- pemberian saya itu kepada seorang pengemis yang buta kedua-dua matanya. Saya terkejut saya hentikan mobil, memanggil anak itu.

"Kenapa bang mau beli kue kah?" tanyanya.

"Kenapa adik berikan duit abang tadi pada pengemis itu? Duit itu abang berikan adik!" kata saya tanpa menjawab pertanyaannya.

"Bang saya tak bisa ambil duit itu. Emak marah kalau dia tahu saya mengemis. Kata emak kita mesti bekerja mencari nafkah karena Allah. Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak, mak pasti marah. Kata mak mengemis kerja orang yang tak berupaya, saya masih kuat bang!" katanya begitu lancar.

Saya heran sekaligus kagum dengan pegangan hidup anak itu. Tanpa banyak soal saya terus bertanya berapa harga semua kue dalam bakul itu.

"Abang mau beli semua kah?" dia bertanya dan saya cuma mengangguk.

Lidah saya kelu mau berkata. "Rp 25.000,- saja bang..." Selepas dia memasukkan satu persatu kuenya ke dalam plastik, saya ulurkan Rp 25.000,-. Dia mengucapkan terima kasih dan terus pergi. Saya perhatikan dia hingga hilang dari pandangan.

Dalam perjalanan, baru saya terfikir untuk bertanya statusnya. Anak yatim kah? Siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan mendidiknya? Terus terang saya katakan, saya beli kuenya bukan lagi atas dasar kasihan, tetapi rasa kagum dengan sikapnya yang dapat menjadikan kerjanya suatu penghormatan. Sesungguhnya saya kagum dengan sikap anak itu.

Dia menyadarkan saya, siapa kita sebenarnya.

Senin, 05 Desember 2011

mau diisi apa celengan kita...

kalau ada pengamen atau pengemis yang meminta-minta, kadang atau seringnya kita mencari uang receh atau pecahan paling kecil untuk mereka. atau, kata-kata seperti ini: "maaf tidak ada uang kecil". sikap seperti ini, buat saya pribadi, lebih baik daripada memberikan uang tapi dalam hati menggerundel alias tidak ikhlas. namun demikian, memberikan banyak tapi dengan sikap sombong karena merasa sudah mampu, tidaklah baik juga. apapun yang kita miliki tak lain adalah milik gusti Allah, kita hanya dititipkan. lantas bagaimana kita mampu memberdayakan titipan itu tergantung sepenuhnya kepada diri kita. apakah kita tetap mengingatnya sebagai ujian atau sebagai hasil kerja keras kita semata. apa yang kita lakukan selama hidup kita di dunia, baik buruk maupun baik, tak lain adalah investasi untuk ukrawi. kutipan berikut yang saya copy-paste dari milis, barangkali, bisa dijadikan pengingat, paling tidak bagi diri saya sendiri...  
Kisah ini diceritakan oleh seorang ulama ternama di kota Bandung yang saat ini beliau masih hidup. Ulama ini mempunyai sahabat seorang pengusaha sukses yang kaya raya dan sekaligus orangnya dermawan kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongannya. Pengusaha kaya ini kalau sedang menginfaqkan hartanya kepada fakir miskin adalah harta yang terbaik yang dimilikinya tidak seperti kebanyakan orang saat ini yang kalau memberikan harta kepada fakir miskin adalah memilih-milih terlebih dahulu harta yang terjelek (terkecil).

Suatu hari Ulama ini bersama pengusaha kaya tersebut sedang dalam perjalanan di kota Jakarta utk memenuhi suatu undangan, tiba-tiba di perjalanan keduanya kedatangan seorang pengemis yang meminta sedekah kepada Pengusaha kaya tersebut, lalu sang pengusaha merogoh kantongnya yang ada uang Rp 50ribuan karena sifatnya yang dermawan ia langsung saja tanpa fikir panjang memberikan uang Rp 50.000 tersebut kepada pengemis tersebut.

Coba bayangkan Saudaraku bagaimana senangnya pengemis diberikan uang Rp 50ribuan yang biasanya paling-paling orang lain memberikan Rp 1000, tentu saja do'anya panjang x lebar bukan? Pengemis itu mendo'akan pengusaha itu panjang x lebar. Namun Pengusaha itu melakukan kesalahan ketika di doakan oleh pengemis tersebut dengan berkata, "Kamu jangan mendo'akan saya , kamu doakan saja dirimu, kalau saya sudah sukses dan kaya lebih baik kamu berdoa utk dirimu saja."

Pengemis itu lantas pergi setelah dikatakan seperti itu, menyaksikan hal tersebut Ulama sahabat pengusaha kaya langsung menegurnya, "Kamu jangan berkata seperti itu kepada pengemis tersebut, bagaimana kalau ia adalah seorang malaikat?"

Sang Pengusaha kaya langsung tersadar akan kesalahannya, dan langsung mengejar mencari pengemis tersebut. Namun sayang pengemis tersebut tidak ketemu padahal perginya belum lama.

Sepanjang perjalanan pulang dari Jakarta ke Bandung Pengusaha itu terus membahas si pengemis tadi khawatir benar Malaikat yang sedang menyamar mengujinya. Benar-benar ia sangat menyesal dengan perkataannya yang sombong saat bertemu pengemis tersebut. Ulama tersebut melanjutkan ceritanya kepada saya dan teman-teman dengan berkata, "Sejak saat itu Wallahua'lam ada hubungannya atau tidak usahanya mengalami kebangkrutan dan tidak pernah bisa bangkit kembali."

Saudaraku kisah tersebut di atas hendaknya bisa menjadikan pelajaran (ibrah) buat kita semua agar berhati - hati dalam berkata, berbuat dan menjaga hati jangan sampai ada kesombongan walaupun hanya kecil seberat zarah karena Allah,SWT akan langsung membalasnya di kehidupan dunia ini dan di akhirat nanti orang yang hatinya ada sifat sombong walaupun seberat biji zarah tidak akan masuk surga.

Berikut ciri-ciri orang sombong agar kita bisa menjauhinya :
1. Tutur katanya, perbuatannya merendahkan orang lain, merasa dirinya paling baik atau lebih baik dibandingkan dengan orang lain.

2. Menolak suatu nasehat kebenaran dari orang lain padahal nasehat itu sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah,SAW

3. Menjawab salam orang miskin berbeda dengan menjawab salam orang kaya

4. Berjalan dengan gaya sombong yaitu dengan membusungkan dada

5. Selalu berbuat zalim /aniaya kepada orang lain.

Ya Allah Ya Rabb lindungilah bimbinglah hati, perkataan dan perbuatan kami kepada yang Engkau Ridhai dan lindungilah kami dari sifat sombong.

Wallahua'lam

Selasa, 24 Agustus 2010

ijab kabul zakat lewat sms...

'sempurnakan puasa anda dengan berzakat.' 'zakat adalah energi.' 'zakat membahagiakan.' 'berbagi lewat zakat.' 'zakat memerdekakan.' 'zakat itu indah.' dan, masih banyak lagi ungkapan mengenai rukun islam ke tiga yang wajib dilaksanakan (sepanjang kita mampu untuk mengeluarkannya).

kebiasaan saya (dan, barangkali, juga anda para pembaca) membayar zakat ya ke masjid dekat rumah. atau, ada juga mungkin, yang langsung memberikan kepada mereka yang berhak mendapatkan zakat.


sejalan dengan bergulirnya waktu, selain badan amil zakat yang ada di masjid-masjid, bermunculan juga badan-badan serupa milik swasta. karena badan-badan ini dikelola dengan profesional, berarti ada untung-rugi yang dipertaruhkan. kemudian, merekapun bagai berlomba untuk menjaring zakat sebanyak-banyaknya. seperti layanan jemput zakat. jadi, anda tinggal angkat telepon nanti petugas datang mengambil sekalian melakukan ijab kabul.

nah, kini dengan semakin modernnya gaya hidup, bayar zakat semakin mudah, anda tinggal datang ke atm dan setorkan uangnya lewat transfer rekening bank. simak di sini
Maka orang yang memanfaatkan transfer langsung lewat ATM atau bank, biasanya sudah tahu dengan pasti, berapa besar kewajiban zakat yang wajib dikeluarkan. Dia juga sudah tahu dengan tepat bahwa rekening itu memang untuk menyalurkan harta zakat. Walhasil, tidak ada yang salah dengan sistem ini. Sebab pihak lembaga juga sejak awal sudah mensosialisasikan dengan cermat bahwa nomor rekening tersebut memang semata-mata untuk pengaluran harta zakat. Bukan untuk sedekah atau infaq lainnya.
bagaimana dengan ijab kabul? dengan sistem ini, pembayaran zakat tak perlu lagi ijab kabul.
Adapun pembahasaan ijab kabul ketika membayar zakat dengan melakukan transfer ke Bank adalah dengan melakukan konfirmasi by sms atau phone bahwa saya (pembayar zakat/ muzaki) telah melakukan transfer zakat sebesar Rp. …..,- rupiah melalui bank ….. kepada petugas lembaga zakat bersangkutan, dan kemudian dari lembaga zakat akan memberikan bukti kuitansi donasi kepada pembayar zakat
bingung? apakah gaya hidup modern ini boleh dikatakan syar'i? wallahu a'lam bishashawab...

Jumat, 26 Februari 2010

peradaban tukang bakso...

belajar tak harus di sekolah atau secara formal. pada siapapun. atau di manapun. kali ini, belajar peradaban dari tukang bakso...
Setiap kali menerima uang dari orang yang membeli bakso darinya, Pak Patul mendistribusikan uang itu ke tiga tempat: sebagian ke laci gerobagnya, sebagian ke dompetnya, sisanya ke kaleng bekas tempat roti.

“Selalu begitu, Pak?” saya bertanya, sesudah beramai-ramai menikmati bakso beliau bersama anak-anak yang bermain di halaman rumahku sejak siang.

“Maksud Bapak?” ia ganti bertanya.

“Uangnya selalu disimpan di tiga tempat itu?”

Ia tertawa. “Ia Pak. Sudah 17 tahun begini. Biar hanya sedikit duit saya, tapi kan bukan semua hak saya.”

“Maksud Pak Patul?” ganti saya yang bertanya.

“Dari pendapatan yang saya peroleh dari kerja saya terdapat uang yang merupakan milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan.”

Aduh gawat juga Pak Patul ini. “Maksudnya?” saya mengejar lagi.

“Uang yang masuk dompet itu hak anak-anak dan istri saya, karena menurut Tuhan itu kewajiban utama hidup saya. Uang yang di laci itu untuk zakat, infaq, qurban dan yang sejenisnya. Sedangkan yang di kaleng itu untuk nyicil biaya naik haji. InsyaAllah sekitar dua tahun lagi bisa mencukupi untuk membayar ONH. Mudah-mudahan ongkos haji naiknya tidak terlalu, sehingga saya masih bisa menjangkaunya.”

Spontan saya menghampiri beliau. Hampir saya peluk, tapi dalam budaya kami orang kecil jenis ekspressinya tak sampai tingkat peluk memeluk, seterharu apapun, kecuali yang ekstrem misalnya famili yang disangka meninggal ternyata masih hidup, atau anak yang digondhol Gendruwo balik lagi.

Bahunya saja yang saya pegang dan agak saya remas, tapi karena emosi saya bilang belum cukup maka saya guncang-guncang tubuhnya. Hati saya meneriakkan “Jazakumullah, masyaallah, wa yushlihu balakum!” tetapi bibir saya pemalu untuk mengucapkannya. Tuhan memberi ‘ijazah’ kepadanya dan selalu memelihara kebaikan urusan-urusannya.

Saya juga menjaga diri untuk tidak mendramatisir hal itu. Tetapi pasti bahwa di dalam diri saya tidak terdapat sesuatu yang saya kagumi sebagaimana kekaguman yang saya temukan pada prinsip, managemen dan disiplin hidup Pak Patul. Untung dia tidak menyadari keunggulannya atas saya: bahwa saya tidak mungkin siap mental dan memiliki keberanian budaya maupun ekonomi untuk hidup sebagai penjual bakso, sebagaimana ia menjalankannya dengan tenang dan ikhlas.

Saya lebih berpendidikan dibanding dia, lebih luas pengalaman, pernah mencapai sesuatu yang ia tak pernah menyentuhnya, bahkan mungkin bisa disebut kelas sosial saya lebih tinggi darinya. Tetapi di sisi manapun dari realitas hidup saya, tidak terdapat sikap dan kenyataan yang membuat saya tidak berbohong jika mengucapkan kalimat seperti diucapkannya: “Di antara pendapatan saya ini terdapat milik keluarga saya, milik orang lain dan milik Tuhan.”

Peradaban saya masih peradaban “milik saya”. Peradaban Pak Patul sudah lebih maju, lebih rasional, lebih dewasa, lebih bertanggungjawab,lebih mulia dan tidak pengecut sebagaimana ‘kapitalisme subyektif posesif’ saya. oleh Emha Ainun Nadjib.

Senin, 08 Februari 2010

diam, tak boleh teriak atau menangis...

Ada sebuah suku pada bangsa Indian yang memiliki cara yang unik untuk mendewasakan anak laki-laki dari suku mereka. Jika seorang anak laki-laki tersebut dianggap sudah cukup umur untuk didewasakan, maka anak laki-laki tersebut akan dibawa pergi oleh seorang pria dewasa yang bukan sanak saudaranya, dengan mata tertutup.

Anak laki-laki tersebut dibawa jauh menuju hutan yang paling dalam. Ketika hari sudah menjadi sangat gelap, tutup mata anak tersebut akan dibuka, dan orang yang menghantarnya akan meninggalkannya sendirian. Ia akan dinyatakan lulus dan diterima sebagai pria dewasa dalam suku tersebut jika ia tidak berteriak atau menangis hingga malam berlalu.

Malam begitu pekat, bahkan sang anak itu tidak dapat melihat telapak tangannya sendiri, begitu gelap dan ia begitu ketakutan. Hutan tersebut mengeluarkan suara-suara yang begitu menyeramkan, auman serigala, bunyi dahan bergemerisik, dan ia semakin ketakutan, tetapi ia harus diam, ia tidak boleh berteriak atau menangis, ia harus berusaha agar ia lulus dalam ujian tersebut.

Satu detik bagaikan berjam-jam, satu jam bagaikan bertahun-tahun, ia tidak dapat melelapkan matanya sedetikpun, keringat ketakutan mengucur deras dari tubuhnya.

Cahaya pagi mulai tampak sedikit, ia begitu gembira, ia melihat sekelilingnya, dan kemudian ia menjadi begitu kaget, ketika ia mengetahui bahwa ayahnya berdiri tidak jauh di belakang dirinya, dengan posisi siap menembakan anak panah, dengan golok terselip di pinggang, menjagai anaknya sepanjang malam, jikalau ada ular atau binatang buas lainnya, maka ia dengan segera akan melepaskan anak panahnya, sebelum binatang buas itu mendekati anaknya, sambil berdoa agar anaknya tidak berteriak atau menangis.
dapet dari milis. kalo mau di-renung-renung-i dan di-hubung-hubung-kan dengan keseharian kita, kadang dalam kehidupan ini kita merasa sendiri. merasa paling susah. merasa gusti Allah gak menjaga kita alias kita dibiarkan begitu saja menghadapi belantara dunia yang begitu kejam. padahal bukannya gusti Allah kan selalu beserta kita lewat berbagai nikmat yang diberikan?

wallahu alam bi shawab

Jumat, 29 Januari 2010

sia-siakah...

kematian yang sia-sia. barangkali terlalu berlebihan.. tapi, apa namanya bila melihat sebuah mobil terbalik dan semua penumpang tewas. atau, sebuah motor masuk ke kolong sebuah truk. dan, mereka, para penumpang atau pengemudi kendaraan itu adalah remaja yang sedang bertumbuh dewasa.

miris melihat mereka mengemudikan kendaraan. baik motor maupun mobil. kadang mereka menaiki motor bertiga. tanpa helm. asyik ngobrol sambil merokok juga. seragam putih biru alias tingkat smp. asyik nelpon atau sms-an. atau, para abu-abu-ers yang menyetir mobil, kadang, seperti sedang mengikuti rally. pindah jalur. susul-menyusul.


tadi siang saya menerima e-mail dari seorang teman yang menceritakan bahwa ia baru saja melayat anak saudaranya --laki-laki, 17 tahun, kelas 3 sma-- yang meninggal. inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. anak semata wayang ini meninggal karena kecelakaan mobil di jalan tol. mobil yang dia tumpangi bersama teman-temannya menyenggol mobil yang disusul dari bahu jalan.

anak-anak ini baru saja pulang dari bimbel. mereka termasuk kelas akselerasi. barangkali, ingin melepaskan rasa jenuh dan kelelahan belajar mereka ingin melemaskan otak yang dipakai melihat rumus-rumus. namun, mereka tak pernah sampai ke tempat yang diinginkan. ada yang meninggal, ada yang koma, ada yang luka parah, ada juga yang tidak apa-apa.

jiwa muda yang menggelegak memang butuh penyaluran. saat sarana ada apapun bisa dilakukan. salahkah mereka? saya tidak dalam posisi untuk menilai salah atau benar. mereka, mestinya, punya sim. artinya mereka mengerti peraturan lalu lintas. apa yang boleh dan dilarang dilakukan saat berada di jalan, mereka pahami. namun, boleh jadi, emosi yang belum stabil memicu mereka untuk menjadi yang paling 'oke'.

bapak, ibu, kakak, om, tante janganlah pernah bosan-bosannya, ingatkanlah anak, adik, keponakan anda untuk selalu waspada di jalan, mematuhi peraturan lalulintas, agar mereka saling mengingatkan temannya untuk tidak bercanda ketika sedang berkendara. ingatkanlah mereka untuk selalu berdoa sebelum memulai kegiatan, termasuk nyetir mobil tentunya. dan, sertailah mereka selalu dengan doa dari bapak, ibu, kakak, om, tante.

wallahu alam bi shawab...

Jumat, 15 Januari 2010

batik bikin gak khusyuk...

dari dulu batik udah ada di indonesia. seragam pegawai negeri ada batiknya. para siswa sekolah juga mempunyai seragam batik. (tapi ada satu sekolah swasta yang mewajibkan siswanya memakai baju batik tapi batiknya bebas merdeka. mereka boleh memilih corak atau motif batik apa saja, yang penting batik.). ibu-ibu jelas sekali kain batiknya.

kini, batik semakin banyak digunakan. aneka macam model ada. anak kecil, remaja, dewasa semua memakai batik. malahan ada pertemuan dengan dress code batik. ah, jadi inget reunian tahun kemarin. kami semua sepakat, untuk memakai batik. terserah batik apa. mau tulis atau cetak silakan. tapi ada juga yang protes: kok pake batik kayak pak camat aja. dulu, emang kebanyakan, kalo ga pak lurah ya pak camat yang batikan.


sejak diproklamirkannya 'hari batik nasional', hari jumat sepertinya jadi hari wajib batik. para pegawai, swasta terutama, memakai batik. makanya tidak mengherankan kalau di masjid pun aneka batik bersliweran. sambil menunggu jumatan, bisa cuci mata dulu. ada batik yang motifnya biasa saja. ada juga yang kontemporer. warnanyapun bermacam-macam.

wah, jadi gak khusyuk dong sholat jumatnya. loh? karena jamaah di depan kita pakai batik sih jadinya kan ngliatin batiknya. mestinya kan tuh orang pake baju putih, biar gak eye catching. loh? bukankah khusyuk atau tidaknya tergantung kepada diri sendiri. dan, diri sendiri yang tahu itu. apa iya kalau jamaah di depan anda berbaju putih, atau sedang di masjidil haram atau nabawi saat berhaji, otomatis jadi khusyuk sholatnya?

wallahu alam bi shawab...

Selasa, 09 Juni 2009

dipisah, gak masalah...

demi berlangsungnya acara sesuai sunnah rasulullah saw, meraih kebarakahan dari allah swt dalam ikatan suci ini, serta tanpa mengurangi rasa hormat kami. resepsi pernikahan ini akan dilaksanakan sesuai adab islam dengan pemisahan tempat duduk antara tamu pria dan wanita.
pernahkah anda menerima undangan dengan catatan kaki seperti di atas? atau anda tidak melihatnya atau tidak peduli. dan, ketika sampai di tempat pernikahan berlangsung anda menjadi bingung. dalam hati, kok gini, kok gak bilang-bilang. duh, cape deh bo kalau setiap mengantar undangan terus diimbuhi keterangan seperti tertulis.

kalau sudah pernah berarti anda sudah tidak asing lagi dengan tata cara tersebut. kalau belum, saya ingin sedikit berbagi cerita. alhamdulillah, saya dan isteri mendapatkan amanah untuk menjadi penerima tamu.

sesuai dengan apa yang tertera di lembar undangan, penerima tamu di lapis pertama alias teras gedung sudah dipisah pria dan wanita. begitu pula di lapis ke-dua (di mana saya dan isteri berdiri :D). untuk para tamu, saat pasangan (tamu suami-isteri) memasuki gedung dan menulis di buku tamu, seharusnya 'pemisahan' sudah dilakukan di sini.

namun, yang terjadi kemarin adalah betapa susahnya menjelaskan bahwa bagian pria berbeda dengan bagian wanita. sayangnya pula, penjaga buku tamu di kiri kanan semuanya wanita. kalau saja, di salah satu sisi penjaga buku tamu adalah pria mestinya lebih mudah diadakan pengaturan.

nah, saat akan memasuki gedung resepsi, di sini pemisahan benar-benar dilakukan. seorang wanita yang menjaga dengan sopan menjelaskan pada para tamu pasangan untuk sementara berpisah di dalam gedung. yang ini tidak dapat ditawar-tawar lagi. iya atau tidak :) dan, pemisahan ini benar-benar dipisahkan. ada batas yang tegas yang tak memungkinkan para tamu untuk lompat pagar.

kok, kayaknya repot sih? tidak kalau para tamu yang akan datang telah membaca catatan di undangan. melalui catatan ini, justru para tamu diingatkan akan tata cara yang berlaku di walimatul ursy itu. bagaimana dong kalau membawa anak-anak? tidak masalah juga. sepanjang anak itu belum akil baliq silakan saja ia ikut bapak atau ibunya.

selain itu, catatan ini juga 'mengingatkan' para tamu akan busana yang dikenakan. kalau alasannya adalah ingin melanjutkan ke resepsi lain yang tanpa catatan di undangannya, toh, anda masih bisa berbusana yang bisa diterima di kedua tempat tanpa takut kehilangan ketampanan atau kecantikan.

mudah bukan? ah, bagaimana dong kalau saya sudah kenyang dan ingin pulang sementara suami atau isteri masih di sebelah? saya juga tidak membawa telepon genggam loh. jangan bingung dulu dan takut pasangan anda hilang :D kalau di dalam gedung perkantoran ada yang namanya 'car call' di resepsi seperti ini ada yang namanya
guest call'. tak ada biaya yang perlu dikeluarkan (tentu saja :d). anda tinggal bilang kepada petugas jaga yang ada dan nanti di dalam gedung akan ada pengumuman seperti ini: ibu fulanah ditunggu di depan.

masih repot juga? harusnya tidak ada lagi kerepotan. hanya saja yang perlu diingat juga, bukan hanya para tamu yang duduknya terpisah. pasangan pengantin juga dipisah. jadi tamu pria hanya menyalami pengantin pria dan pengantin wanita yang didampingi ibu dan ibu mertuanya hanya disalami tamu wanita. dan, tak ada lah yang namanya foto bersama dengan teman kuliah atau se kantor.

jadi, kalau lain kali anda mendapatkan undangan seperti di atas tak perlu bingung atau kerepotan :)

Jumat, 17 April 2009

gubuk terbakar...

Satu-satunya orang yang selamat dari kecelakaan sebuah kapal terdampar di pulau yang kecil dan tak berpenghuni. Pria ini segera berdoa supaya Tuhan menyelematkannya, dan setiap hari dia mengamati langit mengharapkan pertolongan, tetapi tidak ada sesuatupun yang datang.

Dengan capainya, akhirnya dia berhasil membangun gubuk kecil dari kayu apung untuk melindungi dirinya dari cuaca, dan untuk menyimpan beberapa barang yang masih dia punyai.

Tetapi suatu hari, setelah dia pergi mencari makan, dia kembali ke gubuknya dan mendapati gubuk kecil itu terbakar, asapnya mengepul ke langit. Dan yang paling parah, hilanglah semuanya.

Dia sedih dan marah. "Tuhan, teganya Engkau melakukan ini padaku?" dia menangis. Pagi- pagi keesokan harinya, dia terbangun oleh suara kapal yang mendekati pulau itu. Kapal itu datang untuk menyelamatkannya.

"Bagaimana kamu tahu bahwa aku di sini?" tanya pria itu kepada penyelamatnya.

"Kami melihat tanda asapmu," jawab mereka.

Mudah sekali untuk menyerah ketika keadaan menjadi buruk. Tetapi kita tidak boleh goyah, karena Tuhan bekerja di dalam hidup kita, juga ketika kita dalam kesakitan dan kesusahan. Ingatlah, ketika gubukmu terbakar, mungkin itu "tanda asap" bagi kuasa Tuhan. Ketika ada kejadian negatif terjadi, kita harus berkata pada diri kita sendiri bahwa Tuhan pasti mempunyai jawaban yang positif untuk kejadian tersebut.

co-pas dari milis.

Kamis, 26 Maret 2009

yang mulia dan yang hina...

Alkisah di negeri dunia, Pak Hakim yang selalu dihormati dan dimuliakan bertemu dengan Pak Pengemis, terjadilah percakapan antara mereka.

Pak Hakim berkata, "Hai engkau, Pak Pengemis. Aku lihat engkau meminta-minta di setiap sudut kota ini. Padahal engkau meminta-minta bukanlah dalam keadaan lapar ataupun menderita. Badan engkau cukup kuat untuk bisa bekerja keras. Aku lihat pakaianmu sangatlah hina, tetapi uang yang kau dapat ada di atas upah minimum negeri dunia ini," dengan wajah menghina.

"Ya, benar, pakaianku yang aku pakai ini sangatlah hina, tetapi uang yang aku dapat adalah uang yang halal. Pemberian dari orang yang tidak kupaksa untuk memberikannya, mereka dengan ikhlas memberikan kepadaku dengan harapan di dadanya sebagai amal untuk ke kampung surga di dunia akhirat," jawab si Pak Pengemis dengan bangganya.

Singkat cerita, Pak Hakim dan Pak Pengemis berhijrah ke dunia akhirat.

Penjaga negeri akhirat sedang mengatur dan memerika dokumen perjalanan para pehijrah, dan tibalah waktunya Pak Hakim dan Pak Pengemis.

Berkatalah Penjaga negeri akhirat kepada Pak Hakim, "Hai engkau Pak Hakim, kemanakah tujuanmu pergi."

"Aku hendak ke kampung surga di negeri akhirat," jawab dengan lantang dan bangganya Pak Hakim ini.

"TIDAK BISA, engkau tidak bisa ke kampung surga di negeri akhirat ini," dengan beringasnya jawaban penjaga itu.

"Kenapa aku tidak bisa, bukankah aku sebagai Pak Hakim yang mulia sewaktu aku di negeri dunia," jawab Pak Hakim dengan keheranan.

"Benar, pakaianmu adalah mulia sewaktu di negeri dunia, tetapi engkau sendiri yang menanggalkan kemuliaanmu, engkau memberi keadilan dengan dasar suap, siapa yang bisa membayarmu, maka keadilan ada di tangan yang membayarmu," jawab si Penjaga negeri akhirat dengan nada yang sangat marah.

"Maka, tempatmu adalah sebagai penduduk di kampung neraka di dunia akhirat ini," jawab si Penjaga dengan tertawa-tawa.

"AH.. AH.. AH.., SI YANG MULIA DI NEGERI DUNIA, TETAPI YANG HINA DI NEGERI AKHIRAT," tertawalah dengan kerasnya si Penjaga. "AH.. AH.. ALAMATMU ADALAH DI KAMPUNG NERAKA DI NEGERI AKHIRAT INI."

Pak Pengemis setelah mendengar jawaban dari Penjaga tersebut semakin takut, berkatalah ia di dalam hatinya, "Bagaimana mungkin aku yang hina di negeri dunia bisa masuk ke dalam kampung surga di negeri akhirat. Sedangkan Pak Hakim yang mulia pun tidak bisa masuk."

Seakan dapat membaca pikiran si Pak Pengemis, berkatalah Penjaga ini, "TIDAK wahai Pak Pengemis, engkau dapat masuk ke dalam kampung surga di negeri akhirat ini, tempat dambaan setiap penghuni negeri dunia. Benar, engkau adalah yang hina di negeri dunia, tetapi engkau mendapatkan uang yang halal. ENGKAU ADALAH YANG HINA DI DUNIA, TETAPI ENGKAU AKAN MENJADI PENDUDUK KAMPUNG SURGA DI DUNIA AKHIRAT INI," jawab si Penjaga dengan lemah lembutnya dan senyuman yang indah.
seperti biasa co-pas kiriman temen :D. mau jadi hakim atau pengemis? ah, jawabannya tentu tidak sesederhana itu. setiap orang pasti mempunyai pendapat sendiri. mau berbagi? silakan...

Rabu, 26 November 2008

terbakar, alhamdulillah...

sebuah mini bus jemputan anak sekolah terbakar... alhamdulillah. lah, kok malah alhamdulillah? alhamdulillah karena tak ada satupun korban jiwa. sang pengemudi berhasil menyelamatkan dua penumpang kecil dan dirinya sendiri. mengapa bisa terbakar? lupakan soal itu karena ujung-ujungnya bisa-bisa menyalahkan supir. saat mendapat kabar kebakaran ini, saya langsung membatin: setahu saya mobil itulah sumber penghidupan. sekarang terbakar dan mobil itu masih belum lunas kreditannya. subhanalah. gusti allah pasti tidak tidur...

selang beberapa hari kejadian, ibunya nanda yang istri saya itu (bersama seorang ibu lain) bersilaturahim ke rumah dik fulan. (tidak kurang dari tiga tahun nanda sempat mengikuti antar-jemput dengan dik fulan). saya dan nanda yang di rumah, menanti dengan harap-harap cemas akan berita yang dibawa istri saya. belum lagi, ibunya istirahat, nanda (saya juga :D) sudah menanyakan kabar si om. (gak sabaran amat sih).


alhamdulillah. memang demikianlah, barangkali, jalan yang digariskan gusti allah. rupanya pekerjaan sebagai supir tidak direstui oleh ibu om fulan. tapi untuk berpindah pekerjaan juga tidaklah mudah. sampai akhirnya mobil itu terbakar. si om cerita usai kebakaran — yang memakan waktu agak lama karena si om sempat menelepon pegawai asuransi dan polisi juga datang melihat — yang berkecamuk di benaknya adalah ibunya. mengapa ibunya? sang ibu mengidap penyakit jantung. ia berpikir keras bagaimana harus bercerita kepada ibunya.

pada hari kejadian ia pulang dan tidak langsung bercerita. esoknya, malah sang ibu yang bertanya: kok mobilnya gak dibawa pulang? mau tak mau, fulan pun bercerita apa adanya. subhanalah. ibunya tidak apa-apa. malahan, kalau ingin dikatakan gembira, karena anaknya tak harus lagi menjadi pengemudi jemputan. satu soal selesai. urusan kredit?

beruntunglah, dik fulan ini mempunyai jejaring yang cukup luas (juga para tetangga yang berempati dengan mengajaknya memancing agar fulan tidak terlalu bingung memikirkan masalahnya. malahan, suatu kali, ikan hasil memancing diserahkan semua ke dik fulan) ada seorang pemilik bengkel yang tertarik dengan mobil terbakar itu. bayangan saya, paling juga bakal dijual 'ketengan' alias dikilo sebagai besi tua. eits, ternyata saya salah. alhamdulillah. sasis alias rangkanya sama sekali tidak bengkok atau melengkung (padahal melengkung sedikit saja, bakal jadi besi kiloan). mesinnya juga tidak kurang satu apa-apa. dan, mobil ini dibeli seharga dengan jumlah sisa kredit yang masih harus dilunasi dik fulan.

happy ending everybody? gusti allah memang tidak tidur. setelah urusan jual-beli selesai, dik fulan akan memulai kehidupan barunya di surabaya. ia tak lagi menjadi pengemudi jemputan. sebuah pekerjaan telah menanti. doa kami — para ortu yang putra-putrinya pernah diantarjemput om fulan — menyertai.

Rabu, 05 November 2008

selamat dan selamat...

selamat kepada barack obama yang menjadi presiden ke 44 amerika serikat dalam usia 47 tahun. selamat datang ke gedung putih. konon, menurut gossip dari tetangga sebelah, obama akan napak tilas ke indonesia. ia akan melihat kembali rumah di daerah menteng yang pernah dia tempati. kabar angin lain, rumah ini akan dibeli untuk dijadikan museum. kabar gembira untuk para calo, eh, broker jual-beli rumah. kalau nilai belinya mencapai jutaan dollar, silakan saja dikonversi ke rupiah dan hitung fee nyaloin yang akan diperoleh..

selamat kepada para jemaah haji indonesia yang tadi pagi diberangkatkan menuju jeddah. bagi para blogger, yang tahun ini berangkat, jangan lupa bawa kamera dan netbook untuk merekam semua kegiatan di sana. lah, kok, kayak piknik saja. kadang, terlupakan niat utama berhaji. tertutup oleh keinginan lain. tujuan utama berhaji ya tentu saja untuk meraih haji di padang arafah (serta ritual wajib lainnya). bukan untuk berlama-lama di masjidil haram yang buka 24 jam terus-menerus dan mendapatkan ratusan ribu pahala sholat. atau memaksakan diri mendapatkan arbain di masjid nabawi (tahun kemarin dibuka 24 jam juga). janganlah yang wajib terlewatkan karena mengejar yang sunnah. saling mengingatkan tentu saja lebih baik daripad cuek-cuek-an. buat yang belum berangkat carilah informasi mengenai keadaan cuaca di sana. tahun ini, kabarnya, lebih dingin menggigit. tapi janganlah takut dan berlebih-lebihan dengan membawa jaket atau mantel berlapis-lapis. akhir kata, selamat jalan semoga selamat sejak keluar pintu rumah hingga masuk kembali ke dalam rumah masing-masing. amin.

Senin, 06 Oktober 2008

nikmat tak tergantikan...

== lebaran kalo gak mudik gak asyik mas
++ oh, gitu yah
== iya, gak berasa lebaran
++ jadi kamu ikut mudik?
temen satu itu sebenernya tidak memiliki udik kampung. tapi, demi yang asyik ia pun pulang mudik. memaksakan diri? ikut arus? tak punya pendirian? wah, kok malah menghakimi pemudik, padahal saya kan bukan hakim. pulkam alias pulang kampung alias mudik memang susah buat dicerna dengan otak telanjang. biar kata antre semalaman di terminal atau setapsiun kereta, biar disikut sana dan sini. biar mudiknya pake bajaj sekalipun. atau naik motor dengan anak sebagai pelindung angin. atau duduk di atas gerbong kereta api. yang penting pulang kampung. alias kudu binti mesti bin harus. tradisikah mudik? wah, yah mesti ditanyakan pada para pakar. tapi, mudik bukanlah monopoli bangsa indonesia. di republik rakyat cina saat imlek para penduduknya juga mudik ke kampung halaman. kembali ke tanah air tercinta, mudik jelas tak mungkin dilarang apalagi dibikinkan undang-undang segala. kalo dipikir-pikir dimanakah hubungan idul fitri dengan mudik? misal, setelah menang berpuasa sebagai pelengkap ya mudik dong. atau, kapan lagi cium tangan (sungkem masih ada gak yah? atau sudah kuno?) emak dan bapak. halah saya malah makin bingung. nanti malah salah. yang pasti, buat yang mudik, nikmatnya tak tergantikan. kayak iklan? yah, gitu deh.

Jumat, 26 September 2008

maapin kita lagi yah...

yang sudah bersih janganlah dikotori lagi... taqabalallahu minna waminkum, syiamana wa syiamakum... mohon maaf atas segalah salah dan khilaf, salah posting, salah ejaan, salah tanda baca, salah komentar dan salah-salahan. selamat mudik bagi yang mudik, hati-hati di jalan semoga selamat sejak berangkat hingga kembali ke depan rumah. yang tidak mudik, seperti saya, tengok-tengoklah rumah tetangga, hitung-hitung membantu pak hansip (hare gene masih ada hansip yak?) pak satpam. dan, akhirul kata, sampai jumpa bulan depan. loh? kantor tutup. ngeblog istirahat juga. kalo sempet dari rumah, tapi gak janji loh:D. (ilustrasi, mohon maaf buat penciptanya, di'obrak-abrik' dari sini.

Rabu, 24 September 2008

amazing phenomenon...

perjalanan azan mengelilingi dunia...
Amazing as it sounds, but fortunately for the Muslims of the world, it is an established fact. Have a look at a map of the world and you will find Indonesia on the eastern side of the earth. The major cities of Indonesia are Java, Sumatra, Borneo and Saibil. As soon as dawn breaks on the eastern side of Saibil, at approximately 5:30 am local time, Fajar Azaan begins. Thousands of Muazzins in Indonesia begin reciting the Azaan.

The process advances towards West Indonesia. One and a half hours after the Azaan has been completed in Saibil, it echoes in Jakarta. Sumatra then follows suit and before this auspicious process of calling Azaan ends in Indonesia, it has already begun in Malaysia.

Burma is next in line, and within an hour of its beginning in Jakarta, it reaches Dacca, the capital city of Bangladesh. After Bangladesh, it has already prevailed in western India, from Calcutta to Srinagar. It then advances towards Bombay and the environment of entire India resounds with this proclamation. Srinagar and Sialkot (a city in north Pakistan) have the same timing for Azaan. The time difference between Sialkot, Quetta, and Karachi is forty minutes, and within this time, Fajar Azaan is heard throughout Pakistan. Before it ends there, it has already begun in Afghanistan and Muscat. The time difference between Muscat and Baghdad is one hour. Azaan resounds during this one hour in the environments of Hijaaz-e-Muqaddas (Holy cities of Makkah and Madinah), Yemen, United Arab Emirates, Kuwait and Iraq.

The time difference between Baghdad and Alexandria in Egypt is again one hour. Azaan continues to resound in Syria, Egypt, Somalia and Sudan during this hour. The time difference between eastern and western Turkey is one and a half hours, and during this time it is echoed with the call to prayer. Alexandria and Tripoli (capital of Libya) are located at one hour's difference. The process of calling Azaan thus continues throughout the whole of Africa. Therefore, the proclamation of the Tawheed and Risaalat that had begun in Indonesia reaches the Eastern Shore of the Atlantic Ocean after nine and half hours.

Prior to the Azaan reaching the shores of the Atlantic, the process of Zohar Azaan has already started in east Indonesia, and before it reaches Dacca, Asar Azaan has started. This has hardly reached Jakarta one and half hours later, the time of Maghrib becomes due, and no sooner has Maghrib time reached Sumatra, the time for calling Isha Azaan has commenced in Saibil! When the Muazzins of Indonesia are calling out Fajar Azaan, the African Muazzins are calling the Azaan for Isha.

If we were to ponder over this phenomenon thoughtfully, we would conclude the amazing fact that there is not even a single moment when hundreds of thousands of Muazzins around the world are not reciting the Azaan on the surface of this earth. Even as you read this material right now, you can be sure there are atleast thousands of people who are hearing and reciting the Azaan!!!
dari belahan dunia yang satu tak putus menyambung ke belahan yang lain...

Selasa, 23 September 2008

mau jadi sandal jepit atau sepatu...

hidup adalah pilihan. banyak ditulis jadi status di yahu mesenjer. jadi sticker. di gerobak pemulung. dan, dimana saja.
Disebuah toko sepatu di kawasan perbelanjaan termewah di sebuah kota, nampak di etalase sebuah sepatu dengan anggun diterangi oleh lampu yang indah. Dari tadi dia nampak jumawa dengan posisinya, sesekali dia menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memamerkan kemolekan designnya, haknya yang tinggi dengan warna coklat tua semakin menambah kemolekan yang dimilikinya.

Pada saat jam istirahat, seorang pramuniaga yang akan makan siang meletakkan sepasang sandal jepit tidak jauh dari letak sang sepatu.

"Hai sandal jepit, sial sekali nasib kamu, diciptakan sekali saja dalam bentuk buruk dan tidak menarik,,” sergah sang sepatu dengan nada congkak.

Sandal jepit hanya terdiam dan melemparkan sebuah senyum persahabatan.
"Apa menariknya menjadi sandal jepit? Tidak ada kebanggaan bagi para pemakainya, tidak pernah mendapatkan tempat penyimpanan yang istimewa, dan tidak pernah disesali pada saat hilang, kasihan sekali kamu,” ujar sang sepatu dengan nada yang semakin tinggi dan bertambah sinis.

Sandal jepit menarik nafas panjang, sambil menatap sang sepatu dengan tatapan lembut, dia berkata "Wahai sepatu yang terhormat, mungkin semua orang akan memiliki kebanggaan jika memakai sepatu yang indah dan mewah sepertimu. Mereka akan menyimpannya di tempat yang terjaga, membersihkannya meskipun masih bersih, bahkan sekali-sekali memamerkan kepada sanak keluarga maupun tetangga yang berkunjung ke rumahnya." Sandal jepit berhenti berbicara sejenak dan membiarkan sang sepatu menikmati pujiannya.

"Tetapi sepatu yang terhormat, kamu hanya menemaninya di dalam kesemuan, pergi ke kantor maupun ke undangan-undangan pesta untuk sekadar sebuah kebanggaan. Kamu hanya dipakai sesekali saja. Bedakan dengan aku. Aku siap menemani kemana saja pemakaiku pergi, bahkan aku sangat loyal meski dipakai ke toilet ataupun kamar mandi. Aku memunculkan kerinduan bagi pemakaiku. Setelah dia seharian dalam cengkeraman keindahanmu, maka manusia akan segera merindukanku. Karena apa wahai sepatu? Karena aku memunculkan kenyamanan dan kelonggaran. Aku tidak membutuhkan perhatian dan perawatan yang spesial. Dalam kamus kehidupanku, jika kita ingin membuat orang bahagia maka kita harus menciptakan kenyamanan untuknya,” Sandal jepit berkata dengan antusias dan membiarkan sang sepatu terpana.

"Sepatu! Sahabatku yang terhormat, untuk apa kehebatan kalau sekedar untuk dipamerkan dan menimbulkan efek ketakutan untuk kehilangan. Untuk apa kepandaian dikeluarkan hanya untuk sekedar mendapatkan kekaguman?"

Sepatu mulai tersihir oleh ucapan sandal jepit. "Tapi bukankah menyenangkan jika kita dikagumi banyak orang," jawab sepatu mencoba mencari pembenar atas posisinya.

Sandal jepit tersenyum dengan bijak "Sahabatku! Ditengah kekaguman sesungguhnya kita sedang menciptakan tembok pembeda yang tebal, semakin kita ingin dikagumi maka sesungguhnya kita sedang membangun temboknya."

Dari pintu toko nampak sang pramuniaga tergesa-gesa mengambil sandal jepit karena ingin bersegera mengambil air wudhu. Sambil tersenyum bahagia sandal jepit berbisik kepada sang sepatu "Lihat sahabatku, bahkan untuk berbuat kebaikanpun manusia mengajakku dan meninggalkanmu"

Sepatu menatap kepergian sandal jepit ke mushola dengan penuh kekaguman seraya berbisik perlahan "Terima kasih, engkau telah memberikan pelajaran yang berharga sahabatku, sandal jepit yang terhormat."
moral of the story: simpanlah sendal jepit anda baik-baik ketika ke mesjid. jangan lupa ingat tempat menaruhnya, biar waktu pulang gak ketukar sama sepatu tetangga.

Jumat, 19 September 2008

siapakah oh siapakah...

siapakah saya? sepertinya bagus buat saya untuk sejenak kalo kelamaan sakit leher menengok ke belakang. melihat lagi seperti apakah diri saya. orang lain tentu saja boleh juga menengok sanak saudara yang jarang ditemui...

Siapakah orang yang sibuk?
Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekan waktu sholatnya, seolah-olah ia mempunyai kerajaan sepertikerajaan Nabi Sulaiman A.S. Maka sempatkanlah bagimu untuk beribadah dan bersegeralah!

Siapakah orang yang manis senyumannya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ketika ditimpa musibah, lalu dia berucap "Inna lillahi wainna illaihi rajiuun." Kemudian berkata, "Ya Rabbi, Aku ridho dengan ketentuanMu ini", sambil mengukir senyuman. Maka berbaik hatilah dan bersabar...

Siapakah orang yang kaya?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada, dan tidak lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini. Maka bersyukurlah atas nikmat yang kau terima dan berbagilah.

Siapakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada,selalu menumpuk-numpukkan harta. Maka janganlah kau menjadi kikir juga dengki.

Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan, namun masih berat untuk melakukan ibadah dan amal-amal kebaikan. Maka hargailah waktumu dan bersegeralah.

Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik. Maka peliharalah akhlakmu dari dosa dan noda.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal-amal kebaikan, dimana kuburnya akan diluaskan sejauh mata memandang. Maka beramal shalehlah selagi sempat dan mampu.

Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikan lalu kuburnya menghimpitnya. Maka ingatlah akan kematian dan kehidupan setelah dunia...

Siapakah orang yang mempunyai akal?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni surga kelak, karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka. Maka peliharalah akal sehatmu dan pergunakan semaksimal mungkin untuk mengharap ridho-Nya.

Rabu, 17 September 2008

khusyuk gak khusyuk...

setiap sholat sebisa-bisanya lakukan dengan khusyuk. sebagai hamba yang dhaif saya juga berusaha ke arah itu. malam ini seperti biasa saya melakukan sholat taraweh di masjid dekat kantor. sama seperti malam-malam sebelumnya saya (dan teman-teman sekantor) termasuk 'kodel' alias kelompok delapan rakaat (sholat witir boleh dilaksanakan di rumah atau di kantor). saat sholat isya tak ada yang aneh, semua berjalan lancar.

ketika masuk taraweh, perjalanan menuju khusyuk mulai menemui rintangan. mulai dari imam yang bacaan rakaat pertamanya bukan al qadar. kemudian masuk rakaat kedua setelah dibisiki barulah ia membacanya. tapi di rakaat ke-dua ia membaca qulhu. lagi-lagi sang imam dibisiki agar mengikuti 'protap'. masuk ke-tiga dan seterusnya barulah lancar.


sementara tepat di depan saya, kok ya tidak bisa diam. bapak fulan ini bergerak-gerak selalu. takbir dengan mengangkat tangan setinggi-tingginya. konsentrasi pun menjadi agak buyar. lah, saya ini sebenarnya sholat atau memperhatikan tetangga depan? selesai sampai di situ? tunggu dulu...

pada shaf belakang ada seorang bapak fulan lain yang malahan taraweh sendiri. ia memang satu barisan dengan shaf taraweh. jadi ketika jamaah berdiri ia malah sujud. atau ia mengucapkan salam sementara jamaah baru masuk rakaat kedua. yang lebih lagi, bacaannya lumayan keras dan cukup mengganggu (saya, entah yang lain :d). duh gusti allah. masih di barisan saya ke sebelah kanan, tanpa memalingkan kepala terlihat seorang bocah yang malah asyik sujud dan sujud.

yah, dalam hati gimana saya mau khusyuk? salahkah orang-orang itu? sepertinya tidak. yang salah mungkin saya, bukannya konsentrasi dengan sholat malah asyik melihat-lihat... wallahu alam bi'shawab.

Selasa, 16 September 2008

duapuluhribu pembawa petaka...

...21 orang tewas terinjak-injak dan 13 orang lainnya luka-luka.
seperti ditulis di sini. inna lillahi wa inna ilaihi rajiun... tewas untuk sebuah ke-sia-sia-an? wallahu alam bi'shawab. gusti allah pasti tahu apa yang terbaik untuk mereka. sementara yang hidup enggan lebih pas dikatakan tidak mau belajar dari kejadian sebelumnya yang juga memakan korban. padahal kata pepatah pengalaman adalah guru yang baik.

mengapa sang dermawan tidak mau menyerahkan langsung zakatnya? padahal kata tetangga sebelah, lebih afdhal kalau diserahkan langsung kepada yang berhak. kalau ini yang dijadikan patokan, jelas kemana sampainya uang yang diberikan. kekeliruan mestinya lebih dapat diminimalisasikan. atau serahkan saja kepada
pengelola resmi zakat milik pemerintah. takut tak sampai? atau takut tak ada transparansi? kenapa tidak mampir ke swasta, seperti ini atau ini atau ini.

namun pada akhirnya kembali kepada yang ingin berzakat. sepanjang cara yang dipilih syar'i dan tidak menimbulkan korban hingga tewas, tentunya sah-sah saja.
 

Ganator Blog's Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger