Warung Bebas

Selasa, 24 April 2012

mau jadi gula pasir atau sirop....

sudah merasa berjasa tapi kok dilupakan. jadi, sakit hati dong rasanya :D padahal, tak perlu kan seperti itu. tak perlulah gembar-gembor atas apa yang dikerjakan. toh, pada akhirnya orang juga akan tahu...
Tak ada yang lebih gusar melebihi makhluk Allah yang bernama gula pasir. Pemanis alami dari olahan tumbuhan tebu ini membandingkan dirinya dengan makhluk sejenisnya yang bernama sirop.

Masalahnya sederhana. Gula pasir merasa kalau selama ini dirinya tidak dihargai manusia. Dimanfaatkan, tapi dilupakan begitu saja. Walau ia sudah mengorbankan diri untuk memaniskan teh panas, tapi manusia tidak menyebut-nyebut dirinya dalam campuran teh dan gula itu. Manusia cuma menyebut, "Ini teh manis." Bukan teh gula. Apalagi teh gula pasir.

Begitu pun ketika gula pasir dicampur dengan kopi panas. Tak ada yang mengatakan campuran itu dengan 'kopi gula pasir'. Melainkan, kopi manis. Hal yang sama ia alami ketika dirinya dicampur berbagai adonan kue dan roti.

Gula pasir merasa kalau dirinya cuma dibutuhkan, tapi kemudian dilupakan. Ia cuma disebut manakala manusia butuh. Setelah itu, tak ada penghargaan sedikit pun. Tak ada yang menghargai pengorbanannya, kesetiaannya, dan perannya yang begitu besar sehingga sesuatu menjadi manis. Berbeda sekali dengan sirop.

Dari segi eksistensi, sirop tidak hilang ketika bercampur. Warnanya masih terlihat. Manusia pun mengatakan, "Ini es sirop." Bukan es manis. Bahkan tidak jarang sebutan diikuti dengan jatidiri yang lebih lengkap, "Es sirop mangga, es sirop lemon, kokopandan, " dan seterusnya.

Gula pasir pun akhirnya bilang ke sirop, "Andai aku seperti kamu."

**

Sosok gula pasir dan sirop merupakan pelajaran tersendiri buat mereka yang giat berbuat banyak untuk umat. Sadar atau tidak, kadang ada keinginan untuk diakui, dihargai, bahkan disebut-sebut namanya sebagai yang paling berjasa. Persis seperti yang disuarakan gula pasir.

Kalau saja gula pasir paham bahwa sebuah kebaikan kian bermutu ketika tetap tersembunyi. Kalau saja gula pasir sadar bahwa setinggi apa pun sirop dihargai, toh asalnya juga dari gula pasir. Kalau saja para pegiat kebaikan memahami kekeliruan gula pasir, tidak akan ada ungkapan, "Andai aku seperti sirop!" (MN/Eramuslim)

Kamis, 05 April 2012

minta tempe jadilah tempe...

kita sering memaksa gusti Allah untuk memberikan apa yang menurut kita paling cocok. ketika permintaan kita tidak dikabulkan, kitapun kecewa berat. galau. padahal hanya gusti Allah yang paling tahu apa yang kita butuhkan...
Di Karangayu, Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu penjual tempe. Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang.”Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya…” demikian dia selalu memaknai hidupnya.

Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe, dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh. Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang, sebagian berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian.

Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti tidak akan mendapatkan uang untuk makan dan modal membeli kedelai yang akan dia olah kembali menjadi tempe.

Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. “Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku…”

Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya. Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe. Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung. Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe.

Dan… dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacangnya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia yakin, Allah pasti sedang “memproses” doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi. Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi. Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau maha tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah. Bantulah aku, kabulkan doaku…

Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe. Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan… belum jadi. Kacang itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang tersebut. Keajaiban Tuhan akan datang… pasti, yakinnya.

Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, “tangan” Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa… berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya.

Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu. “Pasti sekarang telah jadi tempe!” batinnya.

Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan… dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi. Kecewa, air mata menitik di keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi? Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk.

Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu.

Dan dia tiba-tiba merasa lapar…merasa sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku,

batinnya. Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan… esok dia pun tak akan dapat makan.

Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan “teman-temannya” sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak.

Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat…

Tiba-tiba sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya. Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya? Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat.

Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menengadahkan tangan. Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe…

Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe…

Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi? tanya perempuan itu lagi. Kepanikan melandanya lagi. “Duh Gusti… bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?” ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, pembaca?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi!

“Alhamdulillah!” pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli. Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. “Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?”

Ooh, bukan begitu, Bu. Anak saya yang kuliah di Australia ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Oh ya, jadi semuanya berapa, Bu?

Kisah yang biasa bukan, dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa dan “memaksakan” Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita. Dan, jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa. Padahal Allah paling tahu apa yang paling cocok untuk kita. Bahwa semua rencananya adalah sangat sempurna.

Kisah sederhana yang menarik, karena seringkali kita pun mengalami hal yang serupa. Di saat kita tidak memahami ada hikmah di balik semua skenario yang Allah SWT takdirkan.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah 216)

Jumat, 16 Maret 2012

naik-naik ke pohon...

siswa-siswa ini kok tidak belajar. lagi jam istirahat kok makanya mereka bermain-main di luar. kebetulan di halaman ada pohon cherry. tiga anak kelas 3 sd di depok inipun seakan berlomba memanjat pohon cherry untuk memetik buahnya. berbahaya? tentu saja. kalau sudah tahu begitu kok malah dilakukan. mengapa mereka tidak main di halaman sekolah?

ternyata, sekolah murid-murid ini sedang direnovasi. untuk sementara siswa-siswi kelas 1 sampai kelas 3 dipindahkan ke sebuah gedung yang difungsikan sebagai sekolah. jadi, janganlah heran kalau bangunan itu tidak mempunyai tempat bermain. sebagai gantinya mereka panjat-memanjat pohon. sementara mereka yang duduk di kelas 4 sampai kelas 6 dititipkan di sebuah SD negeri terdekat.

sejatinya mereka sudah dapat menempati gedung yang baru, tapi -- menurut rumor -- akibat ulah oknum pemborong yang memboyong dana pembangunan untuk dirinya sendiri, renovasipun terhenti. pihak sekolah angkat tangan dan menyerahkan kepada para orang tua bila ingin berunjuk rasa. lepas tangan? entahlah. yang pasti suasana belajar tidaklah senyaman di sekolah yang sebenarnya. bayangkan juga siswa-siswi kelas 6 yang akan ujian nasional. dan, perpindahan sementara ini juga membebani para orang tua karena mereka harus mengeluarkan biaya tambahan untuk transportasi...

Senin, 12 Maret 2012

bumi subur, laut kaya, otak padang pasir...

kita berdiri di bumi subur, dan laut kaya, tapi otak kita di padang pasir... beberapa kali, gerson poyk menyebutkan kalimat itu. apa artinya? kita terasing di negeri sendiri!

kenalkah anda dengan nama itu? coba tanyakan pada putera-puteri, teman anda atau diri anda sendiri. barangkali ada yang mengetahuinya. atau, jangan-jangan lebih banyak yang tidak mengenalnya. tidaklah heran bila demikian adanya. sekarang memang bukan eranya gerson poyk mirip nama ceko atau swedia?:D dulu sayapun berpikir beliau adalah penulis bule lagi. boleh jadi di mancanegara nama gerson poyk lebih berkibar.

siapakah gerson poyk yang merupakan salah satu pencetus 'manikebu'? ia dilahirkan di pulau rote, nusa tenggara timur, 16 Juni 1931, tidak jauh dari mercusuar kecil dekat pelabuhan. pernah mengabdi sebagai guru kemudian ia beralih menjadi wartawan sinar harapan 1963-1970. selepas menjalani karir sebagai wartawan, poyk menjadi penulis full time hingga kini. sampai sekarang? ya, sampai sekarang, buku terakhirnya adalah 'keliling indonesia, dari era bung karno sampai sby'. selain itu, poyk adalah peserta angkatan pertama dari Indonesia pada international writing program di iowa university, amerika serikat. hadiah adinegoro didapatnya dua kali pada 1985 dan 1986, dan sea write award diperoleh 1989.

sabtu kemarin, di tengah siraman hujan gerimis yang berangsur mengecil dan membesar lagi, saya beserta istri berkesempatan bertemu dengan gerson. sejatinya rumahnya mudah ditemukan tapi karena catatan alamat ketinggalan, jadilah kami bagaikan orang asing di tanah depok. jalan rumah gerson yang seharusnya bernama haji miun, kami tanyakan jadi haji muin. ada yang memberitahukan, alhamdulillah, dan semakin mendekati lokasi. bahkan, rumahnya sempat kami lewati. ketika kami bertanya dengan seorang bapak: oh pak gerson, itu rumahnya udah kelewatan.

sederhana. inilah kesan pertama ketika melihat rumah penerima penghargaan 'life time award' dari kompas. di sudut kanan halaman (bagai tak terurus) terserak bambu kuning yang baru ditebang. "saya tebang karena tumbuhnya merusak tembok tetangga," ujar gerson. sebuah meja dari akar pohon menjadi penghias utama yang ditemani kursi tamu a la kadarnya.

ruang tamunya juga sangat sederhana. sofa yang sudah lama belum berganti baju serta meja kayu menemani kami berbincang-bincang. "maaf ya saya sambil merokok," katanya mengawali pembicaraan sambil menyalakan rokok kreteknya. opa berusia 81 tahun ini kelihatannya perokok berat. habis satu batang, jeda sebentar disambung lagi dengan batang rokok yang baru. meski, kelihatannya, pendengarannya agak terganggu pembicaraan kami berjalan dengan lancar.

apa kegiatan gerson sehari-hari? "saya baru menulis tiga cerita pendek untuk mengasapi dapur," katanya sambil tersenyum. sampai sekarang ia memang masih selalu menulis dengan laptop. ia juga sedang merampungkan sebuah esei mengenai terorisme. selain menulis, gerson juga aktif berkebun. penyakit asam urat tidak mengurangi kegiatan berkebunnya. biasanya ia bersepeda menuju kebunnya yang disebutkan dekat sebuah situ di daerah raden saleh, depok. sayang karena hujan kami tak sempat bertandang ke kebunnya. "sekarang sedang panen pepaya california," ujarnya lagi. tak terasa hampir dua jam kami habiskan waktu untuk berbincang-bincang dengan penulis yang kondang di jamannya ini. oh, ya, gerson poyk kini juga mengelola yayasan trimedia yang menyelenggarakan sanggar creative writing dan jurnalistik serta menerbitkan karya-karya sastra.

adakah yang berminat menimba ilmu dari gerson? jangan ragu, kelihatan ia tak pelit untuk berbagi ilmu. mau menulis cerpen atau membuat puisi 'yang lahir dari hati', mengapa tidak berguru kepada sastrawan yang seangkatan dengan satyagraha hoerip ini.

Minggu, 11 Maret 2012

Bonek


Bondo Nekat. Itu julukan yang melekat di benak masyarakat. Ya! Sekelompok suporter salah satu klub sepakbola ternama yang berkostum utama hijau-hijau itu memang sudah sangat terkenal ke seluruh negeri.

Asal-muasal nama bonek itu adalah karena mereka memang benar-benar bondo nekat alias bermodal nekat saja. Berangkat ke stadion tanpa harus merogoh kocek, tanpa harus membayar tiket, yang penting masuk terus mendukung tim kesayangan yang tak lain tak bukan adalah tim bajul ijo.

Dimanapun tim bajul ijo bertanding mereka dengan sukarela dan memang bondo nekat saja untuk harus hadir di sisi lapangan, apapun dan bagaimanapun caranya! Semangat mereka patut diacungi jempol untuk setia dan selalu menonton dan mendukung tim kebanggaan.

Angkernya nama bonek menjadi tameng rasa percaya diri berlebih bagi pemuda-pemuda yang ingin menyalurkan hasrat mendukung tim kebanggaan. Apapun akan mereka lakukan demi melihat tim kebanggaan mereka bertanding.

Bangganya bukan main kalau mereka bisa berangkat dengan menumpang kendaraan bak terbuka yang mereka hadang di tengah jalan. Berkostum hijau-hijau dan beratribut tim sepakbola yang logonya terpampang di dada mereka. Keinginan mereka linier dengan julukan mereka, selalu ingin gratis, gak mbondo! Masuk stadion tanpa bayar. Keren bagi mereka, pengalaman yang mengasyikkan.

Di sisi lain, bagi warga masyarakat yang melihat tindak-tanduk para bonek jarang menemui satu hal yang sama. Masyarakat kebanyakan tidak suka dengan para bonek yang identik dengan kekerasan... Masyarakat terlanjur antipati.

Gesekan sedikit saja bisa menciptakan gejolak luar biasa. Tawuran, penjarahan dan perkelahian massal tidak jarang menjadi headline berita saat tim bajul ijo bertanding. Sudah nggak kaget lagi.

Rasanya trenyuh dan prihatin melihat beberapa orang bonek harus tewas dalam rangka mendukung tim yang seharusnya mereka dukung dengan penuh sportivitas dan kesantunan.

Kapan bonek menjadi santun?

NB: Tapi nggak semua bonek seperti itu. Hanya oknum kok..... Tapi oknumnya banyak.

Minggu, 26 Februari 2012

rokok berbahaya, itu kan cuma mitos...

ibarat berkoar-koar di padang pasir. begitulah kalau kita berteriak kepada para perokok untuk menghentikan kebiasaannya merokok. ada yang berhenti, ada juga yang menjadi generasi penerus seperti di gambar sebelah...

peringatan di bungkus rokok yang sejatinya merusak desain itu :D tak pernah diambil pusing. ah, itu kan hanya sekadar kumpulan kata. atau, barangkali, perlu mengikuti yang di manca negara, seperti di brazil, yang langsung memperlihatkan dampak yang ditimbulkan.

begitu pula dengan peringatan di ruang-ruang publik yang nyata-nyata melarang orang untuk merokok bagaikan angin lalu. di angkutan umum? sama saja. siapa yang berani menegur atau melarang pak pengemudi dan kondektur untuk mematikan rokoknya? alih-alih dimatikan bisa-bisa sang penumpang diminta turun. begitu pula kalau kita menegur penumpang sama saja. meski ada juga yang langsung mematikan rokoknya ketika ditegur. anehnya, dan, nyatanya, justru mereka yang muda usia yang ditegur baik-baik malah jadi sungkan. sementara yang lebih tua atau tuaan malahan marah-marah kalau ditegur.

bagi kebanyakan orang indonesia, bahaya merokok boleh jadi terdengar seperti mitos belaka: "si fulan sudah bertahun-tahun merokok malah sehat-sehat saja" atau "merokok atau tidak, kita pasti mati juga". semua peringatan akan bahaya merokok akhirnya tenggelam oleh pesan-pesan yang lebih gencar dan dibungkus sedemikian menariknya di berbagai media. mereka meneriakkan: kesan jantan, gaul, modern dan lain sebagainya.

bagaimana dengan pemerintah? cukai rokok merupakan salah satu pemasukan bagi negara. membangun dengan asap rokok?. meski ada kementerian kesehatan yang berurusan dengan rokok, ada juga perwakilan rakyat yang membuat undang-undang tentang rokok. semua seakan tidak ada artinya. di pihak lain ada  aliansi masyarakat tembakau indonesia yang memosisikan diri:
sebagai suatu wadah perjuangan bagi petani tembakau, cengkeh, pekerja, konsumen, peritel, asosiasi, maupun pabrikan rokok dalam rangka melestarikan industri tembakau Indonesia yang berkualitas
dan, ada juga masyarakat peduli kesehatan akibat dampak rokok yang mempunyai misi:
Menjadikan masyarakat Indonesia terbebas dari resiko akibat dampak negatif dari rokok. 
entah sampai kapan, tarik-menarik kepentingan ini terus berlangsung. atau ingin menunggu seperti non smoking area itu? wallahualam bi'shawab...

Rabu, 22 Februari 2012

made in england, loh...

GAK nasionalis? usahlah kita langsung melabeli sesuatu dengan cara spontan. ini kan hanya urusan sebilah besi bermotif tikar berwarna kuning di jalan margonda-depok. lazimnya benda itu disebut 'polisi tidur'. barangkali yang membuat ia disebut tidak nasionalis adalah tulisan 'made in england' pada tubuhnya. impor dong? tentu saja, harganya pun hanya rp 50 juta per buah (atau per keping ya?)

mengapa sih harus impor? kok ya untuk urusan polisi tidur kita harus membuang-buang devisa. apakah kita tidak mampu membuatnya? kita kan sudah mampu membuat kapal terbang. mobil nasionalpun kita pernah memiliki, meski buatan korea. biar lebih mudah dan tidak mengganggu kendaraan yang lewat, semisal harus dicor seperti di jalan-jalan perumahan? 

katakanlah demikian adanya. kok ya tetap aneh ada polisi tidur di jalan raya alias jalan utama. sejatinya ada keputusan menteri perhubungan nomor 3 tahun 1994 mengenai pembuatan polisi tidur, yang salah satunya adalah "polisi tidur ditempatkan pada jalan di lingkungan pemukiman".

siapakah yang harus bertanggung jawab? pemkot depok atau dinas perhubungan pemkot depok?
 

Ganator Blog's Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger