Warung Bebas

Jumat, 22 September 2006

taksi versus nasi goreng...

©dibuangsayang-nasgorhampir di bagian manapun di jakarta kita dapat menemukan penjual nasi goreng. salah satunya ada di pasar minggu di seberang stasiun ka. nas-gor yang saya langgani sejak membujang ini sudah lebih dari tiga kali berpindah-pindah tempat. tapi tetap di seputaran stasiun. ciri khas yang membedakan dengan nas-gor lain adalah lampu neon hijau. dan, satu lagi yang oke adalah 'nas-gor peteuy'nya. hanya saja akhir-akhir buah beraroma khas itu jarang ada: "harganya udah mahal sih," ujar si mas.

kemarin malam sepulang dari kantor, sambil menunggu kemacetan agak reda, saya mampir makan malam. kebetulan malam itu sepi pembeli. pesananpun cepat jadi. sedang saya makan datang seorang supir taksi. saat makan kami diam-diam-an saja. asyik dengan nas-gor masing-masing. ketika si bapak selesai, saya masih menghabiskan suapan-suapan terakhir.

tahu-tahu si bapak membuka percakapan dengan logat betawi: "dari pagi narik setengah target blom dapet saya." (target adalah sejumlah uang yang harus disetorkan yang dari jumlahnya pengemudi akan mendapatkan persentase penghasilan). "blom sampe tiga ratus ya pak? tegas saya. (target yang harus dipenuhi hampir enamratusribu rupiah). "iya pak," katanya. padahal jarum jam sudah mengarah ke pukul sembilan. tak banyak lagi waktu yang tersisa baginya. "narik sekarang susah pak. banyakan mobilnya ama penumpang." dan, setelah bercerita si bapak pamit.

seperginya si bapak. saya ngobrol dengan pak de nas-gor. "sampeyan sudah dapat berapa?" tanya saya. "sudah belanja segala ya duaratusan sih ada," katanya. dalam waktu sekitar tiga jam-an (biasanya lepas magrib ia baru siap berjualan), pak de sudah dapat uang sebanyak itu, sementara si bapak taksi keluar dari pool-nya paling tidak lepas subuh. artinya dia sudah di jalan tidak kurang dari 15 jam.

kalau dipikir selintas, lebih enak jadi tukang nas-gor daripada keliling kota kayak pak supir ya. benarkah demikian? selintasan memang demikian. "dagang sekarang nggak kayak dulu," katanya. "banyakan sepinya daripada ramenya," sambungnya lagi. kadang saat saya melintas diatas pukul duapuluhtiga, lampu hijau pak de masih menyala terang. jadi enak yang manakah?

0 komentar em “taksi versus nasi goreng...”

Posting Komentar

 

Ganator Blog's Copyright © 2012 Fast Loading -- Powered by Blogger