Warung Bebas
Tampilkan postingan dengan label law. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label law. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Februari 2012

hukum adalah hukum tapi di mata hakim...

bisakah atau maukah para hakim berbuat seperti ini?

Cerita ini terjadi di kota New York pada pertengahan 1930an ketika AS mengalami depresi ekonomi. Saat itu hari amat dingin. Di seluruh penjuru kota , orang-orang miskin nyaris kelaparan.

Di suatu ruang sidang pengadilan, seorang hakim duduk menyimak tuntutan terhadap seorang wanita yang dituduh mencuri septong roti. Wanita itu berdalih bahwa anak perempuannya sakit, cucunya kelaparan, dan karena suaminya telah meninggalkan dirinya. Tetap saja penjaga toko yang rotinya dicuri menolak untuk membatalkan tuntutan. Ia memaksa bahwa wanita itu harus dihukum untuk menjadi contoh bagi yang lainnya.

Hakim itu menghela nafasnya. Sebenarnya ia enggan menghakimi wanita ini. Tetapi ia tidak punya pilihan lain. "Maafkan saya," katanya sambil memandang wanita itu. "Saya tidak bisa membuat pengecualian. Hukum adalah hukum, jadi Anda harus dihukum. Saya mendenda kamu sepuluh dolar, dan jika kamu tidak mampu membayarnya maka kamu harus masuk penjara sepuluh hari."

Wanita itu tertunduk, hatinya remuk. Tanpa disadarinya, sang hakim mencopot topinya, mengambil uang sepuluh dolar dari dompetnya, dan meletakkan uang itu dalam topinya.

Ia berkata kepada hadirin: "Saya juga mendenda masing-masing orang yang hadir di ruang sidang ini sebesar lima puluh sen karena tinggal dan hidup di kota ini dan membiarkan seseorang kelaparan sampai harus mencuri untuk menyelamatkan cucunya dari kelaparan. Tuan Bailiff, tolong kumpulkan dendanya dalam topi ini lalu berikan kepada terdakwa."

Akhir cerita, wanita itu meninggalkan ruang sidang sambil mengantongi empatpuluh tujuh dolar dan lima puluh sen, termasuk di dalamnya lima puluh sen yang dibayarkan oleh penjaga toko yang malu karena telah menuntutnya.*

Tepuk tangan meriah dari kumpulan penjahat kecil, polisi New York, dan staf pengadilan yang berada dalam ruangan sidang mengiringi kepergian wanita itu.

Rabu, 24 Februari 2010

macet itu biasa...

PEREMPATAN pancoran. saat lampu lalulintas beroperasi normal saja kadang terjadi kesimpangsiuran arah kendaraan. terlebih lagi saat lampu merah, kuning, hijau itu padam, masing-masing kendaraanpun berlomba menjadi yang paling depan. para pengemudi, baik kendaraan pribadi maupun angkatan umum, bagai tak pernah mengerti peraturan. petugas juga seperti tak mampu mengatasi keaadan. adakalanya pula ketika kemacetan terjadi tak ada seorangpun polantas di situ, padahal jarak ke kantor polisi terhitung hanya sepelemparan batu. aneh, tapi memang demikianlah keadaan di sepotong jakarta bagian selatan.

Selasa, 02 Juni 2009

e-mail anda, harimau anda...

'alamat e-mail-nya apa?', 'nanti saya kirim lewat e-mail aja deh penawarannya', atau, 'ikutan milis dong, biar gak kehilangan kontak'...
sekarang ini, sepertinya, e-mail sudah menjadi bagian dari keseharian kehidupan. semua orang punya alamat e-mail. mulai dari yang gratis-an sampai yang berbayar dengan segala macam kelebihannya. karena mempunyai e-mail, semua-semua penginnya dikirim melalui e-mail. praktis memang bersurat-suratan secara elektronik. apalagi warnet ada hampir di setiap sudut kota ada. belum lagi dengan aneka gadget terbaru yang semakin memudahkan untuk ber-e-mail-e-mail-an.

tetapi dengan diberlakukannya undang-undang republik indonesia nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik atau uuite, segala hal yang berbau informasi dan ditransmisikan secara elektronik tidak lagi bisa semau-maunya atau sekehendak hati kita siarkan.

undang-undang ite ini sudah diberlakukan dan pasal-pasalnya sudah dipakai untuk menjerat ibu dua anak. kasusnya pun menjadi ramai. sudah menjadi buah bibir. perkembangan terakhir, tim sukses salah satu capres ikut menawarkan solusi.

negara kita adalah negara hukum, bukankah begitu?

Selasa, 10 Juli 2007

ngetem, siapa takut...

betul! gambar di sebelah ini adalah pintu keluar terminal depok ke arah kiri. sudah beberapa hari terakhir ini, saya (dan para pengguna angkutan umum) di depok harus menahan rasa marah dan kesal serta menghirup polutan dari knalpot saat akan keluar dari terminal depok. apa pasal?

sederhana saja sebenarnya masalahnya. kendaraan yang masuk lebih dahulu tidak langsung jalan tapi (asyik) ngetem berlama-lama di mulut pintu keluar. sementara kendaraan dari pintu masuk terus melaju. akhirnya terjadi penumpukan, eh, pengantrean. 'emangnya gak ada polantas yang mengatur?'. ya gak lah. padahal kantor polantas itu jaraknya sekitar duaratus meteran dari terminal.

entah apa alasannya tak ada polantas yang berjaga di situ. sebagai gantinya adalah para calo yang meneriakkan tujuan bus atau angkot. selain para calo ada juga petugas dllaj (dinas lalu lintas angkutan dan jalan). tapi yang satu ini bagaikan singa tak bergigi. peluitnya boleh nyaring tapi si sopir tetap cuek ngetem. (atau karena petugas dari dinas ini sering 'mengutip' dari para sopir? tak jelas juga)

beginilah akibatnya bila disiplin tegak bila ada polantas. saat pak polisi tak ada disiplin pun rebah ke tanah. sampai kapan saya dan para komuter lainnya bisa leluasa melewati terminal depok?

Minggu, 08 Juli 2007

dewi, adil mencarimu..

kalau kamu mau jadi orang baik-baik, jangan tanggung-tanggung, jadilah orang alim seperti biksu di wihara. dan, kalau mau jadi orang tidak benar, jadilah bajingan paling hebat jangan tanggung-tanggung.
begitulah kata orang-orang tua china jaman dulu, kalau tidak salah sih.

nah, kalau anda sempat membaca berita kuli panggul dipenjara 8 bulan karena mencuri 10 kilogram bawang merah, sementara korupsi 14 miliar kena 1,5 tahun. bolehlah kita menerka-nerka dimanakah dewi keadilan bersembunyi? atau jangan-jangan sang dewi memang sudah tidak ada.

kembali ke kutipan di atas, secara sederhana itu kan pengin bilang, kalau ingin mengerjakan sesuatu ya jangan setengah-setengah. harus seratus persen. harus jadi. atau tidak sama sekali. atau mending korupsi daripada nyuri bawang, gitukah? tentu saja, saya tidak menganjurkan anda menjadi bajingan. atau, ah, saya juga bingung jadinya...

Senin, 07 Mei 2007

mari bikin gundukan...

barangkali hanya di republik yang kabinetnya baru dirombak ini, kita dapat melakukan seperti terlihat di gambar. bila belum jelas, baiklah saya terangkan: itulah adalah sebuah gundukan yang dibuat tepat di pinggir sebuah trotoar. fungsinya adalah untuk mempermudah pemilik sepeda motor menaikkan dan memarkir tunggangannya di trotoar. akibat dari ini adalah kendaraan roda empat tidak dapat parkir di tepi jalan itu karena terhalang gundukan. dan, gundukan yang berlokasi di daerah tebet barat ini lebih dari satu jumlahnya. padahal tak jauh dari situ ada kantor kecamatan yang para pol-pp-nya kadang memesan tongseng yang berjualan di trotoar itu. ah, ini kan bukan urusan pol-pp. lantas?
 

Ganator Blog's Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger