Warung Bebas
Tampilkan postingan dengan label entertainment. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label entertainment. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 November 2011

real steel, real moments...

sabtu, shaum arafah. pulang ekskul, si bujang wajahnya kusut. belum sempat ditanya, malahan ia yang lebih dahulu angkat bicara:

yah, nonton yuk
nonton apa?
real steel
oh, yang robot petinju itu ya. di mana mas?
platinum margo
jam berapa?

si bujang segera melihat koran, seolah-olah saya akan mengiyakan ajakannya. "yang jam tiga aja yah," katanya sambil melipat koran. saya tengok jam di dinding, hampir setengah dua. hitung-hitung masih punya waktu banyak dari rumah ke bioskop. tapi, saya belum memastikan jadi-tidaknya. saya masih menimbang-nimbang antara pergi atau tidak. kamu gak ada tugas sekolah? kepalanya menggeleng. air mukanya masih sendu.

kalo nontonnya minggu depan aja gimana, usul saya. sabtu depan aku ada acara, ke depan bakal banyak tugas. awal desember udah uts. saya masih menghitung suara tokek: jadi-tidak-jadi-tidak. karena belum ada kepastian, si bujang akhirnya masuk kamar. tidur siang sajalah, pikir saya. sambil berbaring, ibunya si bujang menanyakan, jadi atau tidak. ibunya malah punya usul si bujang nonton berdua saja dengan ibunya, biar saya istirahat di rumah. ngobrol punya ngobrol, akhirnya saya memutuskan untuk menonton.

jarum jam di dinding sudah beranjak ke pukul dua kurang seperempat. ah, masih cukup waktu. saya segera memanggil si bujang untuk mengajaknya pergi. ibunya langsung mengambil keputusan untuk mengambil jalan pintas menghindari macet sekaligus agar tak kehabisan tiket. maklumlah akhir minggu. sementara saya berdua si bujang menempuh jalur biasa, naik angkot.

awal perjalanan lancar-lancar saja. saat memasuki terminal depok barulah kami dihadang kemacetan angkutan yang simpang-siur, antara rebutan penumpang dan ngetem. dipadu dengan asap knalpot dan panas yang mendera, sempurnalah jadinya. setelah berkutat dengan keramaian terminal, akhirnya lolos juga keluar. waktupun makin merayap menuju pukul tiga. khawatir juga telat. tiba-tiba ada sms masuk. ibunya mengabarkan tiket sudah didapat. alhamdulillah. pukul setengah tiga lewat kami tiba.

ini tiketnya tinggal dua, yang lain sudah laku terjual, kata ibunya si bujang. udah gak apa-apa, ayah nonton berdua nanda, ibu nunggu aja. saya dan si bujangpun akhirnya menonton berdua. ternyata memang full house. akan halnya 'real steel' adalah cerita tentang robot petinju dengan setting tahun 2020. lucu, mengharukan, menghibur, selengkapnya bisa dibaca di sini. 

sejatinya bukan film seutuhnya yang saya nikmati. tapi, buat saya pribadi, ada yang jauh lebih berarti: momen-momen kebersamaan dengan si bujang. proses jadi-tidaknya menonton. bagaimana kami berbisik-bisik di bioskop (bagai sepasang kekasih yang sedang pacaran :D) menebak jalan cerita. saling ngecengin manakala salah satu dari kami ternyata salah. momen yang takkan terulang dua kali atau diulangi lagi. berhaha-hihi bersama ketika ada adegan yang menurut kami lucu. atau, istilah khas si bujang yaitu 'epik banget' untuk scene yang menurutnya keren...

waktu berjalan terasa begitu cepat. sejak memakai seragam abu-abu, waktu si bujang banyak yang tersita untuk kegiatan sekolah. hari sabtu dan minggu kadang menjadi urusan sekolah juga. kepak-kepak sayapnya semakin melebar. semakin tinggi pula ia mengangkasa. akhirnya, kami (saya dan ibunya) hanya bisa melaburi dirinya dengan lantunan doa yang tak terputus, agar ia menjadi insan yang berguna bukan hanya untuk keluarganya tapi juga untuk orang banyak, insyaAllah, aamiin ya rabbal allamin...

Senin, 14 Desember 2009

andai aku mati...

andai aku mati
ah, mati tentu bukan berandai-andai
aku pasti mati
juga anda semua
cuma tak tahu waktunya kapan datang
mati, memang, tak perlu ditakuti
siap atau tidak siap dia pasti menjemput
tapi aku bukanlah manusia suci
yang steril dari debu noda dan dosa
masuk surga rasanya tak pantas
tapi aku juga takut panasnya api neraka
ah, semoga rasa sakit fisikku
bisa menjadi kafarat
untuk kehidupan di akhirat
amin...
saya kutip dari seorang pengamen puisi. yah, pengamen di angkot sekarang ini bukan cuma bawa gitar atau biola. ada juga yang membawa gulungan kertas atau buku tulis. nah, pengamen yang satu ini rada sangar. badannya mirip binaragawan. bertato pula. tapi, sikapnya santun. tidak memaksa penumpang agar memberikan uang. dikasih terima kasih. tidak dikasih tak menjadi masalah. dan, satu lagi, janganlah menilai apakah puisinya bernilai sastra atau tidak. nikmati saja apa adanya. jadikan saja itu hiburan di tengah kemacetan.

Kamis, 23 Oktober 2008

mengejar pelangi...

'jangan pernah menyerah,' kata pak ikranegara harfan di sini. ada benarnya juga kata pak harfan. kalo belum-belum sudah menyerah bisa-bisa gak jadi nonton. satu lagi yang perlu ditambahkan adalah niat. ngeliat barisan panjang antrean mirip ular melingkar di atas pagar rasanya 'ilfil'. lah, itu aja yang namanya pintu masuk bioskop masih digembok, antrean sudah memanjang seperti nunggu pembagian sembako :D. saat kunci dibuka, brrr rebutan menuju loket. baris-berbaris lagi. nunggu lagi. antre mulai jam setengah sebelas dapatnya tiket pertunjukan jam setengah tiga. ya, sudahlah masih mendingan daripada nonton jam duapuluhsatu.

bagi mereka yang belum menonton karena sesuatu hal semisal malas antre atau beralasan 'ceritanya tidak akan sama dengan bukunya' sebaiknya memang tidak usah memaksakan diri untuk menonton. lagipula dari 500 halaman bukunya rasanya tidak mungkin di-audio-visual-isasikan menjadi tayangan berdurasi 120 menit-an meski banyak bintang kondang bertaburan di sini.
hanya satu yang menjadi pertanyaan tetangga sebelah: kok ada tora sih? lah, emangnya masuk golongan bintang juga yah :D.

lantas kapan sih mau cerita isi filmnya? berbagai review tentu sudah banyak beredar. mulai dari yang menyanjung sampai yang sebaliknya. secara filmis, gambar-gambarnya oke. mengutip ibunya nanda: ya seperti itulah kehidupan di peleburan timah. akting anak-anak itu terasa wajar, meski ada juga yang masih melongok ke kamera. para bintang di sini menunjukkan cahayanya. dari segi isi, saya melihatnya film ini mempersoalkan pendidikan di negeri yang subur loh jinawi. dan, lebih menukik lagi adalah bahwa kaum tak berpunya juga mempunyai hak untuk memperoleh pendidikan.

pendidikan, urusan siapa ini?

Rabu, 30 April 2008

liburan bareng doraemon...

Doraemon adalah sebuah manga populer yang dikarang Fujiko F. Fujio sejak tahun 1970 dan berkisah tentang kehidupan seorang anak pemalas kelas 4 SD yang bernama Nobi Nobita yang didatangi oleh sebuah robot kucing bernama Doraemon yang datang dari abad ke-22.
lagi jalan-jalan eh ada mobil ditempel-in stiker doraemon. permisi aja sama security-nya numpang motret. tanya sama si bapak, eh, dia gak tahu. yah, iyahlah, kata tetangga sebelah: masak satpam ngurusin doraemon. yang ada dia ngeliatin elo takut dikletek stikernya. halah, gak gitu-gitu amat kale.

ah, yah sutralah, kenapa gak tanya
pakde?

wah, biar kata liburan masih lama. tapi kudu siap-siap nih. semisal menabung buat ngikutin, ah, nonton, halah apa ya istilahnya yang pas, bermain-main di 'tanah impian' si robot kucing. masak pake nabung segala? kudu, kenapa sih jadi betawi, dong. taruh kata ya, satu tiket atawa tanda masuk, reganya seratus rebu, kalo ente pergi sama tiga orang adek, dua keponakan plus satu tetangga total kepala udah enam jiwa. minimal harus ada uang 600 ribu dong, dengan catatan tidak pakai makan dan minum. (apakah anda tega membiarkan adik, keponakan dan tetangga kelaparan? :d).

sesudah saya melakukan survei, kayaknya asyik-asyik maenannya tuh. tapi aman gak sih, maen perosotan setinggi 10 meter. naeknya aja susah. eits, tak usah ragu, tak perlu khawatir. saya pikir, semua mainan di sana bakalan dijaga-in sama para petugas yang tahu bagaimana harus menjaga anak-anak. lagian, kalau mengikuti petunjuk dan mainnya gak macem-macem, bakalannya aman-aman aja deh.

loh, kok kayak promosi, sst, siapa tahu penyelenggaranya baca postingan ini, terus saya dikasih tiket masuk. halah, ada tiket dibalik postingan. :D

Kamis, 29 November 2007

kaset bukan keset...

hare gene masih dengerin kaset...
dulu di masa keemasan kaset, nyantelin walkman ke pinggang rasanya sudah keren abiiisss. kemana-mana dicantelin. pokoknya harus ada tuh barang satu. namun, kini, masa keemasan kaset nampaknya sudah meredup. walkman juga sekarang ada di hape. seiring dengan perkembangan teknologi, yang lagi trend adalah pemutar mp3 sejenis ipod.

namun, kalau anda punya banyak kaset janganlah dibuang atau dijadikan keset. kasihkan saja ke saya yang bersedia menampung. digitalkan saja suara-suara emas yang barangkali punya kenangan tersendiri dalam pita itu. susah?
iyalah :d. tentu tidak sepanjang kita mau belajar. sejak dulusaya pengin bisa memindahkan lagu-lagu di kaset ke harddisk. cari sana, cari sini, cari situ. juga di internet. susah ketemunya. giliran ketemu, kayaknya susah banget mau merealisasikannya. ah, sudahlah saya mengubur keinginan itu.


tapi sejak berkenalan dengan dia keinginan itu menggebu-gebu lagi. karena banyak mper yang meng-upload lagu-lagu dari kaset. untungnya, alhamdulillah, para mper baik hati dan dengan senang hati menjawab pertanyaan saya yang tidak mengerti soal ini. bertanya dengan yang satu malah direkomendasikan ke yang lain. ah, betapa beruntungnya saya :d.

secara sederhana sih, yang diperlukan adalah tape recorder (walkman juga bisa), komputer yang punya line-in alias suara masuk, kabel penghubung dari tape ke komputer dan tentu saja kaset yang mau dipindahkan suaranya. lebih lengkap silakan klik ini. di situ beliau bukan hanya menjelaskan langkah-per-langkah tapi juga menyediakan perangkat lunaknya.

terima kasih buat bapak ini. dan, last but not least, buat ini (pak dirman apa kabarnya mbak?).

Sabtu, 05 Mei 2007

menguber-uber spidey...

janji adalah janji. jadi dia harus ditepati. maka jadilah sabtu kemarin kami mengejar-ngejar spidey setelah ibunya nanda nelepon sana dan sini. alhamdulillah, untungnya satu-nol-delapan kemarin itu punya semua nomor telepon bioskop di depok. mulai detos 21, platinum margo dan plasa 21. dua yang pertama tak dapat dijangkau karena tiketnya sudah habis (padahal pertunjukan juga belum dimulai). harapan terakhir adalah plasa 21. alhamdulillah. masih ada dua pertunjukan terakhir: 18.15 dan 21.00.

menghitung jarak dan waktu yang tersisa, nampaknya yang ba'da magrib dapat dikejar. mulailah perburuan dimulai. selesai ashar dan segala tetek-bengek rampung, kami berangkat. tiba di plasa 21 sekitar jam 17.10 sementara loket baru dibuka setengah enam tapi antreannya sudah sampai pintu masuk (sekitar empat meteran-lah). duh, lemas juga melihatnya.

ibunya nanda mengusulkan 'nagabonar jadi 2' tapi nanda dan saya tidak setuju. ya, sudah sayapun antre. alhamdulillah loket dibuka lebih awal. sampai di depan loket, masih banyak pilihan kursi. nanda memutuskan baris yang akan ditempati. masih agak di atas tapi itu pilihannya dan saya menghormati. karcis sudah di tangan. kami pun bersantap malam dan sholat magrib dulu. selesai semuanya kami kembali ke bioskop dan langsung masuk. tak lama duduk film segera diputar.

tentang apa dan bagaimana jalan ceritanya spidey-3 tak perlu lagi diulas di sini karena sudah banyak review-nya. yang penting kata nanda: lebih bagus dari spidey 1 dan 2. dan, meski malam semakin larut nanda masih mengajak ke toko buku. hasilnya adalah negara kelima dibawa pulang.
 

Ganator Blog's Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger